Hari itu sopir kami sakit dan pemberitahuannya yang mendadak membuat saya kacau sekali. Ini artinya, pagi hari itu saya harus mengantar anak-anak sekolah sendiri, harus mencuci mobilsendiri, harus menyetir sendiri, menembus kemacetan sendiri, mencari tempat parkir sendiri....Duh Gusti di pagi itu saya gundah sekali.
Kegundahan pertama karenasaya bukan pengemudi yang terampil. Melihat lalu lalang kendaraan di jalanan, disalip dari kanan dan kiri, dan menghadapi keganasan jalan raya, bukanlah bakat saya. Saya bisa mengetik bejam-jam di depan komputer tetapi untuk terengah-engah dengan keringat dingin berleleran cukup hanya dengan waktu setengah jam menyetir sendiri di jalanan. Hari itu, saya menghadapi ujian berat.
Maka ketika mobil hendaksaya keluarkan dari garasi, dengan kantuk semalaman masih jelas tersisa, dengan bayangan jalan raya yang penuh keganasan, sejuta penderitaan sudahmembayang. Kemarahan saya terhadap beban ini membuat saya bersiap untuk marah kepada apa saja. Kepada istri yang rasanya terlalu lambat berkemas-kemas, kepada anak-anak bersepeda yang tahu saya hendakmemundurkan mobil tetapi malah menghalangi jalan dengan begitu santainya. Terakhir saya marah luar biasa kepada sopir kami, yang meksipun ia sopir setia, tetapi kenapa harus sakit salah waktu. Sakit ya sakit, tetapi kenapa harus hari Senin, hari ketika saya sangat tidak siap untuk mengerjakan ini semua.
Sepagi itu, kemarahan sudah nyaris mengepul di kepala. Belum lagi jika saya bayangkan, sehabis tugas mendadak ini rampung, berarti ada tugas rutin yang terpaksa molor waktunya. Jika tugas rutin itu molor, maka pertemuan dengan kolega itu akan berubah pula agendanya. Jika agenda itu berubah, maka soal-soal yang sudah rapi tertata harus di bongkar ulang. Repotnya sungguh tak terbayangkan.
Tetapi ketika kemarahan itu hendak memuncak bahkan sebelum saya benar-benarmengerjakan seluruh kerepotan itu, sayamelihat anak-anak saya yangsepagi itu telah rapi dengan seragamsekolahnya, dengan bekal makan minum, dan kesigapan menyambut tugas. Astaga! Betapa lama saya tidak mengantar mereka ke sekolah, tugas yang sebelum sopir kami ada, selalu menjadi tugas saya. Betapa tiba-tiba saya teringat tentang pagi-lagi ketika kami selalu berada di jalanan bersama-sama. Melepas mereka ke sekolah, berdada-dada dari kejauhan dan menatap anak-anak dengan perasaan bangga, khawatir dan gentar.
Bangga, karena kami dianuegarhi putra-putri yang sehat lahir-batin. Saya danistri bukanlah pasangan yang sempurna. Penuh cacat dan kesalahan, brengsek dan sering tidakbemrutu. Tetapi bahwa dari pasangan yang tidak bermutuseperti kami, Tuhan tetap menganugerahkan anak-anak yang baik membuat kami tersipu danterharu.
Melihat anak-anak dari kejauhan dengan tas sekolah di punggungnya, adalah juga melihat kekhawatiran jika kelak kami tidaksanggup membimbingnya ke arah yang semestinya. Betapa anak-anaktidak cuma membutuhkan arah yang jelas, tetapi juga keteladanan dan nasib baik. Sanggupkah kami memberi arah yang jelas, sementara untuk mempertegas arah kami sendiri saja masih begini repotnya. Sanggupkah kami memberi keteladanan jika kami sendiri masih tergoda oleh banyaksekali keburukan.
Ketiga adalah perasaan gentar itu, karena untuk apa kami punya arah yang jelas, punya keteladanan, jika tanpa nasib baik. Seidealapapun keluarga Anda, Anda tidak bisa mencegah ancaman gempa bumi yang bisa membuat seluruh kampung kita porak poranda dan risiko perang nuklir yang mengancam kita kehilangan orang-orang tercinta. Aduh… aduh…sepagi itu, imajinasi sayasudah merayap ke mana-mana. Sehingga tanpa sadar, anak-anak itu sudahsaya kepas masuk ke kelas-kelas mereka dan di mobil tinggal saya berdua dengan sitri tercinta, mirip ketika dulu kami sedang pacaran saja.
Gara-gara sopir sakit,saya kembali menemukan keindahan-keindahan lama yang nyaristerlupa. Maka kenapa harus takut kerepotan mendadak seperti ini, jika ia ternyata adalah pintu-pintu untuk menemukan kembali kebahagiaan yang hilang.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
|
 |
Buah Sengsara
|
 |
Buah Pisang Yang Hilang
|
 |
Lampor Kerinduan
|
 |
Persainganku Dengan Bae Young Jun
|
 |
Lidah Simon Cowell
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Komunikasi Berdasarkan Golongan Darah
(Artikel Tetap) -
Senin, 18 Desember 2006
|
 |
Hujan
(Artikel Tetap) -
Minggu, 21 Januari 2007
|
 |
Hukum Newton Ketiga
(Artikel Tetap) -
Kamis, 08 Februari 2007
|
 |
Thanks God, It's Friday
(Artikel Tetap) -
Selasa, 08 Mei 2007
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-13
(Artikel Tetap) -
Kamis, 10 Mei 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Manusia Pribadi Yang Unik
(Artikel Tetap) -
Jumat, 18 Mei 2007
|
 |
Self-reflection
(Artikel Tetap) -
Selasa, 08 Mei 2007
|
 |
Berpikir Lateral (2)
(Artikel Tetap) -
Senin, 07 Mei 2007
|
 |
Kalajengking
(Artikel Tetap) -
Jumat, 04 Mei 2007
|
 |
Life Beyond Reasons
(Artikel Tetap) -
Kamis, 03 Mei 2007
|
|
|