Beberapa hari terakhir ini, kembali terlintas di pikiran saya sebuah pesan yang pernah diberikan oleh almarhum kakek saya, sekitar limabelas tahun lalu. Kebetulan saat ini saya sedang menulis buku saya yang ke-enam, yang rencananya akan diterbitkan dalam waktu dekat, masih dalam rangka menggali budaya dan kearifan-kearifan Jawa. Dan ketika saya harus menggali bahan-bahan, buku-buku, saya kembali menemukan sepenggal bagian dari tembang Mijil yang membuat saya merenung begitu dalam. Jabaran dari tembang Mijil ini-lah yang menjadi salah satu pesan kakek saya ketika itu. Sebuah deretan kalimat yang sama, yang digagas dan direnungi dalam beda kurun waktu limabelas tahun, saat ini saya melihat pesan itu menjadi sebuah nasehat yang begitu dalam maknanya.
Tiga bait pertama dalam tembang tersebut, yang berbunyi :
Dedalane Guna lawan Sekti
Kudu Andhap Asor
Wani Ngalah Dhuwur (Luhur) Wekasane
Ketika pertama kali pesan itu disampaikan kepada saya beserta penjelasannya waktu itu, sungguh saya hanya mendengar itu tak lebih dari sebuah kata-kata simbol yang mungkin hanya bersifat klasik. Tapi saat ini ketika saya merenungi kembali kata-kata itu. Walaupun dengan pengungkapan yang berbeda, saya merasakan bahwa ungkapan bait-bait ini mirip sekali dengan semangat kebiasaan Menang-menang yang dikemukakan Stephen Covey dibukunya 7 Habits of Highly Effective People.
Tembang itu diawali dengan bait pembuka Dedalane Guna Klawan Sekti. Semacam prolog yang mengajak siapa pun yang mendengar, untuk menyimak apa yang akan diperdengarkan berikutnya. Secara harfiah makna kata itu adalah sebuah persuasi akan jalan untuk menjadi manusia yang berguna dan memiliki kompetensi tinggi. Hal ini juga luar biasa. Mengapa point-nya memilih menjadi manusia ‘berguna’ dan ‘berkompetensi tinggi’. Dua hal yang saling melengkapi. Niat untuk berguna tanpa kompetensi, mungkin tidak begitu banyak memberi manfaat bagi komunitas. Dan memiliki kompetensi tapi tidak mau untuk memberi manfaat kepada orang sekitarnya, juga justru akan memberi beban orang lain.
Semakin menarik pada bait kedua, yang justru mengisyaratkan, pertama kali yang harus dilakukan agar berguna dan memiliki kompetensi adalah Kudu Andhap Asor. Harus ‘andhap asor’. Dalam terminologi Jawa, istilah andhap asor dimaknai dengan sikap rendah diri, tidak sombong, selalu membuka hati dan pikiran kepada sesuatu yang baru, boleh saja menganggap apa yang dipegang adalah sesuatu yang benar, tapi ‘andhap asor’ memberi pengertian kepada kita bahwa tidak seharusnya manusia menganggap dirinya yang paling benar, sehingga selalu melihat pendapat yang berbeda dengannya adalah sesuatu yang salah. Saya merasakan semangat ini sama seperti konsep abundance mentality yang dikemukakan stephen Covey. Bahwa masih banyak kemungkinan di luar sana, dibanding apa saja yang saat ini dikepala kita.
Bila anda pernah baca bukunya Covey, bahwa abundance mentality, adalah salah satu mentalitas yang mendasari agar seseorang bisa berkebiasaan Menang-menang. Nah, bait Mijil berikutnya adalah Wani Ngalah Dhuwur (Luhur) Wekasane. Berani mengalah memberikan hasil akhir terbaik. Kata-kata ini sungguh menarik, bahwa untuk mengalah justru butuh keberanian.
Kita selama ini sepertinya sepakat bahwa untuk menjadi pemenang, artinya haruslah mengalahkan orang lain. Tapi seolah bait tembang ini justru membalikkan paradigma, bahwa untuk menang tidak harus dengan cara mengalahkan orang lain. Kemenangan justru bisa dicapai dengan cara memberi kemenangan kepada orang lain. Sesuatu hal yang butuh keberanian. Itulah mungkin kenapa ungkapannya ‘berani mengalah’. Seperti semangat win/win solution. Menang dengan cara tidak dengan mengalahkan, tapi berupaya agar orang lain juga menang!
Tak henti-hentinya saya harus kagum pada pembuat tembang Mijil ini. Semakin kagum ketika mencoba menggagas mengapa tembang ini diberi judul Mijil. Yang berarti muncul, dari tak ada menjadi ada. Seperti sebuah harapan ketika kita meresapi tembang ini, agar kita mampu untuk berubah menjadi orang yang baru,.. yang berguna dan berkompeten..
11 September 2008
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Pitoyo Amrih ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Buanglah Sampah Pada Tempatnya
|
 |
Antara Anugrah Dan Bencana
|
 |
Kecanduan Akan Minyak
|
 |
Orangtua Harus Belajar (bag 2)
|
 |
When Enough is Enough
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Kesuksesan Sama Dengan Ukuran Seberapa Besar Anda Menguntungkan
(Artikel Tetap) -
Senin, 15 September 2008
|
 |
Passion Adalah Bahan Bakar Bagi Pencapaian Puncak Prestasi
(Artikel Tetap) -
Selasa, 16 September 2008
|
 |
The Pianist In The Shopping Mall
(Artikel Tetap) -
Rabu, 17 September 2008
|
 |
Maka, Bergaullah
(Artikel Tetap) -
Kamis, 18 September 2008
|
 |
Walking Alone
(Artikel Tetap) -
Jumat, 19 September 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Six Direction Of Honour
(Artikel Tetap) -
Jumat, 12 September 2008
|
 |
Tingkatkan Kualitas Pelayanan Pribadi Anda
(Artikel Tetap) -
Kamis, 11 September 2008
|
 |
Sikap Dan Pola Pikir Yang Positif
(Artikel Tetap) -
Rabu, 10 September 2008
|
 |
Jangan Percaya Modal Dengkul
(Artikel Tetap) -
Selasa, 09 September 2008
|
 |
Narsis Itu Perlu
(Artikel Tetap) -
Selasa, 09 September 2008
|
|
|