Saya
teringat sebuah anekdot tentang seorang yang memesan nasi sop ayam di
sebuah restauran. Beberapa saat setelah pesanannya diantar, sang tamu
memanggil pelayan.
"Tolong coba rasa sop ini."Pelayan
melihat ke permukaan mangkok sop untuk mencari apakah ada lalat atau
serangga lain yang berenang di sana. Tidak seekorpun yang dia temukan.
"Pak, tidak ada serangga apa-apa di sop Bapak"
"Tolong coba rasa sop ini."
"Tapi tak ada yang aneh dengan sop itu, Pak"
"Tolong coba rasa sop ini." untuk ke tiga kalinya si tamu meminta si pelayan mencoba rasa sopnya.
Karena
penasaran ingin tahu ada kesalahan apa dan karena memang tidak ingin
melanjutkan pertengkaran, maka si pelayan maju lebih dekat ke meja.
Saat itu dia tidak melihat ada satu sendokpun di meja si Bapak.
"Saya tidak bisa mencobanya Pak, tidak ada sendoknya."
"Ya, itu yang saya mau bilang. Bagaimana saya bisa makan sop ini kalau tidak ada sendok."
Itulah
gambaran dari semua pegawai perusahaan. Tidak peduli apakah dia sekedar
pelayan, staff, pemimpin, bahkan pemilik usaha sekalipun. Seringkali
tidak peka pada keluhan pelanggan. Seorang
pelanggan yang dengan baik hati tidak langsung marah dan mengomel,
kadangkala malah mengajak pegawai perusahaan untuk ikut merasakan
kualitas produk atau layanan yang disediakan oleh perusahaan tersebut. Saat
pelanggan atau konsumen melakukan hal tersebut, hebatnya, pegawai
perusahaan sudah dengan serta merta menyadari bahwa ada yang salah
dengan produk atau layanan mereka. Namun, sayang sekali, kita tidak
berhasil menemukan kesalahan tersebut dengan cepat.Ada
sebuah tulisan yang membahas tentang "manajemen gaya penjaga toilet"
(maaf).
Di beberapa tempat di pintu toilet seringkali ada orang yang
duduk dan menjaga, ketika kita akan masuk atau saat keluar kita
diwajibkan membayar dengan jumlah tertentu. Kadangkala
tidak begitu jelas apakah kita membayar untuk jasa pembersihan toilet,
atau sekedar memberi uang kepada si penjaga agar dia dapat membeli
makanan.
Mengapa demikian? Karena kadangkala, walaupun sudah membayar,
toilet itu tetap saja tidak bersih, bahkan mengeluarkan bau yang sangat
tidak sedap.Nah,
manajemen gaya penjaga toilet yang dimaksud adalah ketika kita sadari
bahwa toilet tersebut berbau, kita akan mengeluhkan kondisi itu kepada
si penjaga toilet. Jawaban paling sering yang akan kita dapatkan; "tidak kok, tidak bau".Luar biasa!Apakah dia tidak menyadari bau yang keluar dari toilet? Mungkin
pertama kali bau itu keluar, dia tahu. Tetapi karena tidak langsung
dibersihkan maka bau tersebut tetap ada. Kemudian dia berusaha untuk
menerima keadaan toilet yang berbau itu.
Ya, apa mau dikata, dia toh
butuh uang dan uang tidak akan datang kalau dia tidak duduk menjagai
pintu toilet.Lama-lama
dia bahkan tidak sadar bahwa toilet itu sangat berbau. Bahkan bukan
tidak mungkin, ketika dia berada di toilet lain yang juga berbau, dia
juga tidak menyadari bau itu.Sungguh luar biasa manajemen gaya penjaga toilet.
Tinggal
menunggu toilet lain yang didirikan di dekat tempat tersebut dengan
pemeliharaan kebersihan yang baik, maka perlahan-lahan orang akan
berhenti menggunakan toilet bau itu.Sangat
tidak menyenangkan bukan, bila perusahaan tempat Anda bekerja
dipadankan dengan toilet. Apalagi bila jabatan Anda yang sangat keren
itu disamakan dengan penjaga toilet.Karena
itu kita sangat perlu untuk tetap peka terhadap setiap penurunan
kualitas layanan perusahaan kita. Angka-angka sebenarnya merupakan
petunjuk yang sangat jelas. Ketika terjadi penurunan pendapatan walau
hanya kurang dari 1% tetapi terjadi berturut-turut, itu sangat mungkin
disebabkan oleh penurunan kualitas layanan dari produk perusahaan kita.
Andaipun
dari angka-angka pengukur tingkat kualitas tidak terjadi penurunan
(asal saja Anda jujur dalam menilai, bukan angka yang ABS - silakan
lihat tulisan saya berjudul "ABS bukan Amanah" di buku Kacamata Kuda),
maka bukan berarti tidak terjadi penurunan kualitas. Ketika produk atau jasa masuk ke pasar, maka tidak ada tingkat kualitas yang absolut. Semua menjadi perceived quality ketika sudah bertemu dengan konsumen atau pelanggan. Anda
mungkin biasa makan sup ayam yang kuah serta isi supnya langsung
dituangkan ke piring nasi lalu Anda makan langsung dengan tangan, tanpa
sendok. Itu ukuran kualitas layanan Anda. Tetapi tidak demikian dengan
konsumen Anda, dia membutuhkan sendok.Sehingga
ketika pendapatan menurun (dengan tingkat penurunan yang sangat-sangat
kecil namun tetap) dan ukuran tingkat kualitas produk atau layanan dari
perusahaan Anda tidak menurun, maka bisa dipastikan perceived quality yang menurun.Ketika
itulah semestinya kita mulai peduli apa yang terjadi dengan produk atau
layanan yang selama ini kita sediakan.
Lakukan observasi lebih lanjut
mengapa perceived quality menjadi menurun selanjutnya lakukan perbaikan untuk meningkatkan kembali kualitas.Bila
tidak ada yang bisa Anda dapatkan dari observasi lanjutan tersebut,
maka segeralah berpindah ke produk atau layanan lain. Apakah masih ada second curve, produk atau layanan lain yang sudah mulai menunjukkan peningkatan pendapatan. Ini berarti second curve Anda sudah mulai memiliki perceived quality yang cukup berarti. Saatnya kita menjadi lebih fokus pada second curve, sehingga jauh sebelum produk unggulan Anda kehilangan kemampuan meraih pendapatan, second curve kita sudah mulai memberikan kontribusi yang besar bagi total pendapatan.
Maka,
saatnya sekarang Anda untuk tidak terbuai dengan pendapatan yang besar.
Anda sudah mulai harus memperhatikan tanda-tanda penurunan sekecil
apapun dalam portofolio produk Anda. Ketika terjadi penurunan maka
segeralah lakukan tindakan. Maka,
apa boleh buat, bila Anda hanya peduli pada uang yang masuk tanpa
peduli mengapa dulu uang sebanyak itu bisa masuk dan mengapa sekarang
menurun walaupun sedikit, maka saya jadi teringat sebuah kisah.
Seorang
anak kecil menangis, ketika ditanyakan mengapa dia menangis, katanya
uangnya jatuh dan hilang, padahal untuk dipakai jajan.Orang
yang bertanya, kemudian bertanya lagi berapa uang yang hilang itu. Anak
itu bilang uang yang hilang sekitar Rp.5.000,- maka orang yang bertanya
itu memberikan uang dengan nilai yang sama. Si anak malah menangis
lebih keras dan ditanya mengapa dia menangis lebih keras."Ya, coba kalau yang tadi gak hilang, kan uang saya sekarang sepuluh ribu"
Pelanggan
yang memberi pendapatan bagi kita tetapi sekaligus juga dia memberi
keluhan yang harus segera disolusikan. Bersediakah Anda?
Medan - Juli 2008 - bukakacamatakuda.blogspot.com
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Ardian Syam ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Komitmen
|
 |
Mengaku
|
 |
Mari Mencari Kambing Hitam
|
 |
Pabrik Sepatu
|
 |
Pengaruh Buku
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Berani Saja Tidak Cukup
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 30 Agustus 2008
|
 |
Para Pejuang Ekstrim
(Artikel Tetap) -
Senin, 01 September 2008
|
 |
Memilih Jadi Kaya
(Artikel Tetap) -
Selasa, 02 September 2008
|
 |
The Law Of Attraction
(Artikel Tetap) -
Rabu, 03 September 2008
|
 |
Pembaharuan Diri
(Artikel Tetap) -
Kamis, 04 September 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Sukses Spritual Saya
(Artikel Tetap) -
Kamis, 28 Agustus 2008
|
 |
Antusiasme Berbicara Itu Menular
(Artikel Tetap) -
Rabu, 27 Agustus 2008
|
 |
Tidak Dapat Memilah Ukuran Ubi Kayu
(Artikel Tetap) -
Selasa, 26 Agustus 2008
|
 |
Bulu Angsa
(Artikel Tetap) -
Senin, 25 Agustus 2008
|
 |
Mindset Sukses: Melaju Di Tengah Badai
(Artikel Tetap) -
Minggu, 24 Agustus 2008
|
|
|