Selain soal-soal yang
memalukan untuk dikenang, juga ada soal-soal yang membanggakan. Siapa saja, tak
terkecuali saya. Kelakuan saya yang memalukan, pasti banyak sekali. Pernah ada
suatu kali di masa kanak-kanak saya, saking laparnya, saya merebut roti yang
sedang dimakan teman begitu saja. Anak itu menjerit-jerit hingga menggemparkan
seluluh desa. Mestinya saya malu, tetapi kelaparan itu, mengatasi seluruh rasa
yang ada.
Makin bertambah umur saya, makin banyak saja daftar kesalahan
dan aib yang saya produksi. Sekian banyak lainnya jelas tak mungkin saya
ceritakan di sini karena jika seluruh aib dibuka, pasti saya tak kuat menanggungnya.
Jika misalnya, daftar aib itu dibacalan di tempat umum dan digelar sebagai
tontonan, saya bisa mati berdiri. Inilah kenapa ada orang yang memilih mati
ketaimbang malu. Maka hukum mempermalukan itu penting pula dipikirkan untuk
para koruptor selain hukuman mati.
Tetapi selain soal-soal yang memalukan,
ternyata saya juga punya sesuatu yang membanggakan setidaknya bagi diri saya
sendiri. Dan kebanggaan itu, betapapun sedikitnya, saya kenang senantiasa untuk
menyemangati agar saya berani melakukan kebaikan-kebaikan serupa. Karena inilah dilemanya, perbuatan
baik itu, perbuatan yang membanggakan itu, biasanya syaratnya berat sekali. Tetapi
inilah juga asyiknya, jika kita sanggup melakukannya, jika kita sanggup mengatasi
keberatan-keberatannya, hadiahnya juga pantas sekali. Hadiah paling berharga adalah
perasaan berharga dan itu bisa meggembirakan hati saya hingga hari ini. Saya
bangga pernah melakukan perbuatan itu.
Dan dari sedikit perbuatan yang saya banggai itu, saya kutipkan saja salah
satu.
Baru
lulus SMA saat itu, saya menggelandang ke Jakarta
dan bekarier sebagai kartunis adalah
impian terbesar saya. Pencapaian tertinggi saya adalah diterima sebagai bagian dari ‘'gerombolan'' kartunis di lembaran
bergambar
Pos Kota yang waktu sedang
hebat-hebatnya. Tetapi sebelumnya saya
benar-benar seorang gelandangan. Hidup serupa petani tadah hujan, jika ada hujan
makan, jika kekeringan puasa.
Pada
saat keadaan sedang begitu buruknya, datanglah surat dari sebuah
majalah yang meminta saya mengambil honor kartun yang dimuat di sana. Sudah tentu surat ini seperti guntur
menggelegar di angkasa. Seluruh langit Jakarta
rasanya bergetar oleh kegembiraan saya. Maka dengan ngutang kanan-kiri sekadar
untuk bisa sampai di kantor redaksi, saya naik bus kota dengan semangat menyala-nyala. Kepada
yang sudah memberi hutangan telah saya
janjikan pengembalian belipat karena saya nanti pasti pulang dalam keadaan kaya
raya, pikir saya.
Maka
sampailah saya di kantor redaksi majalah yang baik hati itu, yang sekretaris redaksinya ramah sekali. Ia paham saya ada di Jakarta, maka honor itu sengaja tidak dia
dikirim agar saya datang mengambilnya.
‘'Biar
sekalian kenalan,'' katanya. Saya terkesima pada kebaiknnya. Lalu ia menyodorkan selembar
kuitansi. Dasar orang susah, mata saya secepat kilat menyergap angka yang tertera
di dalamnya. Ooi, untuk ukuran kemiskinan, duit itu
besoaaaaar sekali. Gemetaran tangan saya. Sudah saya bayangkan,
anak-anak penganggur di kampung sumpek tempat saya numpang hidup itu akan saya traktir ketoprak sekenyangnya. Hari yang
dahsyat!
Tapi
sebelum kuitansi itu saya tanda tangani, sekretaris redaksi yang baik itu mengambil
majalahnya sebagai nonor bukti. Ia akan
menunjukkan gambar-gambar saya yang telah dimuat. Mendapat duit, memandangi karya
sendiri, patsi indah sekali. Dengan emosi saya membuka majalahnya, untuk segera
mengagumi karya sendiri. Dan astaga, gambar-gambar yang terpacak itu. bukan
gambar saya! Rupanya terjadi kesalahan administrasi di majalah ini; gambar orang
lain, didata sebagai gambar saya. Saya gemetaran hebat,. Keringat dingin langsung
merembes di sekujur tengkuk. Jika saya
tandatangani, berarti saya mencuri rezeki teman sendiri, yang bisa jadi lebih miskin dari saya.
Tetapi jika tidak, saya akan pulang jalan kaki dan menjadi bahan tertawaan anak-anak kampung
sumpek itu. Saya berdebat dengan diri sendiri
keraaaaaas sekali. Dan saya memilih
keputusan kedua! Saya memilih pulang jalan
kaki melintasi Jakarta
yang panas dan hampir pingsan dipanggang lapar dan lelah. Tetapi saya mengenang
keputusan itu dengan bangga.
Inilah dorongan spritual itu. Ia menjadi kuat sekali karena dibimbing oleh kepercayaan
kita kepada nilai. Dan saya tidak malu mengaku, bahwa saya dari hari ke hari,
ingin terus bernilai!
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS
|
 |
Kendi Pecah Di Siang Hari
|
 |
Sedih Tanpa Alasan
|
 |
Saya Banget!
|
 |
Jika Hidup Kenyang Hinaan
|
 |
Kegagalan yang Sukses
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Ketika Kualitas Layanan Diabaikan
(Artikel Tetap) -
Jumat, 29 Agustus 2008
|
 |
Berani Saja Tidak Cukup
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 30 Agustus 2008
|
 |
Para Pejuang Ekstrim
(Artikel Tetap) -
Senin, 01 September 2008
|
 |
Memilih Jadi Kaya
(Artikel Tetap) -
Selasa, 02 September 2008
|
 |
The Law Of Attraction
(Artikel Tetap) -
Rabu, 03 September 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Antusiasme Berbicara Itu Menular
(Artikel Tetap) -
Rabu, 27 Agustus 2008
|
 |
Tidak Dapat Memilah Ukuran Ubi Kayu
(Artikel Tetap) -
Selasa, 26 Agustus 2008
|
 |
Bulu Angsa
(Artikel Tetap) -
Senin, 25 Agustus 2008
|
 |
Mindset Sukses: Melaju Di Tengah Badai
(Artikel Tetap) -
Minggu, 24 Agustus 2008
|
 |
Bukannya Besok, Bukan Pula Kemarin, Tapi Sekarang
(Artikel Tetap) -
Jumat, 22 Agustus 2008
|
|
|