Kesuksesan itu
berada dalam ranah tindakan. Betapa banyak orang yang sarat dengan ide-ide
cemerlang namun tidak pernah mencapai apapun, karena mereka tidak pernah memutuskan
untuk SEGERA bertindak. (Mario Teguh dalam sebuah talkshow-nya).
Kesuksesan
memang berawal dari impian. Karena impian itu sejatinya merupakan doa, sedangkan
Tuhan adalah Sang Maha Kaya, maka impian pun harus dicanangkan setinggi
mungkin. Mekanisme ini adalah sebuah keniscayaan, sebuah hukum alam. Di dalam
fisika dikenal adanya konsep
Dualisme Materi-Energi.
Materi (kesuksesan) sesungguhnya berasal
dari
energi (impian), dan demikian
pula sebaliknya.
Perubahan
dari
energi menjadi
materi itu tidak akan terjadi dengan
sendirinya. Konsekuensinya, impian sekecil apapun TIDAK akan pernah terwujud
menjadi sebuah hasil selama TIDAK ada tindakan yang menyertainya. Mereka yang
"sekedar" hanyut dalam ranah impian dan "mengesampingkan" tindakan nyata,
sesungguhnya telah mengingkari hukum alam itu sendiri.
Keinginan
untuk berhasil merupakan naluri dasar manusia, karena merupakan bagian dari upaya
untuk
survive (bertahan). Bila
demikian, lantas apa yang menyebabkan sebagian dari kita secara sengaja
berusaha "menghalangi" dirinya sendiri untuk berhasil? Apa yang membuat
sebagian dari kita memutuskan untuk "menunda" tindakan?
Kebiasaan
"menunda" tindakan merupakan cermin dari gagalnya pikiran untuk menerima DIRI
ini dengan apa adanya. Hal ini terjadi karena diri ini berada "
di sini - saat ini" namun pikiran
sedang berada "
di sana - besok, lusa
atau bahkan kemarin dulu". Secara kongret, konflik ini akan terwujud dalam
ungkapan seperti:
-
Besok saya akan mengerjakannya jika
saja....
-
Nanti saya akan mempelajarinya kalau sudah...
-
Dulu saya pasti sudah melakukannya kalau
saja saya tidak......
Ungkapan di atas adalah contoh pengingkaran diri (
self denial). Bukankah pengingkaran
tersebut nadanya "setara" atau "sejiwa" dengan ungkapan berikut ini:
-
Besok saya pasti akan berbahagia bila saya
sudah berhasil meraih A, B, C,...
-
Dulu sebetulnya saya sudah bahagia, jika
saja saya tidak mengalami A, B, C,...
Sekecil apapun talenta yang saat ini "melekat" dalam
diri Anda, sesungguhnya sudah LEBIH dari sekedar cukup untuk memulai sebuah
langkah awal. Dan syarat untuk bisa memulainya sangatlah sederhana:
ber-BAHAGIA-lah dengan diri Anda SAAT INI.
Bila
kita sudah mampu berdamai dengan "saat ini", mata batin akan makin terbuka
bahwa ternyata ada begitu banyak KEMUNGKINAN yang bisa diraih. Masa lalu bukan
untuk disesali, karena masa lalu adalah PEMBELAJARAN yang telah mengantarkan
kita pada kondisi "saat ini". Semakin kita mampu untuk bersyukur
, semakin banyak pula keberlimpahan yang akan
menghampiri. Ini adalah sebuah konsekuensi logis.
Secara
spiritual digambarkan bahwa "Bila Anda mengenali DIRI, maka Anda
akan mengenali Tuhan..." Ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai "Bila Anda
ikhlas menerima DIRI Anda saat ini,
maka
Anda akan menjumpai Tuhan...." Ya, Tuhan ada dalam DIRI ini, di hati ini.
Tapi karena pengingkaran terhadap "saat ini", kita kerap mengabaikan suara
Tuhan dalam hati kita masing-masing. Sungguh ironis, Sang Maha Besar telah
"dikecilkan" oleh pengingkaran yang sesungguhnya sangat rapuh...
Bila kita sudah merasakan
"kehadiran" Tuhan dalam DIRI kita, maka akan tergambar jelas
road map menuju sukses. Dalam batin kita
akan
ter-ILHAM-kan langkah-langkah
apa yang harus ditempuh untuk mewujudkan impian. Dan tentunya, setiap langkah
yang diambil menjadi sangat ringan, karena kita sadar, bahwa kita telah
"terhubung" dengan Sumber Ilmu Yang Maha Luas, Kesadaran di atas segala
kesadaran.
Para motivator pun kerap menyerukan,
bahwa masa lalu tidak ada hubungannya dengan masa depan. Yang penting adalah
apa tindakan kita saat ini. Tindakan nyata yang harus dikerjakan saat ini, dengan
kondisi diri saat ini, dengan bakat yang ada saat ini. Bukan besok, bukan pula
yang sudah lalu, tapi
SEKARANG.
Kebahagiaan itu bukan terletak pada
apa yang BELUM kita miliki. Bukan pula terletak pada apa yang PERNAH kita
miliki. Kebahagian itu terletak di dalam diri ini, SAAT INI. Keikhlasan untuk
menerima diri ini apa adanya, adalah kunci untuk memulai langkah awal menuju
keberhasilan. Ditulis oleh Tommy Setiawan, seorang trainer, penulis dan
pengamat industri MLM. Tommy dapat dihubungi melalui
blowbytommy@yahoo.com atau melalui 0812
80 56772.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Tommy Setiawan ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Membalikkan Diagram Hirarki Maslow
|
 |
Bulan Pun Tidak Mengitari Matahari Secara Langsung
|
 |
Melepaskan Diri dari Jebakan Permainan Pikiran
|
 |
MembuatAlamSemestaMelayaniAnda
|
 |
Resource Leverage, Kunci Sukses Kerajaan Mataram
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Mindset Sukses: Melaju Di Tengah Badai
(Artikel Tetap) -
Minggu, 24 Agustus 2008
|
 |
Bulu Angsa
(Artikel Tetap) -
Senin, 25 Agustus 2008
|
 |
Tidak Dapat Memilah Ukuran Ubi Kayu
(Artikel Tetap) -
Selasa, 26 Agustus 2008
|
 |
Antusiasme Berbicara Itu Menular
(Artikel Tetap) -
Rabu, 27 Agustus 2008
|
 |
Sukses Spritual Saya
(Artikel Tetap) -
Kamis, 28 Agustus 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Visualisasi Atau Melamun
(Artikel Tetap) -
Selasa, 19 Agustus 2008
|
 |
Menembus Batas
(Artikel Tetap) -
Senin, 18 Agustus 2008
|
 |
Komitmen
(Artikel Tetap) -
Minggu, 17 Agustus 2008
|
 |
Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
(Artikel Tetap) -
Jumat, 15 Agustus 2008
|
 |
Berjuang Dengan Luar Biasa
(Artikel Tetap) -
Kamis, 14 Agustus 2008
|
|
|