Tak terasa sudah 63
tahun negara kita, Indonesia tercinta, telah merdeka. Tak terasa 63 tahun sudah
kita hidup di alam yang merdeka, menghirup udara kebebasan dari belenggu
penjajahan yang menyengsarakan dan membodohkan bangsa kita. Teringat masa-masa
dan penderitaan bangsa ini ketika dijajah selama kurang lebih 3,5 abad; sekarang
kita benar-benar harus bersyukur dan mengisi kemerdekaan ini dengan karya dan
prestasi terbaik.
Kemerdekaan yang kita
nikmati sekarang ini bukannya didapat dengan mudah, melainkan dengan cucuran
darah dan pengorbanan jiwa-raga para pejuang kusuma bangsa. Mereka berjuang tak
kenal lelah, pantang menyerah, dengan nyawa menjadi taruhannya demi kemerdekaan
negeri ini. Kita pasti pernah mendengar betapa dahsyatnya perjuangan Pangeran
Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Cut Nyak Dien, Christina Martha Tiahahu,
Pangeran Antasari, Sultang Agung, Sultan Hasanuddin, Panglima Polim, Sisinga
Mangaraja, dan lain-lain yang berjuang hingga titik darah penghabisan mengusir
penjajah dari daerahnya masing-masing.
Dengan perjuangan
mereka--para pahlawan yang telah mempertaruhkan jiwa dan raganya-dari
generasi ke generasi maka akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 bertempat
di kediaman Ir. Sukarno, di Jl. Pegangsaan Timur No.56 Jakarta tepat pada pukul
10.30 waktu Jawa (sama dengan pukul 10.00 WIB sekarang) Ir. Sukarno dan Drs.
Moh. Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Kita juga selalu
terkenang betapa hebatnya jiwa nasionalisme dan patriotisme para pejuang
kemerdekaan dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan negeri ini, karena
kemerdekaan yang baru diproklamasikan bukannya tanpa tantangan, tapi justru
mendapat ujian yang tak kalah dahsyat sebagaimana proses kemerdekaan itu
diraih.
Kita pasti ingat
perjuangan Jenderal Sudirman (lahir: 24 Januari 1916; wafat: 29 Januari 1950)
yang tak kenal lelah untuk mengusir penjajah dari bumi nusantara tercinta.
Setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta, Belanda
ternyata masih ingin menjajah negeri kita. Kemudian terjadilah agresi militer
Belanda I pada tanggal 21 Juni 1947, dilanjutkan agresi militer Belanda II pada
tanggal 19 Desember 1948 yang mana Belanda berhasil menduduki Yogyakarta yang
waktu itu menjadi ibukota Indonesia. Dengan gagah berani Jenderal Sudirman tetap
memimpin pasukannya untuk bergerilya melawan penjajah walau beliau sedang sakit.
Dengan ditandu, Jenderal Sudirman memimpin perang gerilya dengan rute
Yogyakarta, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, hingga Kediri. Beliau
tidak peduli walau dirinya sedang sakit. Demi perjuangan dan kemerdekaan
bangsanya, beliau rela ditandu keluar masuk hutan lebih dari 6 bulan lamanya.
Hingga akhirnya beliau wafat karena penyakitnya tidak lama setelah penjajah
meninggalkan bumi nusantara. Beliau telah tiada, namun namanya tetap hidup
hingga sekarang karena jasa dan perjuangannya untuk bangsa kita.
Di ujung timur pulau
Jawa kita juga mengenal nama Bung Tomo. Putra kelahiran Surabaya (lahir: 3
Oktober 1920; wafat: 7 Oktober 1981) ini tampil lewat siaran radio menggelorakan
semangat para pejuang Surabaya ketika menghadapi gempuran tentara Sekutu dari
darat, laut dan udara pada tanggal 10 November 1945. Kobaran semangat Bung Tomo
lewat siaran radio dengan suara yang menggelegar mampu membakar semangat
arek-arek Suroboyo untuk bertempur habis-habisan melawan musuh hingga titik
darah penghabisan sehingga pertempuran pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya
tersebut tercatat sebagai pertempuran terdahsyat sepanjang sejarah perjuangan
kemerdekaan Indonesia dan di kemudian hari peristiwa itu diabadikan sebagai Hari
Pahlawan yang kita peringati hingga sekarang. Bung Tomo berhasil membagikan
semangatnya yang membara sehingga para pejuang sontak mengangkat senjata membela
sang Merah Putih agar tetap berkibar di langit nusantara walau nyawa jadi
taruhannya. Semangat yang menggelora berhasil menorehkan peristiwa besar dalam
sejarah, mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Entah berapa banyak
nyawa yang melayang demi meraih kemerdekaan negeri kita tercinta. Entah berapa
banyak kesuma bangsa yang berguguran demi mempertahankan kemerdekaan negeri kita
ini. Cucuran keringat, air mata dan darah telah bersimbah disepanjang perjuangan
kemerdekaan Indonesia tercinta ini. Sekarang memang kita telah merdeka, namun
apakah kita telah meraih kemerdekaan yang sesungguhnya secara hakiki?
Mungkin kita harus
jujur, sepertinya jawabannya, "Belum". Walau penjajah--baik Inggris, Spanyol,
Portugis, Belanda, maupun Jepang--telah lama meninggalkan negeri ini, tapi
sepertinya sekarang diri dan juga bangsa kita masih terjajah, bukan oleh bangsa
lain tapi oleh diri kita sendiri. Betapa kita lihat kemiskinan dan kebodohan
masih meraja lela; budaya korupsi, kolusi dan nepotisme juga masih hidup subur;
ekonomi kita juga masih bergantung kepada bangsa lain dengan utang Negara yang
luar biasa besarnya; bahkan kita pun harus jujur masih dijajah oleh hawa nafsu
yang menyesatkan dan hampir mematikan semangat kita untuk bertumbuh dan bangkit
menjadi bangsa yang berjaya dan berakhlak mulia.
Mungkin ada baiknya
kita merenungi syair lagu kebangsaan kita "Indonesia Raya" yang digubah oleh W.
R. Supratman, yang mana di dalamnya sarat dengan semangat yang membara; semangat
persatuan dan kesatuan, semangat nasionalisme, dan semangat untuk bangkit
menjadi bangsa yang luhur dan berjaya. "
Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku,
bangsaku, rakyatku semuanya... Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk
Indonesia Raya...!"
Sudah menjadi
kewajiban kita untuk mempertahankan kemerdekaan yang sudah kita raih dengan
susah payah dan membutuhkan pengorbanan yang tak terhitung banyaknya--dengan
taruhan jiwa dan raga kita. Dan juga sudah menjadi tugas kita, sebagai generasi
penerus perjuangan bangsa, untuk mengisi kemerdekaan ini dengan pembangunan di
segala bidang menuju terwujudnya masyarakat adil dan makmur, merdeka
lahir-bathin, berjaya dan berakhlak mulia.
Sebagai penutup,
dengan momentum Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang
ke-63 ini, marilah kita bersatu dan bahu membahu membangun Indonesia sesuai
dengan posisi dan kemampuan kita masing-masing agar bangsa ini bisa bangkit
menjadi bangsa yang merdeka lahir-bathinnya, sejahtera ekonominya, dan tumbuh
menjadi bangsa yang dahsyat, yang disegani bangsa-bangsa di dunia.
Merdeka...!!!
Sekali merdeka tetap
merdeka!
Salam
merdeka!
Agus
Riyanto
Penulis Motivasi dan
Pengembangan Diri, telah menulis buku "
Born To Be A Champion".
Dapat dihubungi melalui email:
agus4ever@gmail.com atau hp.
085227428804.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Agus Riyanto ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Menumbuhkan Benih Kebahagiaan
|
 |
Menikmati Putaran Roda Kehidupan
|
 |
The Power Of Action
|
 |
Badai Pasti Berlalu
|
 |
Badai Pasti Berlalu (2): Finding The Real Love
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Komitmen
(Artikel Tetap) -
Minggu, 17 Agustus 2008
|
 |
Menembus Batas
(Artikel Tetap) -
Senin, 18 Agustus 2008
|
 |
Visualisasi Atau Melamun
(Artikel Tetap) -
Selasa, 19 Agustus 2008
|
 |
Bukannya Besok, Bukan Pula Kemarin, Tapi Sekarang
(Artikel Tetap) -
Jumat, 22 Agustus 2008
|
 |
Mindset Sukses: Melaju Di Tengah Badai
(Artikel Tetap) -
Minggu, 24 Agustus 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Berjuang Dengan Luar Biasa
(Artikel Tetap) -
Kamis, 14 Agustus 2008
|
 |
Law OfLove
(Artikel Tetap) -
Rabu, 13 Agustus 2008
|
 |
Harta Karun
(Artikel Tetap) -
Senin, 11 Agustus 2008
|
 |
Diuji Dengan Kenyamanan
(Artikel Tetap) -
Jumat, 08 Agustus 2008
|
 |
Tutup Lubang, Cari Lubang
(Artikel Tetap) -
Kamis, 07 Agustus 2008
|
|
|