Pagi tadi ada hal yang cukup unik saya jumpai. Sebuah
kemacetan yang tak biasanya, terjadi pada jalan yang saya lewati. Uniknya,
setelah ditelusuri, yang membuat macet ternyata adalah antrian sepeda motor. Panjang
memang. Yang membuat unik adalah penyebab antrian dadakan tersebut.
Motor itu antri karena saling berusaha melewati satu jalan
sempit-hanya cukup satu motor-untuk menyeberang tanpa harus berjalan memutar.
Ini terjadi, karena jalan yang biasanya dilewati untuk memutar tiba-tiba
ditutup permanen oleh barisan beton nan kokoh. Sisa lubang sempit itulah yang
kemudian jadi solusi agar tetap bisa menyeberang tanpa harus memutar-yang, jika
dilakukan, memakan jarak hampir satu kilo. Barangkali, demi alasan hemat waktu
dan hemat BBM, akhirnya lubang sempit itu diperebutkan oleh sekian banyak
motor.
Kejadian itu mengingatkan saya pada sebuah iklan bank asing
beberapa waktu silam. Dalam iklan itu, bank tersebut-kalau tak salah-mengatakan
bahwa orang Jakarta
sangat pandai mencari jalan tikus. Jalan tikus ini sangat banyak manfaatnya.
Selain menghindari kemacetan, menghindari razia polisi, hingga menghindari
banjir.
Kejadian antrian motor karena ditutup jalannya untuk memutar
membuat para pengendara sepeda motor langsung mencari alternatif pengganti
jalan. Sama juga dengan jalan tikus yang selalu jadi andalan. Semua itu
berujung pada satu kesimpulan saya, orang kita sudah terbiasa-jika
dihalangi-segera mencari jalan lain. Jika lubang yang satu ditutup, akan segera
cari lubang yang lain.
Intinya, dalam keterdesakan, dalam ketidaknyamanan, orang
kita biasa untuk segera mencari solusi paling singkat untuk mengatasi hal
tersebut. Sayang, memang solusinya kadang justru melahirkan masalah lain.
Banyak yang cenderung memerhatikan kepentingannya sendiri, asal cepat, asal
sampai, asal bisa, "lubang sempit" ke mana pun akan dicari.
Saya tidak ingin membicarakan kebiasaan, yang-menurut
saya-baik, namun kadang kurang pas caranya ini. Yang ingin saya lihat dari
kasus tadi adalah betapa orang kita sebenarnya tumbuh dalam ranah pikiran yang
sangat kreatif. Satu masalah timbul, pasti segera bisa mencari solusi
tercepatnya.
Ini pula yang seharusnya bisa dikembangkan dalam ranah
kewirausahaan. Adanya masalah, adanya kegagalan, adanya halangan, dengan
"akal-akalan"-yang positif tentunya-akan bisa menghasilkan solusi yang unik dan
menarik. Ini mengingatkan saya pada seorang pengusaha katering besar di daerah
Joglo Jakarta. Ia mengawali usahanya itu karena kondisi terdesak, alias ingin
membantu menambah penghasilan suami. Saat itu, yang ia bisa hanya memasak.
Lantas, dibuatlah pisang yang ia beri taburan gula halus dan sedikit penghias
untuk mempermanis pisang goreng itu.
Kondisi "terdesak" itulah yang ternyata membuka jalannya
menjadi pengusaha makanan dengan omset ratusan juta. Saya tak tahu darimana ide
jualan pisang dengan taburan gula dan pemanis chery itu awalnya. Yang pasti,
ide kreatif memang muncul kadang di saat kita mengalami keterdesakan. Ibu tadi
menjadi gambaran bahwa karena "sebuah lubang tertutup", yakni ketika
penghasilan dari suami dianggap kurang cukup, maka ia pun terdorong untuk
bertindak kreatif dengan "mencari lubang" untuk menutup kekurangan itu.
Sederhana sepertinya, tapi itu semua yang justru mengawali usahanya menggurita
ke mana-mana.
Nah, jika Anda dan saya, mungkin termasuk orang yang suka
mencari "jalan tikus"-seperti para pengendara sepeda motor dalam kisah di atas-sebenarnya
akan sangat bermanfaat di dunia wirausaha. Caranya yakni dengan mengubah pola
pikir. Arahkan pola pikir kita, bahwa hadirnya kesulitan-kecil dan besar-justru
akan melahirkan inovasi-inovasi yang barangkali akan menjadikan Anda sukses
luar biasa!
Ingin contoh lagi? Tengoklah di mana-mana kini bermunculan
singkong keju. Singkong goreng yang tadinya dijual dengan harga sangat murah,
dengan kreativitas tambahan rasa keju, per porsi bisa mencapai harga lima ribuan. Atau coba
juga lihat becak-becak bekas di Jakarta.
Daripada dibuang kini juga sudah menjelma jadi "pasar malam keliling" alias
jadi komidi putar hingga tempat mandi bola. Bekas korek api yang tak habis
terbakar, kini ada pula yang merangkainya jadi replika bangunan-bangunan indah
berharga ratusan ribu. Pecahan-pecahan kaca siap buang, ada pula yang kemudian
justru mampu meleburnya jadi aneka barang kerajinan. Sangat inovatif!
Banyak sekali hal remeh temeh yang tercipta akibat dampak
dari usaha "mencari lubang" demi menyambung hidup, justru jadi barang andalan. Siapa
tahu Anda juga bisa melakukannya? Jadi, cari "lubang" lain yuk...!
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Agoeng Widyatmoko
|
 |
Berani Saja Tidak Cukup
|
 |
Kkn - kekoncoan Itu Wajib
|
 |
Carilah Peluang Di Tengah Kemalasan
|
 |
Dana Sos, Uang Penyelamat (bagian 1)
|
 |
Jangan Kebanyakan Mimpi
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Diuji Dengan Kenyamanan
(Artikel Tetap) -
Jumat, 08 Agustus 2008
|
 |
Harta Karun
(Artikel Tetap) -
Senin, 11 Agustus 2008
|
 |
Law OfLove
(Artikel Tetap) -
Rabu, 13 Agustus 2008
|
 |
Berjuang Dengan Luar Biasa
(Artikel Tetap) -
Kamis, 14 Agustus 2008
|
 |
Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
(Artikel Tetap) -
Jumat, 15 Agustus 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Pemantik Kegembiraan
(Artikel Tetap) -
Kamis, 07 Agustus 2008
|
 |
Kekuatan Kata-kata Positif
(Artikel Tetap) -
Rabu, 06 Agustus 2008
|
 |
Jangan Pernah Berhenti
(Artikel Tetap) -
Selasa, 05 Agustus 2008
|
 |
Sesuatu Tidak Selalu Nampak Sebagaimana Kelihatanya
(Artikel Tetap) -
Senin, 04 Agustus 2008
|
 |
Kecanduan Akan Minyak
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 02 Agustus 2008
|
|
|