Salah satu kelemahan saya
adalah kurang menyukai bepergian. Tetapi inilah hukum keseimbangan itu. Ia
bekerja tidak berdasarkan apakah kita suka atau tidak suka. Ia bekerja memang
demi sebuah keseimbangan itu sendiri tak peduli apakah saya suka atau benci.
Maka meskipun saya kurang menyukai bepergian tetapi saya terpaksa sering
bepergian karena sebuah keadaan. Dan manfaat bepergian itu, lepas dari saya suka
atau benci kepadanya, baru terasa ketika pulang. Banyak ijazah hidup, memang cuma
bisa dibentuk oleh pergi. Di dalam pulang, manusia memperoleh arti-artinya yang
baru, bobot hidupnya yang baru.
Kangen anak-anak, menemukan puncaknya ketika saya pulang
dari bepergian. Menyadari pentingnya rumah pun, baru setelah kita ada di kejauhan. Menghargai milik sendiri, makin terasa ketika
menjelang pergi, itulah kenapa pergi selalu ingin kembali karena akan ketemu
milik sendiri. Itulah kenapa setelah pulang kita harus pergi lagi demi
menyadari milik kita yang ada di sini. Karena yang di sini, menjadi tambah
berharga justru ketika kita di sana.
Jadi, suka atau benci, saya harus pulang dan pergi.
Tetapi peristiwa berikut inilah yang hendak saya tekankan. Betapapun saya menyadari manfaat
bepergian, tetapi karena dasarnya kurang suka bepergian, selalu ada rasa terpaksa di
dalamnya. Dan Anda tahu keaadaan orang terpaksa. Semuanya menjadi berat terasa.
Baru menata kopor saja, penderitaan itu sudah dimulai. Di rumah, semua barang
yang saya butuhkan tersedia: pemotong kuku, pencukur kumis, ballpoint, buku...
barang-barang itu tampaknya remeh, tetapi ketergantungan saya kepadanya amat
nyata. Kehilangan pemotong kuku di saat saya membutuhkannya, seperti dipecat
dari pekerjaan saja rasanya. Sekali lagi,
di rumah, cukup hanya dengan berteriak, sudah
ada anak yang mengantar, sudah ada istri
yang menyediakan. Tetapi ketika hendak pergi, seluruh
barang itu harus saya urus sendiri. Pada saat itulah saya merasa sedang meremas
seluruh barang di jagat raya cuma untuk dilesakkan dalam sekotak kecil bejana. Berat rasanya.
Habis menata kopor, harus ke bandara. Antre, menunggu,
bengong. Seluruh kegiatan kita rasanya tak berarti lagi karena intinya cuma mengisi
waktu tunggu itupun tidak ada jaminan tepat waktu. Karena pesawat bisa menunda
penerbangannya kapan saja dia mau. Jika pesawat tepat waktu pun tidak menjamin
kita gembira karena jika benda ini telah terbang, di situlah soal utamanya. Kita tidak
mengerti lagi, siapa yang paling berkuasa di atas sana.
Pasti bukan pilot, bukan mesin, dan bukan awak kabin. Jadi saat kita terapung-apung di ketinggian, segalanya
sedang menjadi nisbi. Kenisbian itu kadang menggembirakan, kadang menakutkan kadang
melelahkan. Gembira ketika kita sedang
kuat. Menakutkan ketika kita sedang lemah, dan melelahkan ketika kita sedang
bosan. Saya ingin mengambil yang ketiga ini saja, kebosanan itu. Itulah saat
ketika seluruh tubuh dan mental sedang berada di titik terendahnya, Pada saat
itulah leher saya mulaii tegang, kepala
saya mulai serasa dipaku pelan-pelan. Jika paku itu melesak makin dalam, rasanya bisa Anda bayangkan. Dan itulah
yang saya alami di sebuah ruang tunggu bandara suatu kali. Sakit sekali
rasanya.
Tetapi dalam kesakitan itu, saya masih menyempatkan waktu
untuk melirik seorang bapak yang duduk di sebelah, saya masih menyempatkan menatapnya,
mengangguk, terenyum, menyapa, hasil dar kebiasaan saya saja. Akibatnya ia
melempar obrolan. Padahal kebutuhan terbesar
saya saat itu sebetulnya cuma ingin diam
dan merasakan paku di kepala itu. Tetapi saya sekuat mungkin mendengarnya bicara, mencoba tersenyum, mencoba tertawa
jika perlu, sambil meringis tentu.
Reaksi yang tak biasa ini mebuat bapak itu curiga. Ia
mengerti saya sedang sakit tampaknya. Demi melihat si sakit ini masih mencoba
melayaninya bicara, ikut gembira ketika
ia bercerira tentang cucu pertamanya, apa yang dia lakukan kemudian? Tanpa
basa-basi, ia langsung mengeluarkan balsam (hahaa... benar-benar balsam!).
Memijit seluruh tengkuk, kepala dan tangan saya. Kami berdua langsung buka praktek pijat
di tempat keliru itu tanpa rasa malu. Segar sekali badan saya. Apapun keadaan Anda
, gembirakan orang lain, maka akan datang kegembiraan yang lebih besar untuk Anda.
Prie GS
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS
|
 |
Orang Kalah
|
 |
Jika Hidup Kenyang Hinaan
|
 |
Teman Masa Kecilku
|
 |
Tembok Berlubang
|
 |
Tiga Hari Untuk Limabelas Menit
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Tutup Lubang, Cari Lubang
(Artikel Tetap) -
Kamis, 07 Agustus 2008
|
 |
Diuji Dengan Kenyamanan
(Artikel Tetap) -
Jumat, 08 Agustus 2008
|
 |
Harta Karun
(Artikel Tetap) -
Senin, 11 Agustus 2008
|
 |
Law OfLove
(Artikel Tetap) -
Rabu, 13 Agustus 2008
|
 |
Berjuang Dengan Luar Biasa
(Artikel Tetap) -
Kamis, 14 Agustus 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Kekuatan Kata-kata Positif
(Artikel Tetap) -
Rabu, 06 Agustus 2008
|
 |
Jangan Pernah Berhenti
(Artikel Tetap) -
Selasa, 05 Agustus 2008
|
 |
Sesuatu Tidak Selalu Nampak Sebagaimana Kelihatanya
(Artikel Tetap) -
Senin, 04 Agustus 2008
|
 |
Kecanduan Akan Minyak
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 02 Agustus 2008
|
 |
Majulah Terus, Pantang Mundur !
(Artikel Tetap) -
Jumat, 01 Agustus 2008
|
|
|