Dikisahkan sebuah
cerita yang memperlihatkan gambaran potret sebuah hari Minggu
‘kebanyakan' yang terjadi di sebuah kompleks perumahan di sebuah pagi
yang cerah. Tampak beberapa orang mencuci mobil mereka di depan rumah.
Terdengar dari dalam rumah suara riuh rendah anak-anak kecil bermain
play-station
di rumah mereka. Satu-dua rumah diantaranya juga terdengar menyalakan
radio dan televisi mereka keras-keras terdengar sampai ke jalan.
Tiba-tiba,..
pet!! Suasana sepi, beberapa orang terlihat sempat bengong, berusaha
menyadari apa yang terjadi. Aliran listrik padam! Air untuk cuci mobil
berhenti perlahan mengalir. Terdengar suara anak-anak berteriak-teriak
kecewa, sampai kemudian hening tak ada suara.
Beberapa orang mencoba angkat telepon untuk melaporkan keluhan listrik mati kepada pihak otoritas listrik kota
itu. Tapi telpon sunyi, tak ada suara, tak ada nada. Demikian juga
telepon genggam, tak ada sinyal. Seseorang berlari menghampiri
mobilnya, berpikir bahwa dia punya ide untuk menyalakan radio di
mobilnya, yang mungkin menyiarkan perihal mati listrik yang tiba-tiba
dan tidak biasanya itu. Tapi sia-sia, tak ada satu pun siaran stasiun
radio mengudara. Hanya suara mendesis sepanjang pindai dari ujung ke
ujung gelombang.
Sekelompok keluarga rupanya sudah jenuh dan memilih mengendara mobil mereka kearah kota.
Tapi lihatlah, sepanjang jalan orang-orang hanya berkerumun berdiri
duduk di pinggir jalan, karena di dalam rumah, di dalam mal, di dalam
pertokoan tempat mereka bekerja rupanya mati lampu dan terasa panas
karena AC juga tidak menyala.
Mobil itu pun melaju ke pompa bensin terdekat untuk memenuhi tangki bersiap pergi ke luar kota. Tapi apa boleh buat sesampainya di sana,
pompa bensin mati tak ada aliran listrik. Mereka punya generator, tapi
pihak SPBU mengambil kebijakan tidak menyalakannya untuk menjalankan
pompa melayani penjualan bahan bakar. Generator disiapkan hanya pada
keadaan darurat.
Maka
terjadilah kepanikan di sana-sini. Sikap kebersamaan berubah menjadi
egois. Yang semula bersahabat, menjadi saling curiga. Orang-orang mulai
berteriak, beberapa mulai mengancam. Belum lagi ketika malam tiba.
Listrik belum juga menyala. Tampak orang mulai bergerombol di kegelapan
di daerahnya masing-masing membawa tongkat dan senjata apa saja.
Berjaga-jaga bila saja ada orang berniat jahat mengail di air keruh di
kegelapan.
Menjelang
hari ke-enam. Lisrik belum juga menyala. Keadaan semakin parah.
Orang-orang pergi dengan berjalan kaki atau bersepeda. Semua mobil
sudah kehabisan bahan bakar. Orang-orang itu pergi dengan menenteng
senjata dan bermuka tegang. Entah kenapa demikian. Mereka mulai
mengumpulkan makanan sebanyak-banyaknya. Mengancam atau merampas kalau
perlu!
Saya
lupa judul film yang pernah saya tonton, dengan gambaran cerita seperti
di atas. Rekaman cerita itu di kepala saya tiba-tiba kembali muncul
ketika, mau tidak mau, kita harus menghadapi krisis listrik, yang
mungkin bisa sampai beberapa tahun kedepan sebelum percepatan
pembangunan penambahan kapasitas pembangkit listrik selesai dibangun.
Keadaan
mungkin tidak separah apa yang saya ceritakan di atas. Pemerintah kita
pun, tampak berusaha menawarkan berbagai alternatif solusi, yang
tentunya didasari akan pemikiran bahwa kita semua bisa melewati krisis
ini dengan kerugian sekecil-kecilnya. Tapi mengapa kita sudah mulai
curiga satu sama lain? Mengapa kita mulai egois? Mulai menghujat
orang-orang yang kita percaya. Mulai meninggalkan rasa kebersamaan.
Anda
boleh mendebat pendapat saya, tapi percayalah, harkat, martabat dan
keberadaan kita untuk hidup bersama sebagai manusia yang dibekali akal,
jauh lebih penting daripada sekedar krisis listrik..!! Krisis listrik
bukan kiamat!
21 Juli 2008
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Pitoyo Amrih ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Rule Of Engagement
|
 |
Belajar Dari Kesalahan Orang Amerika
|
 |
Menghakimi
|
 |
Fait Accompli
|
 |
Semangat Menghargai Apa Yang Kita Punya
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Menyiasati Dampak Dari Kenaikan Bbm Terhadap Keuangan Kita
(Artikel Tetap) -
Jumat, 25 Juli 2008
|
 |
Kura-kura
(Artikel Tetap) -
Senin, 28 Juli 2008
|
 |
Kepergian Pertama
(Artikel Tetap) -
Selasa, 29 Juli 2008
|
 |
Kerja Keras Sama Dengan Sukses Bagian 2
(Artikel Tetap) -
Kamis, 31 Juli 2008
|
 |
Majulah Terus, Pantang Mundur !
(Artikel Tetap) -
Jumat, 01 Agustus 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Tentang Dua Orang Pertapa
(Artikel Tetap) -
Rabu, 23 Juli 2008
|
 |
Sahabat, Hadiah Paling Berharga
(Artikel Tetap) -
Selasa, 22 Juli 2008
|
 |
Kekurang-ajaran Adalah Malaikat Pembimbing
(Artikel Tetap) -
Senin, 21 Juli 2008
|
 |
Give Love
(Artikel Tetap) -
Jumat, 18 Juli 2008
|
 |
Perpisahan Dangan Handphone
(Artikel Tetap) -
Rabu, 16 Juli 2008
|
|
|