#8. Àn dù Chén Cang (Qin Dynasty) ~ Capai Chen Cang dengan jalan terselubung
Bakpao Nomor 1
Di pinggir sebuah pasar di sebuah kota kecil terdapatlah sebuah kedai yang sangat terkenal dengan kenikmatan Bakpao. Apao adalahnama pemilik kedai bakpao tersebut, kenikmatan bakpaonya telah terkenal, setiap orang selalu ramai orang yang datang untuk mengantri membeli bakpao nikmat itu.
Apao sangatlah dermawan, setiap penjualan 10 bakpao, maka dia selalu menyisihkan hasil penjualan 1 bakpao untuk didermakan kepada orang tidak mampu di sekitarnya. Apao mempunyai 2 orang anak laki-laki, Atu si anak kesatu dan Awa anak kedua, keduanya cekatan dan rajin membantunya dalam membuat bakpao hingga berdagang. Atu dan Awa adalah anak yang patuh yang selalu akur dan saling membantu, Apao sang ayah pun tenang melihatnya.
Tahun berganti tahun, Apao pun menginjak usia senja, saatnya untuk mewariskan kedai bakpaonya kepada kedua anaknya. Pada pertengahan musim panas, tiba sang ayah pun harus meninggalkan kedua anaknya. Sebelum meninggal sang ayah berpesan, bahwa Atu dan Awa haruslah tetap bersama-sama mengelola kedai bakpaonya. Jangan sampai karena kekayaan mereka harus berseteru satu sama lain. Sambil merapatkan tangan Atu dan Awa dalam genggamannya, Apao pun tersenyum dan meninggalkan mereka berdua untuk selamanya.
Sepeninggalan sang ayah, Atu dan Awa sangat mematuhi petuah terakhir sang ayah mereka benar-benar berbagi dalam berbagi hal bersama dan tanpa harus ribut soal harta. Dua tahun telah berlalu, Atu si kakak punmenikah dengan gadis pujaannya. Ini adalah awal dari kisah ketidakadilan sang kakak. Atu mulai berpikir, seandainya kedai bakpao yang semakin terkenal dan banyak pelanggan ini milik dia semuanya tanpa si Awa, maka keluarganya akan terjamin kehidupannya.
Pada suatu hari, Atu pun memanggil Awa dan berkata, " Adikku, kita harus mengembangkan bisnis keluarga kita,. Kalau kita hanya tetap berada di kota ini, usaha kita dapat bertumbuh besar. Lihat di sekitar kita juga telah tumbuh banyak kedai bakpao yang menyaingi kita. Kita harus membuka kedai lagi di ibu kota".
Patuh atas perintah sang kakak, Awa pun berangkat menuju ibu kota dengan membawa gerobak dengan persiapan yang cukup. Beberapa minggu kemudian sampailah Awa di Ibu kota dan betapa terkejutnya dia, ternyata kakaknya telah menukar kantong uang yang semulanya berisi uang modal memulai usaha dengan kantong yang hanya berisi kertas kosong. Awa segera sadar, bahwa ini adalah kesengajaan kakaknya untuk menjauhkannya dari bisnis keluarga.
Dalam keadaan terjepit, Awa dan pembantu yang dibawanya harus bekerja seadanya untuk makan. Sedikit demi sedikit dia menyisihkan uangnya untuk modal untuk kembali berjualan. Dengan susah payah akhirnya Awa pun memulai usaha bakpaonya. Tahun demi tahunAwa telah menjadi saudagar kaya, kedai bakpao yang terkenal dan banyak pelanggan di ibu kota.
Tujuh tahun telah berlalu, Awa telah berkeluarga di ibu kota, namun kerinduannya dan ketaatannya atas pesan terakhir sang ayah membuat Awa bertekat untuk kembali ke kekotanya. Awa pun menyerahkan kedainya kepada sang istri, dia bersama pembantu setianya bersiap kembali ke kota kelahirannya untuk menemui sang kakak.
Setelah menempuh perjalan yang jauh, sampailah Awa di depan rumah asalnya. Atu sang kakak pun menyuruh para pelayannya untuk mengusirnya pergi dan tidak mau mengenali Awa sang adik. Bagai disayat-sayat sembilu hati sang adik menerima perlakuan sang kakak yang menyakitkan. Dalam kesedihannya, wajah sang Ayah terlintas di hadapannya dan mengingatkannya pada pesan terakhir sang ayah untuk tetap selalu bersatu dan bersaudara. Awa pun beranjak dan mulai mencari tempat yang strategis untuk mendirikan kedai di kotanya.Setelah mendapat tempat, Awa membangun kedai dengan model yang serupa kedai milik ayahnya dulu.
"Wah Awa mau menyaingi kedai bakpaoku," ujar sang kakak semakin berburuk sangka melihat Awa mulai membangun kedai, maka dengan seluruh persediaan dan simpanan uang yang ada dia pun memborong seluruh persediaan terigu dan bahan-bahan yang lain sebanyak mungkin agar Awa si adik kehabisan bahan dan tidak bisa membuat bakpao.
Satu tahun telah berlalu, kedai Awa telah siap dan mulai dibuka. Awa mengundang seluruh kerabat, saudara termasuk Atu untuk datang selamatan di kedainya. Sunggu tidak dinyana, ternyata membuka sebuah rumah makan Yam Cha ( sarapan pagi dengan berbagai makanan kecil). Ini ide baru buat kotanya yang biasanya tiap pagi mereka hanya makan bakpao. Atu pun lemas karena salah perhitungan, seluruh uang simpanannya telah dihabiskan untuk memborong bahan baku bakpao untuk menghancurkan Awa yang dikiranya akan buka kedai bakpao.
Nasi sudah menjadi bubur, Atu rugi besar karena harus menjual seluruh simpanan bahan bakunya dengan harga murah karena takut rusak. Modalnya menyusut kecil karena rugi, dia terpaksa harus mulai lagi dengan jumlah dagangan yang lebih kecil. Di saat inilah Awa sangat diuntungkan, karena bisa membeli harga bahan baku bakpao dengan sangat murah dari pasar. Dengan pengalamannya di ibu kota, Awa memang lebih terampil. Bakpaonya lebih halus dan enak dibanding buatan Atu.
Awa membuat gebrakan lagi, siapapun yang datang makan di rumah makannya dapat menikmati bakpao nomor 1 nya dengan harga separo dari harga bakpao Atu. Ini sungguh pukulan telak bagi Atu, tepat satu tahun kedai Atu harus tutup dan bangkrut, karena tidak seorang pun datang belanja bakpao ke kedainya.Hidup bergelimang harta berubah susah dalam sekejap. Kedainya pun harus dijual untuk menutup hutang akibat kerugian yang dideritanya.
Awa dengan besar hati menebus harga kedai Atu, kemudian dia datang menengok Atu sang kakak, Awa memberikan kunci kedai dan memberikan secukupnya modal untuknya agar bisa berdagang kembali. Berderai tangis Atu dan iparnya meminta maaf atas apa yang telah dilakukan mereka terhadap Awa di masa lalu. Mereka saling memaafkan dan mereka pun kembali bersatu sebagai kakak adik yang saling melindungi, Apao sang ayah pun tersenyum di balik jendela surga.
Pembaca yang budiman
Pesan moral strategi ini.Tampak bodoh bagi orang lain karena memakai jalan yang sama yang telah usang, justru merupakan keunggulan. Tampak bodoh akan menghasilkan respon luar terhadap kita salah.
Di saat yang tepat, dalam sekejap respon yang salah ini akan dapat kita jadikan kekuatan untuk menuntaskan pihak yang tidak benar.
Kisah asli terjadi pada jaman Dinasti Chu akhir. Liu Bang kalah perang terhadap Xiang Yu dan mundur ke Sichuan untuk memulihkan kekuatan pasukannya.
Liu Bang tampak memperbaiki jalan besar menuju Chen Chang, ini membuat pasukan Xiang Yu berjaga. Sementara pasukan yang lebih besar mengambil jalan memutar untuk menyerang Xiang Yu melalui Guan Zhong. Akhirnya Xiang Yu pun takluk akibat serangan dari arah Guan Zhong.
Riduan Goh ~ Wealth is Mine
021-7016.1800 /0815.878.3886
Nantikan Strategy #9
#9. Gé àn guan huo~ Saksikan Api memadamkan Api
Hanya untuk :
www.andriewongso.com
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Riduan Goh ~ Wealth is Mine
|
 |
36 Ji (36 Stratetgy) For Happy Life #7
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-28
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-17
|
 |
36 Ji (strategy) For Happy Life - Strategy Ke-30
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-11
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Komunikasi Berdasarkan Golongan Darah
(Artikel Tetap) -
Senin, 18 Desember 2006
|
 |
Hujan
(Artikel Tetap) -
Minggu, 21 Januari 2007
|
 |
Hukum Newton Ketiga
(Artikel Tetap) -
Kamis, 08 Februari 2007
|
 |
Diputar, Dijilat ....
(Artikel Tetap) -
Minggu, 01 April 2007
|
 |
Komunikasi Berdasarkan Sistem Representasional - Visual
(Artikel Tetap) -
Senin, 02 April 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Manusia Pribadi Yang Unik
(Artikel Tetap) -
Jumat, 18 Mei 2007
|
 |
Self-reflection
(Artikel Tetap) -
Selasa, 08 Mei 2007
|
 |
Penipu Yang Tertipu
(Artikel Tetap) -
Rabu, 28 Maret 2007
|
 |
Keponakan Dari Desa
(Artikel Tetap) -
Senin, 26 Maret 2007
|
 |
Memaafkan
(Artikel Tetap) -
Senin, 26 Maret 2007
|
|
|