Di Cina hiduplah dua orang pertapa yang beda usia terpaut sangat jauh.
Masing-masing diantara mereka tinggal di sebuah bukit yang hanya dipisahkan
oleh sebuah sungai. Aktifitas mereka di pagi hari adalah mengambil air ke sungai.
Dari sanalah mereka menjadi teman baik karena kerap bertemu dan bercengkrama.
Suatu ketika pertama muda tak melihat pertapa tua mengambil air. Hal itu
berlangsung lebih dari satu minggu, dan membuat pertapa muda khawatir.
"Jangan-jangan
dia sakit? Lalu siapa yang mengurusnya?" batin pertapa muda. Sebagai rasa
solidaritas, pertapa muda segera menjenguk petapa tua.
Di tengah kekhawatiran sampailah
pertapa muda di seberang bukit. Ia terkejut karena petapa tua itu
ternyata sedang berlatih
taichi. "Hei, sudah lebih dari satu minggu
kamu tidak mengambil air. Aku mengkhawatirkanmu. Lalu bagaimana kamu minum dan
membersihkan diri?" kata pertapa muda itu memberondong pertanyaan.
"Mari! Mari! Saya tunjukkan sesuatu padamu," ucap pertapa tua sembari menggandeng
tangan pertapa muda itu ke halaman belakang rumah.
"Dalam dua tahun ini, setiap selesai meditasi saya selalu meluangkan
waktu untuk menggali sumur. Saya tetap meluangkan waktu untuk melakukan hal
yang sama sesibuk apapun. Sekarang saya sudah memiliki sebuah sumur yang
memberikan cukup banyak sumber air. Jadi saya tidak perlu mengangkat air dari
sungai. Sayapun punya lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang lebih
menyenangkan," jelas pertapa tua
itu panjang lebar.
Pesan:
Pertapa tua adalah personifikasi yang memiliki kesadaran cukup tinggi
untuk mempersiapkan masa depan dengan baik. Ia mengenal betul bahwa masa depan
bukan sekedar masa setelah masa kini. Iapun bersedia menerima resiko
seberapapun besarnya, karena ia percaya pada harapan yang akan ia wujudkan,
yaitu sesuatu yang lebih besar dan berarti.
Kisah diatas mengingatkan kita untuk tidak sekedar tahu bahwa di depan kita ada
masa depan. Tetapi kita juga harus mempunyai strategi untuk menghadapi proses
menuju masa depan yang lebih baik sesuai dengan visi yang ingin kita capai.
Selain itu, kesadaran untuk mempersiapkan masa depan dengan baik akan mendorong
kita terus berbenah. Dengan demikian kita akan mampu memanfaatkan waktu yang
selalu berkurang dengan sebaik-baiknya.
*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku
best
seller.Kunjungi
websitenya di : www.andrewho-uol.com
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Andrew Ho
|
 |
Tips Sukses Ala Socrates
|
 |
Ciptakan Kehidupan Ideal dengan Kepedulian
|
 |
Tentang Dua Orang Pertapa
|
 |
Menghargai Kontribusi Orang Lain
|
 |
Berteman dengan Kekurangan
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Krisis Listrik Bukan Kiamat
(Artikel Tetap) -
Kamis, 24 Juli 2008
|
 |
Menyiasati Dampak Dari Kenaikan Bbm Terhadap Keuangan Kita
(Artikel Tetap) -
Jumat, 25 Juli 2008
|
 |
Kura-kura
(Artikel Tetap) -
Senin, 28 Juli 2008
|
 |
Kepergian Pertama
(Artikel Tetap) -
Selasa, 29 Juli 2008
|
 |
Kerja Keras Sama Dengan Sukses Bagian 2
(Artikel Tetap) -
Kamis, 31 Juli 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Sahabat, Hadiah Paling Berharga
(Artikel Tetap) -
Selasa, 22 Juli 2008
|
 |
Kekurang-ajaran Adalah Malaikat Pembimbing
(Artikel Tetap) -
Senin, 21 Juli 2008
|
 |
Give Love
(Artikel Tetap) -
Jumat, 18 Juli 2008
|
 |
Perpisahan Dangan Handphone
(Artikel Tetap) -
Rabu, 16 Juli 2008
|
 |
Success Steps
(Artikel Tetap) -
Rabu, 16 Juli 2008
|
|
|