Sudah lima tahun HP itu menemani saya. Akibatnya,
ia menjadi sesuatu yang sangat biasa.
Tapi yang biasa itu, juga sekaligus menjadi yang luar biasa. Biasa, karena
bertahun-tahun saya hafal bunyinya, saya mengerti seluk beluk tubuhnya, tombolnya, bagaimana
mengirim SMS dengan kecepatan ekstra, bagaimana suara deringnya. Saking
biasanya, ketika HP ini jatuh pun saya tinggal memungutnya begitu saja, memasukknnya
ke saku tanpa perasaan dramatik. Pernah saya
tersandung dan HP ini terlempar serta nyaris saja tamat riwayatnya karena
hampir saja nyemplung ke kolam. Tetapi
hebatnya, barang ini berhenti persis di bibir kolam. Kalaupun ia terpaksa
nyebur pun saya sudah membayangkan apa
kata hati saya, oya sudahlah, berarti memang sudah saatnya ia harus pensiun,
apalagi umurnya memang sudah tua. Tetapi
ketika ia masih juga selamat, berarti memang masih menjadi tugasnya untuk menemani
hidup saya. Saya merasa tidak sedih jika harus kehilangan,
tetapi juga tidak gembira ketika kembali mendapatkan. Begitulah perasaan kita
kepada sesuatu yang sudah biasa. Saking
biasanya, sesuatu itu memang sama sekali tidak tampak istimewa.
Tetapi barang yang biasa ini akan segera mejadi barang luar
biasa ketika ia tak ada. Ketika suatu kali ia tak terbawa misalnya, saya
kelabakan seperti orang gila. HP ini sudah persis seperti istri: saking
biasanya, meskipun istri mendekat sampai begitu dekatnya hingga lengket sekalipun, ia bisa tidak terasa. Ketika istri duduk di sebelah, saya bisa lupa mengajaknya bicara. Angan-angan
saya bisa jadi malah beredar ke mana-mana. Tetapi ketika istri itu pergi
setengah hari saja saat saya di rumah sendiri, dunia seperti terhenti. Mencari
gelas minum saja susahnya setengah mati.
Apalagi jika harus mencari perlengkapan ini-itu sendiri. Jadi, barang yang sudah terbiasa itu mendatangkan semacam dilema:
dekat tak terasa, jauh ia menyiksa.
Ketika HP ini tertinggal, baru terbayanglah segenap jasa-jasanya. Betapa sudah tak
terhitung penelpon yang mendatangkan kegembiaran lewat HP ini. Takjub sekali saya betapa HP setua itu bisa dilewati oleh aneka
suara yang demikian kaya ragamnya. Ada
dari penting, orang menguntungkan, orang tak terduga, dan orang-orang tercinta.
Maka ketika HP itu berdering, berdegup
jantung saya, kegembiaran apa lagi yang akan saya terima. Tiap hari, pekerjaan saya adalah menunggu kejutan demi kejutan,
keajaiban demi keajaiban dari barang ini. Kenapa? Karena hidup memang istinya selalu
kejutan dan keajaiban. Saya kawin dan
punya anak, itu pasti keajaiban. Saya sedang jalan-jalan, ketemu dengan orang
dan kami lalu sepakat bekerja sama, itu pasti keajaiban. Saya mendapat telepon
tak terduga, dari seorang yang menawarkan pekejaraan yang telah lama saya
bayangkan, itu kejutan yang bisa membuat saya pingsan. Jadi setiap HP ini berdering,
seluruh gairah hidup saya bangkit seperti
orang kesurupan.
Begitu juga dengan SMS yang berseliweran. Mendengar denging
SMS, membukanya, mengetahui siapa
pengirimnya, adalah peritiwa yang mendebarkan. Apalagi jika pengirimnya adalah
orang-orang yang berarti dalam hidup kita, ia bisa orang yang kita cintai,
orang yang kita kagumi, orang yang menguntungkan, orang yang kita cintai, dan orang-orang yang tak terduga. Soa-soal
yang tak terduga dalam hidup itu, tak
terkira banyaknya. Dan SMS dalam HP tua
saya itu, begitu penuh dengan SMS semacam itu. Maka setiap SMS berdenging, cukup
membuat saya dilanda ketegangan ekstra,. Dari siapa kagi? Kabar apa yang dibawanya? Kegembiraan
apa lagi yang akan saya terima? Memang tak setiap SMS dan telepon selalu berarti kabar gembira. Tetapi
kepada penelpon bermasalah, saya cukup berkata pendek saja dan melupakannya.
Kepada SMS bermasalah, saya cukup dengan segera menghapusnya. Jadi yang tersisa
dalam memori HP saya cuma SMS dan telepon gembira saja.
Malah, untuk SMS tertentu, saya bisa menyimpannya sedemikian lama, kadang bisa
dalam hitungan bulan, kadang malah tahun. SMS itu menurut saya begitu berartinya
sehingga sering saya tunjukkan kepada siapa saja. Bayangkan jika satu SMS gembira
saja bisa tersimpan demikian lama, bisa menggembirakan hati demikan lama,
apalagi jika jumlah SMS semacam itu saya tabung dari ke hari. Akhirnya HP saya itu
isinya seperti cuma daftar kegembiraan belaka. Akibatnya, setiap menatap HP
itu, saya seperti menatap benda keramat saja. Saya tidak peduli bentuknya yang
tua, deringnya yang kuno, dan modelnya yang telah jadi bahan ledekan. Benda
itu, telah menjadi bagian hidup saya. Tetapi karena suatu keadaan, saya harus
berpisah darinya karena sebuah alasan. Perpisahan dengn HP itulah yang akan
saya ceritakan di kolom berikutnya.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS
|
 |
Dengkur Seorang Istri
|
 |
Jika Seharian Saya Tidak Melucu
|
 |
Dua Demam Berbarengan
|
 |
Saya dan Bakat Saya
|
 |
Selimut Dalam Tidurku
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Give Love
(Artikel Tetap) -
Jumat, 18 Juli 2008
|
 |
Kekurang-ajaran Adalah Malaikat Pembimbing
(Artikel Tetap) -
Senin, 21 Juli 2008
|
 |
Sahabat, Hadiah Paling Berharga
(Artikel Tetap) -
Selasa, 22 Juli 2008
|
 |
Tentang Dua Orang Pertapa
(Artikel Tetap) -
Rabu, 23 Juli 2008
|
 |
Krisis Listrik Bukan Kiamat
(Artikel Tetap) -
Kamis, 24 Juli 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Success Steps
(Artikel Tetap) -
Rabu, 16 Juli 2008
|
 |
Kesan Pertama Begitu Menentukan
(Artikel Tetap) -
Selasa, 15 Juli 2008
|
 |
Melihat Kepentingan Apa Yang Kita Makan
(Artikel Tetap) -
Selasa, 15 Juli 2008
|
 |
Menjadi Pemimpin Rendah Hati
(Artikel Tetap) -
Kamis, 10 Juli 2008
|
 |
Mengatur Ulang Konsep Diri
(Artikel Tetap) -
Rabu, 09 Juli 2008
|
|
|