Alkisah di sebuah
hutan terdapat seekor singa yang sudah tua. Setiap hari ia kelaparan karena tak
sanggup berlari kencang dan jauh. Ia selalu kehilangan mangsa.
Meskipun setiap
binatang saling memangsa, tetapi mereka sepakat untuk saling menjenguk bila
salah satu diantara mereka sedang sakit. Tak kurang akal, singa tua itu
memanfaatkan kesepakatan para binatang untuk menjerat mangsa. Ia mengaku sakit
pada setiap binatang yang melewati tempat tinggalnya, sambil berpura-pura lesu
dan lemah.
Berita tentang
kondisi singa yang sakit dengan segera menyebar ke seluruh penjuru hutan. Semua
binatang bersimpati dan berniat mengunjungi singa tersebut. Satu demi satu dari
mereka bergiliran mengunjungi si singa dan bekas jejak kaki mereka terlihat
jelas di sepanjang jalan hingga di depan gua.
Kesempatan tersebut
jelas tidak dilewatkan si singa. Ia selalu memangsa semua binatang yang
mengunjungi dirinya satu demi satu. Tetapi seekor srigala mencium gelagat yang
kurang baik saat dirinya hendak masuk gua untuk menjenguk si singa. Srigala itu
mengurungkan niat untuk masuk dan hanya menyapa si singa dari luar.
"Hei, mengapa mesti di luar. Masuklah! Kita berbincang di dalam saja," kata singa menawarkan.
"Ah tidak, terima kasih," tukas srigala itu lantang.
"Aku meragukan kata-katamu. Boleh dibilang aku tidak mempercayaimu. Aku
yakin kamu tidak punya niat baik dan hanya ingin memangsa aku, karena di sini
aku hanya melihat jejak langkah binatang-binatang yang lain masuk tapi tidak
ada jejak langkah mereka keluar dari sini," ucap srigala kesal.
Srigala mencium gelagat buruk dari si singa. Kebohongan si singa
terbongkar juga. Akibatnya, singa itu harus menanggung resiko atas kebohongan
yang ia lakukan, yaitu tidak dipercaya lagi oleh semua binatang penghuni hutan.
Pesan:
Berdasarkan ilustrasi kejadian tersebut
terungkap bahwa kejujuran bersifat krusial atau sangat penting dalam hidup ini.
Satu kebohongan saja akan menginfeksi karakter seseorang. Kebohongan bukan
hanya bentuk dosa itu sendiri, melainkan menginfeksi jiwa kita dengan dosa.
"False words are not only evil in themselves, but they infect the soul
with evil," kata Socrates. Karena setiap kebohongan akan
mendorong seseorang untuk terus menciptakan kebohongan lain untuk menutupi
kebohongan yang sebelumnya.
Kebohongan adalah sumber kegelisahan,
karena kalaupun kebohongan itu tidak terbongkar sudah pasti itu sangat menyiksa
batin. Lalu seandainya kebohongan itu sampai terungkap, maka reputasi yang
sudah dibangun selama puluhan tahun sekalipun kemungkinan akan hancur seketika.
Kebohongan menjadikan masalah kecil semakin rumit, dan hidup terasa penuh
rintangan. Dengan kata lain, kebohongan adalah sumber malapetaka.
Sangat manusiawi jika masing-masing
diantara kita pernah berbohong, entah dalam skala kecil, sedang, maupun besar.
Tetapi mengingat dampak buruk yang dapat menyertai kebohongan yang sudah kita
ciptakan, milikilah keberanian untuk memperbaiki diri dengan bersikap jujur.
Kita masih memiliki kesempatan yang begitu luas untuk lebih baik.
"No one
has ever done anything too bad to be forgiven. - Tak seorangpun melakukan
kesalahan yang terlalu besar untuk dapat diperbaiki kembali," kata Ruth
Sheppard.
Kita dapat senantiasa melatih dan
meningkatkan kualitas kejujuran dari hal-hal sederhana, yang berkenaan dengan
orang lain dan terutama terhadap diri sendiri serta segala aktifitas kehidupan
kita. Mungkin kita dapat memulainya dengan berusaha berkomunikasi dan
berinteraksi secara jujur dan terbuka sejak saat ini apapun resikonya.
Tingkatkan kualitas kejujuran terus
menerus sampai kita dapat merasakan tak ada lagi kekurangan yang menghambat
atau mengganggu sosialisasi diri.
Pada saat yang sama kita juga akan
dapat merasakan bahwa kejujuran kita jauh lebih berharga dibandingkan
segalanya.
"No legacy is so rich as honesty. - Tak ada harta yang begitu
melimpah seperti kejujuran," William Shakespeare dalam karyanya yang
berjudul
All's Well that Ends Well.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Andrew Ho
|
 |
Warisan untuk Anak Cucu
|
 |
Harga Sebuah Kesuksesan
|
 |
Tentang Dua Orang Pertapa
|
 |
Sindrom Kepemimpinan: Hotepapopu
|
 |
Menghargai Hidup dan Manajemen Waktu
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Ketika Aku Di Rumah Sendiri
(Artikel Tetap) -
Selasa, 27 Mei 2008
|
 |
Menjinakkan Orang-orang Sulit
(Artikel Tetap) -
Minggu, 01 Juni 2008
|
 |
Konsep Diri Positif
(Artikel Tetap) -
Senin, 02 Juni 2008
|
 |
Seperti Jenderal Di Medan Perang
(Artikel Tetap) -
Kamis, 05 Juni 2008
|
 |
The Power Of Open Mind
(Artikel Tetap) -
Senin, 09 Juni 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Setia Atau Loyal?
(Artikel Tetap) -
Minggu, 25 Mei 2008
|
 |
Antara Urgent Dan Important
(Artikel Tetap) -
Jumat, 23 Mei 2008
|
 |
Sukses = Kerja Keras
(Artikel Tetap) -
Kamis, 22 Mei 2008
|
 |
Penyakit Seandainya, Harus Dimusnahkan!
(Artikel Tetap) -
Kamis, 22 Mei 2008
|
 |
Bintang Kecil
(Artikel Tetap) -
Selasa, 20 Mei 2008
|
|
|