Dari Kiai Gus Mus saya
mendapat pelajaran meminum segelas air putih campur sesendok madu tepat ketika
bangun tidur. Dari Morihei Ueshiba saya mendapat pelajaran tentang seni
bergerak sambil sekaligus beremeditasi. Dari Maulana Gibran, anak saya yang masih
kelas tiga SD, saya mendapat pelajaran gaya
minum harus dengan cara duduk. Tiga ajaran itu saya gabungkan. Hasilnya, saya
mendapatkan gaya
minum yang berbeda, minum yang kenikmatanya tak pernah saya rasakan sebelumnya.
Gus Mus, selain kiai
dan penyair adalah juga seorang tabib. Menurutnya, bahwa air adalah obat, bahwa
madu adalah obat, bahwa ludah juga obat, langsung saya percayai tanpa harus
saya teliti. Tetapi yang paling mendorong saya percaya adalah kedudukan Gus Mus
sebagai pribadi mulia hati. Inilah pentingnya menjadi mulia, apa saja katanya,
mudah dipatuhi.
Sementara Morehei Ueshiba pasti cuma saya kenal lewat buku
karena dialah legenda penemu teknik aikido yang terkenal itu. Jika Steven
Seagal yang baru Dan VII itu sudah demikian jagoan, maka saya membayangkan,
betapa fantastis pencapaian orang itu. Konon ia adalah seorang kakek yang
sanggup mengikuti laju peluru. Saya menonton videonya berulang kali, di usainya
yang renta, orang ini bisa membantingi lawan-lawannya yang besar dan muda itu, serupa
orang menari. Benar-benar menari. Lembut
sekali. Orang-orang yang dibanting itu mengaku, bahkan dalam keadaan terbanting
pun, mereka cuma merasakan kejatuhan tetapi tanpa kesakitan. Itulah Aikido
versi Morihei. Kosong, hampa. Ke manapun musuh pergi, aikido mengikuti. Bahkan
kepada musuh pun enggan menyakiti. Mengalahkan munkin, tetapi menyakiti tidak.
Tidak ada yang buru-buru dalam diri Morihei karena setiap keruwetan akan terurai di hadapan ketenangan
diri.
Sementara Gibran, anak saya itu, sekadar mendapat pelajaran
dari guru agamanya yang amat ia patuhi. Maka di rumah, siapapun yang melanggar ‘'perintah agama'' ini
dihardiknya, termasuk bapaknya sendiri. Dari terpaksa lama-lama saya menikmati.
Karena minum dengan cara duduk itu, apalagi dengan sambil menenangkan diri, sambil
memandangi air yang begitu penting kedudukannya di dalam hidup, ditambah membayangkan
Gus Mus yang baik hati, dengan seolah-olah didampingi Moriehei yang mengajari
saya ketenangan hati, dilengkapi dengan wajah anak-anak saya sendiri... waduh, suasana minum seperti
itu, menjadi khusus sekali.
Setiap tegukan, adalah sebuah sensasi. Ketika ia merembas
ke kerongkongan, langsung di kedalaman, saya seperti melihat air itu melaju
dari hilir, berkelok-kelok, menuju hulu dan bermuara di kesegaran. Apakah saya
telah menjadi ahli meditasi? Tidak. Ini sekadar hasil dari sebuah perhatian dan
penghargaan. Jika kepada sesuatu kita berikan perhatian kita, ia akan muncul
dengan harganya yang berbeda. Sekian lama saya makan, tetapi jarang sekali saya memberinya perhatian. Sekian lama
saya minum, tetapi jarang sekali kepadanya
saya memberi penghargaan. Maka makan dan minum saya selama ini, berlangsung
garing karena miskin tegur sapa.
Kita adalalah orang-orang yang terancam lupa pada soal yang
begitu pentingnya justru karena ia terletak begitu dekatnya. Padahal semakin
penting segala sesuatu, semakin dekat kita kepadanya. Padahal semakin dekat kita kepadanya, semakin mudah kita
melupaknnya. Itulah kenapa ada suami-sitri yang tak perlu lagi saling memuji
karena merasa telah begitu akrapnya. Itulah kenapa kepada anak-anak, kita lupa
memeluknya karena merasa sudah mencintainya. Inilah kenapa (seperti sajak Darmanto
Jatman) lidah, meskipun di dalam mulut, ia tak terasa.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS - Budayawan dan Penulis Sketsa Indonesia
|
 |
Haru Lebaran
|
 |
Teman Masa Kecilku
|
 |
Ada Langit Di Rumahku
|
 |
Anak-anak Nakal
|
 |
Saya Dan Bapak Saya
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Mengatasi Rintangan
(Artikel Tetap) -
Selasa, 13 Mei 2008
|
 |
Jangan Dorong Menjadi Tua
(Artikel Tetap) -
Jumat, 16 Mei 2008
|
 |
Indonesia Bangkitlah
(Artikel Tetap) -
Senin, 19 Mei 2008
|
 |
Menarik Simpati Dengan Komunikasi Simbol
(Artikel Tetap) -
Senin, 19 Mei 2008
|
 |
Bintang Kecil
(Artikel Tetap) -
Selasa, 20 Mei 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Never Ever Give-up
(Artikel Tetap) -
Minggu, 11 Mei 2008
|
 |
Becoming The Winning Team
(Artikel Tetap) -
Jumat, 09 Mei 2008
|
 |
Pemenang Sejati
(Artikel Tetap) -
Rabu, 07 Mei 2008
|
 |
Bicaralah Sesuai Golongan Darahnya
(Artikel Tetap) -
Selasa, 06 Mei 2008
|
 |
Barang-barang Di Rumahku
(Artikel Tetap) -
Senin, 05 Mei 2008
|
|
|