Saya
gembiraketika suatu kali istri membeli sebuah
kendi. "Kasihan. Penjualnya tua sekali," katanya. Siang sedang menyengat.
Tetapi teriknya seperti mereda demi tersadar, oo saya memiliki istri yang baik
hati. Apalagi setiap kebaikan yang kami perbuat, hasilnya memang cuma lari ke
dalam hati kami sendiri. Kami tidak sedang ingin sok mulia. Tetapi kebaikan-kebaikan
kecil itu memang menyehatkan hati. Apalagi harganya toh murah saja, toh cuma
sebuah kendi.
Penjelasanistri tentang
penjual yang tua itu menarik saya untuk menengoknya. Ya ampun benar sekali. Jika
nasib baik memihaknya, orang serenta
ini pasti lebih cocok tinggal di rumah dikelelilingi anak dan cucu sambil menghabiskan
umur sebagai pensiunan yang manja. Ia sudah harus ganti menikmati pelayanan anak-anaknya
yang semuanya sudah berkeluarga dan sukses pula. Jika sakit, ia layakdicarikan rumah sakit terbaik, ditunggui
ramai-ramai. Jika punya permintaan, seluruh anak-anaknya akan saling berebut
memenuhi. Jika hendak bepergian, cukup memberi perintah dan seluruhnya akan
bahagia menjadipengantarnya. Itulah
hari tua yang kita bayangkan.
Tetapi orang tua ini pastidatang dari jenis nasib yanglain lagi. Nasib yang memaksanya berkeliling
dengan pikulan berat di pundaknya. Kendi-kendi yang ia bawa itu, hanyalah beban
bagi yang memandangnya. Saya jamin, pembeli dagangannya pasti bukan para
penggemar kendi, melainkan sekadar orang-orang yang iba belaka. Melihat
keadaannya, hampir-hampir saya menggugurkan rasa syukur saya atas kebaikan
istri.Karena untuk iba pada orang ini,
sungguh tak perlu lebih dulu menjadi orang baik hati. Penjahat paling brutal
pun bisa menghentikan kejahatannya dan jatuh iba pada pemandanganini.
Mata Pak Tua ini sudah buram sepenuhnya dan siang yang amat
terik itu pasti menyiksanya dengan bermacam-macam fatamorgana. Pinggang orang
tua ini telah melengkung. Keriputmerajalela
di sekujur kulitnya. Dua saja kelayakan yang mestinya ia miliki: duduk di kursi
malas di teras rumah yang luas atau malah terbaring payahdi ruang gawat darurat. Maka demi melihatnya
masih berkeliling dengan pikulan seberat itu, dengan kendi-kendi yang masih
menumpuk, dan diantaranya malah pecah di sana-sini,adalah pemandangan yang amat ingin saya
hindari. Maka keputusan istri itu sekali lagi saya gembira.
Tetapi, di mana-mana, kegembiraan selalu rawan dicemburui.
Kami yang sedang bersemangat berbaik hati malah menyulut omelan pemilik warung di
dekat kami bertransaksi.
"Anda tertipu. Kendi-kendi itu dia pecahi sendiri!"
katanya.
Tetapi tukang warung itu salah sangka. Dia sangka kami akan
gembira dengan informasinya. Dia sangka kami akan segera terhasut dan merasa
tertipu untuk kemudian ganti memarahi Pak Tua itu sejadi-jadinya. Pemilik
warung ini tak tahu bahwa saya adalah pembicara seminar (dan motivator pula!).
Maka taksulitbagi motivator untuk segera mengerti kualitas
pemilik warung ini.
"Itulah
mental block
namanya," kata saya.Segera, setelahnya
sayakotbah habis-habisan di depan istri: "Itulah orang yang gemar memandang sekelilingnya dengan curiga. Orang semacam
itu sesungguhnya adalah pihak sedang sakit. Inilah kenapa negaramu sulit maju.
Orang tua peyotbegitu saja masih
dicurigai. Keterlaluan. Jahatsekali
orang itu. Kalau mati pasti jadi intip neraka!" kata saya berapi-api. Marah
sekali saya oleh pandangan orang yang melulu ke jurusan prasangka itu. Untuk
melunaskan hasrat kemarahan saya, malah muncul niat untuk membeli seluruh kendi
orang tua di hadapannya. Biar ia mati kejang olehkedengkian batin saya.
Harilalu berganti.
Kembali esok hari saya melewati warung ini karena banyak urusan terjadi di
tempat ini. Tersulut lagi kemarahan saya demi melihat pemilik warung yang amat
gemar berprasangka itu. Tetapisebelum
kemarahan itu menyembul sempurna Pak Tua penjual kendi itu lewat lagi. Astaga,
kendi-kendinya pecah lagi. Jadi, kendi-kendi Pak Tua ini memang pecah setiap
hari. Hahaha, saya kecewa sekali karena harus menarik kemarahan pada pemilik
warng yang telah kepalang saya maki-maki dalam hati itu. Orang tua ini ternyata
adalah penjual yang hebat. Setiap kali, kendi-kendi pecah itu ia pakai sebagai
etalase daganganya. Pak tua ini pasti tak pernah datang ke seminar James Gwee;
Selling with Emphaty. Tetapi ia paham
benar bagaimana mempermainkan emphati pembeli.
Akhirnya
saya menatappemilik warung yang saya
kutuki itu dengan lunglai. Di negeri ini memang banyak sekali orang yang suka
curiga pada sesama. Tetapi di negeri ini, jumlah orang yang layak dicurigai
memang bisa sama banyaknya.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
|
 |
Saya Dan Bapak Saya
|
 |
Segelas Air Putih
|
 |
Hukum Newton Ketiga
|
 |
Nonton Konser Bee Gees
|
 |
Bahu Membahu Membela Yang Keliru
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Moving Toward Something
(Artikel Tetap) -
Selasa, 15 April 2008
|
 |
The Power Of Action
(Artikel Tetap) -
Rabu, 16 April 2008
|
 |
Ms (bagian Ke-3 Dari 3 Tulisan Ml, Md, Ms)
(Artikel Tetap) -
Jumat, 18 April 2008
|
 |
Jembatan Harapan
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 19 April 2008
|
 |
Mengucapkan Terimakasih
(Artikel Tetap) -
Minggu, 20 April 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Jangan Tanya Apa..
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 12 April 2008
|
 |
Mengikat Rambut Di Atas Kasau Dan Menusuk Kaki Dengan Jarum
(Artikel Tetap) -
Kamis, 10 April 2008
|
 |
Melihat Yang Tak Terlihat
(Artikel Tetap) -
Rabu, 09 April 2008
|
 |
Fokus Ke Tujuan, Bukan Ke Rintangan
(Artikel Tetap) -
Selasa, 08 April 2008
|
 |
Treat Mars & Venus Differently
(Artikel Tetap) -
Senin, 07 April 2008
|
|
|