Mumpung novel dan film
Ayat-Ayat Cinta sedang menjadi fenomena,
izinkan saya numpang terkenal. Bukan karena dua nama di balik proyek ini ada
adalah orang yang dekat dengan hidup
saya, melainkan karena sebuah kerepotan yang amat menganggu saya, sejak novel ini
terkenal. Sebelum kerepotan itu lebih jauh saya bicarakan, baiklah saya ceritakan lebih
dahulu siapa dua orang penting itu.
Pertama adalah Habiburrahman Al Shirazy, sang penulis dan
kedua adalah Anif Sirsaeba, adik Habib. Anif adalah nama yang amat berjasa
membawa novel kakaknya itu ke sana kemari, menawarkananya ke sana kemari,
mencari
endorsement ke sana- kemari,
bernegosiasi ke sana kemari, sehingga
Ayat-Ayat
Cinta menjadi sebesar ini. Bentuk fisiknya memang tak seberapa. Orang malah
cenderung salah sangka jika ketemu Anif untuk kali pertama. Tetapi dengarkan
kalau ia sudah ngomong, seluruh anggota tubuhnya akan bergerak sedemikian rupa. Matanya akan melotot dan
kalau perlu ludahnya akan muncrat kesana-kemari.
Ia
adalah negosiator ulung. Jangan
coba-coba membuat negosiasi penting dengan Habib tanpa izin adiknya. Ini bisa
membuatnya marah. Semula dia adalah mahasiswa yang sering mendengar ceramah jurnalistik saya
di kampusnya. Sebagai pendengar ia sering mencari perhatian saya dengan menjual
keangkuhannya. Tapi ia belum tahu bahwa yang ia hadapi ini adalah Prie GS yang
juga memiliki keangkuhan yang sama. Akhirnya orang yang sama-sama angkuh capek
sendiri dan memutuskan menjadi kakak dan adik saja. Saya kakaknya, dia adik
angkat saya. Jadi betapapun saya lebih tua darinya. Maka kalaupun lebih pintar, ia harus punya tertip
menghormati saya. Apa boleh buat!
Pernah dua orang ini Habib dan Anif, diundang ke Jakarta oleh sebuah PH yang tertarik utnuk
menggarap proyek
Ayat-Ayat Cinta. Diundang,
tetapi menurut Anif tidak diperlakukan semestinya. Diminta menunggu terlalu
lama. Diangap sebagai orang desa yang amat butuh pekerjaan. Anif mestinya sudah
jagoan menangani keadaan ini, tetapi dari Jakarta
ia memerlukan menelpon saya. ‘'Apa yang harus saya lakukan?'' tanyanya.
‘'Keluar dari ruangan itu. Segera! Kalau perlu tanpa pamit!'' kata saya. ‘'Kamu
ini orang miskin. Jadi jangan mau dihina. Jangan miskin dua kali!'' tambah
saya. Dan ia setuju dengan nasihat ini. Ya, dari awal, kami memang orang-orang
yang mendidik diri sendiri untuk kuat di hadapan kemiskinan. Kami menjalaninya
dengan gembira. Kepada orang-orang yang menghina dan meremehkan kemiskinan, kami ganti akan memandang
mereka dengan sebelah mata. Agak pendendam memang. Tapi teknik ini pasti ini
adalah usaha yang cerdas untuk melawan tekanan.
Lewat Anif inilah
Novel
Ayat-Ayat Cinta cetakan pertama dibawa ke rumah dan saya membacanya. Dalam
soal menulis, saya merasa tidak kalah hebat dari Habib, maka jika bicara soal
teori sastra, saya bisa lebih berbusa-busa dari Habib. Jadi saya tidak tertarik
membicarakan novel Habib itu dari sudut kesusastraan. Tetapi novel ini rampung
saya baca dan di beberapa bagian saya
terharu dibuatnya. Kesimpulan saya sederhana; inilah buku yang ditulis dengan
ketulusan. Tumpah begitu saja. ‘'Kakakmu ini Hamka kecil,'' gumam saya saat
itu. Cuma berguma memang. Tetapi kalimat itulah yang kini ada sebagai
endorsement di novel
Ayat-ayat Cinta cetakan berikutnya.
Waktu itu saya benar-benar berguman karena secara disiplin bercerita,
bahkan sastrawan sebesar Hamka saya anggap begitu begitu saja. Saya merasa lebih
bisa mengarang-ngarang plot yang dramatik, kalimat-kalimat yang kenes dan diksi
yang gaya.
Tetapi Hamka tidak. Ia lurus saja seperti layaknya gaya orang tua. Tetapi membaca novelnya, air mata
saya bisa berleleran. Habib di mata saya, memiliki konteks seperti ini. Oo,
ternyata ada yang lebih tua umurnya dari apa yang saya pahami sebagai sastra
itu. Ada
sesuatu yang lebih bertenaga dari sekadar
teori sastra. Untuk sementara saya ingin menyebutnya sebagai jiwa yang
menyeluruh. Tak peduli apapun kata-katamu, jalau jiwamu tumpah seluruh, ia akan menjadi gelombang yang luar biasa, pikirku. Tetapi aku
tidak cukup puas dengan kata-kata sendiri ini. Aku membutuhkan seorang seperti Ignas Kleden untuk mau menjelaskan kepada
khalayak dengan bahasa yang lebih sekolahan. Ignas adalah manusia sekolahan
yang saya kagumi. Ia punya hutang pada saya untuk kejelasan ini.
Oya, saya masih akan berceirta tentang Habib dan Anif, tetapi terpaksa harsu bersambung
di kolom berikutnya. Tunggu saja!
Prie GS
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
|
 |
Bahu Membahu Membela Yang Keliru
|
 |
Berkah Seorang Penipu
|
 |
Tentang Tiga Perjalanan
|
 |
Suatu Malam Ketika Hatiku Sedih Sekali
|
 |
Pulang Hanya Untuk Pergi, Pergi Hanya Untuk Kembali
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Mewujudkan Kesuksesan Tanpa Batas
(Artikel Tetap) -
Kamis, 27 Maret 2008
|
 |
Mau Menjual? Diamlah Sejenak!
(Artikel Tetap) -
Jumat, 28 Maret 2008
|
 |
Software-nya Orangtua
(Artikel Tetap) -
Senin, 31 Maret 2008
|
 |
Masalah Membuat Anda Menjadi Kuat
(Artikel Tetap) -
Selasa, 01 April 2008
|
 |
Ilmu Yang Menerangi Hati
(Artikel Tetap) -
Rabu, 02 April 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
36 Ji (strategy) For Happy Life - Strategy Ke-31
(Artikel Tetap) -
Selasa, 25 Maret 2008
|
 |
Pecah Telor
(Artikel Tetap) -
Senin, 24 Maret 2008
|
 |
Benarkah Ada Keberuntungan?
(Artikel Tetap) -
Minggu, 23 Maret 2008
|
 |
Nilainya Melebihi Satu Milyar Rupiah
(Artikel Tetap) -
Rabu, 19 Maret 2008
|
 |
Work-life Balance
(Artikel Tetap) -
Senin, 17 Maret 2008
|
|
|