VI. Bai ~ Posisi Lemah/Terkalahkan
Anggrek Indah
nan Anggun
Tersebutlah sebuah gugus kepulauan di bagian
selatan bola dunia, kepulauan Anggrek
namanya. Sungguh gugus kepulauan yang sangat
kaya, hasil alam dan subur, alamnya indah memikat hati. Bepuluh-puluh abad lamanya kabar kemakmuran
dan keindahan Anggrek tersohor seantero jagad dan
seakan tak pernah habis dinikmati oleh penduduk dan pelancong yang singgah di
negri Anggrek. Tidaklah heran semakin hari berduyun-duyun orang-orang dari
berbagai penjuru dunia datang mengadu peruntungan hingga bermigrasi dan menetap
di Anggrek nan makmur ini.
Berkembang dari kelompok-kelompok masyarakat pendatang
dari berbagai negeri yang kemudian sebagian menetap, kepulauan Anggrek berkembang menjadi sebuah komunitas
baru yang multi etnis dan kultural. Mereka mempunyai toleransi satu sama lain
yang sangat tinggi, saling menghargai dan menghormati, sungguh sebuah harmoni kehidupan
yang nyaman dan selaras.
Kepulau Anggrek semakin berkembang menjadi
jalur dagang dan budaya, sehingga mau tidak mau harus mulai dibentuk tatanan pemerintahan
untuk mengatur kehidupan masyarakat yang mulai komplek.Dari kelompok masyarakat
Anggrek telah menjelma menjadi suatu kerajaan muda, walaupun masyarkatnya
majemuk yang berasal dari berbagai bangsa dan keturunan, namun harmoni bermasyarakat
tetap saja selaras.
Tahunpun berlalu, windu berganti abad, kekayaan dan
harmoni kehidupan dan kekayaan Anggrek seolah tidak ada habisnya dituai oleh, hingga
suatu ketika muncul kelompok masyarakat Buaya Putih yang dimotori
oleh pihak sangat berambisi untuk menguasai kekayaan negri Anggrek, namun selama
keutuhan dan harmoni yang selarah terus terpelihara dalam masyarakat siapapun tidak
akan dapat menguasai negri anggrek untuk kepentingan pribadi atau
kelompok.
Buaya putih memulai misinya dengan menciptakan polarisasi
atau kutub-kutub dalam kelompok masyarakat.
Mulailah muncul kelompok yang menamakan dirinya sebagai penduduk Asli,
walaupun sebenarnya juga sangat diragukan antara mana yang disebut asli dan
pendatang, karena sedianya Anggrek juga terbentuk oleh kumpulan masyarakat
pendatang.
Tahap selanjutnya juga tercetus
kelompok yang menyatakan dirinya lebih Asli, dan sementra itu kelompok pendatang
sendiri juga mulai terpecah dan mulai cenderung berkelompok berdasarkan negri
asal bahkan suku asal mereka. Masing masing mulai terpolarisasi untuk
memperjuangkan hak-hak pribadi atau kelompok tertentu, tidak jarang mulai
timbul gesekan-gesekan kepentingan yang memanas dan melelehkan sinergi sebagai
bangsa Anggrek yang harmonis.
Carut-marut, ini adalah kondisi negri
Anggrek, namun inilah saat-saat
yang diinginkan Buaya Putih. Saling curiga antar kelompok,
saling membatasi diri dalam pergaulan yang pada akhirnya mulai berdampak pada
kelangsungan perdagangan dan ekonomi negri Anggrek yang
mengalami kemuduran. Tidak ada lagi irama harmoni
dalam kehidupan masyarakat, apalagi kebersamaan dalam membangun negri Anggrek.
Secara meluas polarisasi dan disharmoni ini berdampak
pada kemakmuran rakyat, banyak pengangguran, kesenjangan
kekayaan antara kelompok elite dan miskin semakin jauh, kelaparan dan kejahatan
terjadi di mana-mana. Lebih kacau lagi polarisasi Buaya Putih
juga menimbulkan keuntungan
bagi kelompok-kelompok tertentu yang akhirnya juga berusaha
memelihara krisis negri Anggrek.
Sungguh mengenaskan, kelimpahnya yang sedianya merupakan
anugrah gratis dari kebesaran Tuhan
terhadap bangsa Anggrek, justru menjadi
bumerang membuat Negri Anggrek terpuruk dan menjadi obyek gembul
untuk diserap habis kekayaanya oleh pihak Buaya Putih. Tidak jelas siapa
yang mendalangi Buaya Putih, namun yang jelas kekacauan di negri Anggrek telah
meluas dan di sungguh diluar kontrol. Bahkan komponen bangsa Anggrek sendiri
mulai meragukan apakan harus tetap bertahan sebagai Bangsa Anggrek yang tidak
punya arah masa depan yang jelas.
Ayam jago berkokok, matahari mulai timbul menyapa pagi.
Sayup-sayup terdengar merdunya irama rebab diiringi nyayian kecil di jalan
menuju pasar Anggrek, sebuah pasar besar yang merupakan detak jantung negri
Anggrek. Sungguh merdu dan riang irama lagu itu, sehingga setiap orang yang
mendengar seolah tersihir untuk bergumam mengikuti irama lagu itu.
Bangkitlah Anggrek untuk Anggrek
Anggrek Indah nan
Anggun, Bangkitlah dan Miliki Dirimu
Anggrek Indah nan
Anggun, Bangkitlah dan Bersatulah
Anggrek Indah nan
Anggun, Bersatulah dan Berjayalah
Bangkit, Bersatu dan Berjayalah Anggrek untuk Anggrek
Bodoh atau mungkin gila, begitulan
pandangan umum yang mengganggap bersatu
untuk bersumbangsih kepada Negri Anggrek adalah omong
kosong, memikirkan saja sudah tidak ada gunanya dan buang-buang
waktu, lebih baik berpikir dan berbuat untuk perut
dan kemakmuran sendiri.
Bangkitlah Anggrek, lagu ini sangat mudah dihapal dan
sangat menyenangkan untuk dilantunkan. Sangking mudah dan enak didengar, lagu
yang terkesan melankolis dan heroik ini mulai menular dengan cepat mulai dari
anak-anak, sekolah-sekolah, hingga kelompok-kelompok anak muda, bagaikan hit
yang sangat mewabah di negri anggrek.
Bangkitlah Anggrek bahkan telah menginspirasi banyak
pembicaraan dan pemikiran dari mulai kuli pasar, petani, pedagang, pelajar,
seniman hingga pegawai kerajaan untuk merindukan kembali mereguk manisnya masa
jaya negri Anggrek yang penuh solidaritas, toleransi, adil dan makmur.
Berawal dari lagu kemudian menjadi pembicaraan dan
pemikiran, akhirnya jadi gerakan nasional yang menuntut perubahan sikap hidup
bermasyarakat dan bernegara menuju negri Anggrek yang Bangkit, Bersatu dan
Berjaya. Negri Anggrek yang Bangkit,
Bersatu dan Berjaya memang sebenar-benarnya secara sumberdaya alam dan
masyarakatnya sangat mungkin terjadi, apabila bangsa Anggrek tidak
terkotak-kotak dalam polarisasi yang sangat kontra produktif.
Gerakan Bangkitlah Anggrek bermula dari perubahan sikap mental
pribadi menuju keluarga, kemudian dari keluarga menuju golongan dan masyarat
dan bermuara menjadi gerakan nasional. Mulai muncul rasa saling keterbukaan antar
pribadi dan kelompok, saling meminta maaf dan menerima antar pribadi dan
kelompok yang kemudian diikuti tumbuhnya saling percaya yang semakin membesar
dan membesar.
"Negri Anggrek Bangkit, Bersatu dan Berjaya" menjadi dasar
semangat bersama Bangsa Anggrek untuk bergerak merubah diri. Dari satu titik pandang
misi yang sama membentuk negri dan bangsa Anggrek. Gerakan Bangkitlah Anggrek
terus bergulir, kotak-kotak kelompok dan saling curiga semakin tipis dan
menghilang. Buaya Putih dan kelompok-kelompok pecundangpun tidak mendapat
tempat lagi di masyarkat dan tersingkir alami. Kini semua orang mempunyai misi
jelas sebagai bangsa Anggrek, sebagai komponen bangsa wajib masing-masing bertanggung
jawab untuk Bangkit, Bersatu dan Berjaya untuk membangun Negri Anggrek untuk
Negri Anggrek.
Tidak mudah, 10 th Negri Anggrek berada dalam pergumulan
untuk menjalankan kewajiban berbangsa dan bernegara dengan misi bersamanya dan
mengesampingkan interes pribadi dan golongan. Kini Negri Anggrek telah menjelma
Negri Berjaya dan sebuah Bangsa yang solid dan disegani karena prestasi
gemilangnya sebagai bangsa yang besar, bersatu dan berjaya.
Jelata pelantun lagu Bangkitlah Anggrek,
Jelata adalah seorang seniman jalanan picisan dengan lugunya melantunkan
berulang-ulang dan riang lagunya yang terkesan sangat naif di tengah situasi
tanpa harapan. Mimpi dan dorongan spirit yang luhur yang timbul dari jiwa
Jelata untuk memainkan senar rebab dan menyanyi. Tak seorangpu tahu kemana
rimbanya si Jelata, tapi yang jelas kini semua orang menikmati buah dari biji
yang digulirkan oleh Jelata menjadi sebuah gerakan perubahan yang membuat orang
berpaling dari kondisi pribadi atau golongan, menjadi semangat Bangsa Anggrek
untuk mewujudkan kembali kejayaan Anggrek untuk Anggrek indah nan Anggun.
Pembaca yang budiman,
Anggrek
memang indah dan kaya, Buaya Putih sangat jeli menciptakan dan memanfaatkan
kekacauan untuk keuntungan pribadi.
Jelata
dalam mimpi dan kerinduan akan kejayaan masa lalu yang dituangkan dengan spirit
murninya melalu sebuah lagu yang dibuat dengan cermat akhirnya menggugah orang
kembali untuk berpaling pada kebangkitan dan kesatuan Anggrek untuk berjaya
kembali.
Semakin
kuat gerakan "Anggrek Bangkit" akhirnya membobol tembok polarisasi antar
kelompok dan mengembalikan saling percaya dan bangkit sebagai Bangsa Anggrek
dalam kesatuan misi berbangsa dan bernegara. Buaya putih tersingkir alami,
Anggrekpun kembali Berjaya.
Pesan moral strategi ini,
Keindahan
dan kenikmatan merupakan pedang bermata dua, bisa menjadi senjata yang
menguntungkan sekaligus menjadi senjata yang mematikan diri kita sendiri.
Menggugah agar semua orang berfokus pada keindahan sebagai
dasar yang mempersatukan semua komponen
untuk menuju kebahagiaan bersama tentunya merupakan sebuah kebijaksanaan.
Kisah asli terjadi saat Lu Bu jendral besar Han mendukung ayah angkatnya, Dong Zuo penasehat
dinasti Han menempatkan Xian Di sebagai raja boneka. Wang Yun mentri Han yang setia meminta Diao
Chan putri cantiknya untuk melakukan misi khusus untuk menyelamatkan Han dari komplotan
Lu Bu - Dong Zhuo dengan mempersembahkan Diao Chan kepada Lu Bu.
Di suatu pertemuan khusus, Diao Chan menari
dan menyanyi di depan Dong Zhuo dan akhirnya membuat Dong Zhuo tertarik untuk
meminang Diao Chan. Diao Chan bersedih dan mengadu kepada Lu Bu, dirinya akan
bunuh diri karena tidak mau menjadi selir Dong Zhuo. Lu Bu marah, beberapa hari kemudian didapati
Dong Zhuo terbunuh oleh Lu Bu.
Riduan
Goh ~
Wealth is Mine
Mau 30 JT Side Income ?
Klik
www.pamrich.com
Nantikan Strategy #32
Hanya untuk :
www.andriewongso.com
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Riduan Goh - Wealth is Mine
|
 |
36 Ji (strategy) For Happy Life - Strategy Ke-31
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Suatu Hari Ketika Ayat-ayat Cinta Ngetop Sekali (1)
(Artikel Tetap) -
Rabu, 26 Maret 2008
|
 |
Mewujudkan Kesuksesan Tanpa Batas
(Artikel Tetap) -
Kamis, 27 Maret 2008
|
 |
Mau Menjual? Diamlah Sejenak!
(Artikel Tetap) -
Jumat, 28 Maret 2008
|
 |
Software-nya Orangtua
(Artikel Tetap) -
Senin, 31 Maret 2008
|
 |
Masalah Membuat Anda Menjadi Kuat
(Artikel Tetap) -
Selasa, 01 April 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Pecah Telor
(Artikel Tetap) -
Senin, 24 Maret 2008
|
 |
Benarkah Ada Keberuntungan?
(Artikel Tetap) -
Minggu, 23 Maret 2008
|
 |
Nilainya Melebihi Satu Milyar Rupiah
(Artikel Tetap) -
Rabu, 19 Maret 2008
|
 |
Work-life Balance
(Artikel Tetap) -
Senin, 17 Maret 2008
|
 |
Tidur Di Atas Kayu Bakar Dan Mencicipi Empedu
(Artikel Tetap) -
Senin, 17 Maret 2008
|
|
|