Hidup adalah
pilihan ! Memang ada banyak pilihan hidup di dunia ini, namun jika kita mengerti kodrat kita sebagai manusia yang jelas-jelas
ciptaan-Nya paling tinggi dan mulia - maka pilihan kita cuma satu : menjadi
manusia luar biasa, manusia dahsyat, yang dalam bahasa saya disebut :
XO person - eXtraOrdinary person ! Seperi
dikatakan James Rohn (salah satu tokoh pengembangan
diri yang luarbiasa) : tugas kita di dunia cuma bertumbuh, sukses, sejahtera
dan bahagia selama di dunia. Inilah kriteria manusia super normal,
extraordinary !
Stephen Covey sendiri mengatakan bahwa karunia terbesar manusia dari Tuhan
adalah
free will to choose. Kehendak
bebas untuk memilih ! Maka kini
gunakan segera karunia itu, gunakan kehendak bebas untuk memilih. Dan pilihannya cuma satu :
be XO (eXtraOrdinary). Jika demikian halnya, kenapa lebih banyak
orang kurang sukses bahkan sama sekali gagal dalam hidupnya ? Ada beberapa jawaban mendasar untuk itu :
Pertama, sedikit sekali orang yang menggunakan
kehendak bebasnya untuk sukses dan menjadi super normal. Banyak orang "ingin"
sukses dalam hidupnya, namun sedikit orang yang "memilih"
untuk sukses. Menginginkan dan memilih, sungguh dua kata dan terminologi yang mutlak
berbeda. Ingin, bisa jadi sekadar
kepengin, membayangkan, namun cenderung tetap tinggal dalam angan-angan dan mimpi
kosong. Sedangkan memilih, sudah
melibatkan segenap komitmen, sikap, tekad, dan totalitas jiwa-raga untuk
sukses. Ekstrimnya, darah pun telah
disiapkan untuk menghidupi sebuah
pilihan.
Kedua,
adanya
mindset yang salah dalam
menjalani kehidupan ! Butir kedua ini akan dibahas lebih mendalam, sebab
demikian banyak kesusahan, kesemwrawutan, dan kesimpang-siuran kehidupan
berawal dari
mindset yang salah ini.
Baiklah, saya mulai dengan frase
berikut :
Hampir semua orang ingin kaya !
Perhatikan di sekeliling kita ! Di toko buku, di
ruang seminar atau pelatihan, iklan, dan banyak lagi lainnya - mata dan benak kita dijejali oleh kata serta
terminologi "kaya, kaya, dan kaya". Artinya, ada sekian banyak buku, wacana,
dan berbagai kegiatan lain yang mempromosikan, mengajarkan,
mengkampanyekan "bagaimana kita
menjadi kaya ?" Lebih konkretnya, semua cara dan metode menjadi kaya itu
terkait langsung dengan "uang, uang
dan uang !"
Ada yang lebih dahsyat
lagi, sebagian pihak malah menjejali mata dan benak kita dengan "bagaimana menjadi kaya dengan cepat !". Dosakah menjadi kaya ? Salahkah
mempunyai banyak uang dan harta ? Sama sekali tidak. Tapi sekian banyak
kampanye tentang menjadi kaya dan segala sesuatu menyangkut kekayaan, bisa
membuat kita
misleading, disorientasi
dalam menjalani kehidupan dan fungsi hidup kita.
Padahal, kalau bicara soal
menjadi kaya (dengan cepat), ada
isyarat dari Aidil Akbar Madjid
(Chairman IAFRC-Indonesia, Senior Partner Pavillion
Wealth Management) yang menyimpulkan soal ini dari buku Burton Malkiel -
dari semua kiat yang diberikan - menjadi kaya itu cuma terangkum dalam dua kata
: disiplin dan kesabaran (Kontan, No. 46, Tahun X, 21 Agustus 2006).
Maka, kalau diperhatikan,
setidaknya ada dua gejala besar dalam kehidupan masyarakat kita belakangan ini;
a) Gejala dan gerakan yang gerah dari sebagian (bahkan mungkin mayoritas) masyarakat yang ingin (cepat) kaya, dan b) Gejala masyarakat yang mengalami
kekecewaan akibat keinginannya untuk menjadi kaya (dengan
cepat) sulit terpenuhi. Para peserta seminar, pelatihan, atau mereka yang
membaca buku-buku praktis menjadi kaya dan banyak uang - ketika harus
mempraktekkannya dalam kehidupan nyata mereka masing-masing - justru sering
kebingungan dan mengalami disorientasi.
Jadi dewasa ini, khususnya
masyarakat di Indonesia - mengarah
pada apa yang saya sebut sebagai
"the
disoriented society " - "masyarakat hilang arah". Parahnya, itu semua
terjadi di tengah kehidupan yang
semakin pengap dan susah. Kaya (dengan cepat) susah dicapai, mengalami kejenuhan, kebingungan, dan akhirnya demotivasi.
Ketika itu terjadi, fungsi hidup keseharian mereka akhirnya malah
amburadul. Hidup dalam angan-angan, mimpi kosong -
persis orang yang hidup dibuai fatamorgana dan ilusi obat psikotropika.
Untuk itu kita perlu menghayati terlebih dulu sebuah proses kehidupan yang
telah berlangsung bukan hanya berabad-abad lamanya, namun abadi sifatnya.
Seperti sungai mengalir dari hulu ke
hilir dan akhirnya bermuara di samudra lepas. Seperti proses dari yang awal
menuju akhir. Maka dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah, ada sebuah proses
yang bergerak dari "kondisi sejati" menuju "konsekuensi logis".
Kondisi
sejati adalah hulu, awal. Konsekuensi logis adalah hilir, akhir. Konsekuensi
logis sekadar sebuah kondisi yang akan dan pasti terjadi, jika kita telah
melakukan atau melaksanakan (kondisi) yang sejati. Contoh sederhana, jika kita "makan", maka kita
akan dan pasti "kenyang". Bila
kita "merampok", maka kita akan "masuk penjara". Keadaan kenyang dan masuk
penjara inilah yang disebut sebagai konsekuensi logis.
Bagi seorang atlit,
konsekuensi logisnya adalah hadiah, uang, ketenaran, atau piala kejuaraan.
Ketika seseorang menjadi atlit atau "juara sejati", maka hadiah atau uang akan
datang dengan sendirinya. Pelajar
sejati, maka konsekuensi logisnya adalah peringkat, nilai baik, kelulusan, dan
seterusnya. Maka yang perlu lebih dulu dikejar adalah bagaimana menjadi atlit,
pelajar atau profesi lain apapun yang "sejati". Ketika kondisi sejati itu telah
dicapai, maka segenap konsekuensi logis akan dan pasti datang dengan sendirinya.
Cuma celakanya, jaman dan
masyarakat modern memutarbalikkan proses kehidupan abadi itu. Hampir setiap
upaya kehidupan ditujukan lebih dulu untuk mengejar
konsekuensi logis, bukan yang sejati. Di dunia olah raga - pelatih, manajer,
club, cenderung mendorong atlit untuk lebih dulu mengejar hadiah atau uang, bukannya mendorong
atlitnya untuk lebih dulu menjadi atlit atau juara sejati.
Di dunia pendidikan - orang
tua, guru bahkan sekolah serta perguruan tinggi, cenderung mendorong siswa dan
mahasiswanya untuk lebih dulu mengejar
nilai atau kelulusan sebagai konsekuensi
logis, bukannya menjadi pelajar sejati. Di dunia politik, para pemimpin negeri
lebih memilih mengejar dulu konsekuensi logis, yakni kekuasaan -
dibanding untuk memprioritaskan
menjadi pemimpin sejati.
Hampir semua dimensi kehidupan
diperlakukan secara salah-kaprah seperti itu. Akibatnya, terjadi banyak
disorientasi kehidupan. Demi semua konsekuensi logis, segala cara digunakan. Atlit
melakukan d
oping, pelajar membeli
soal ujian, joki, dan lainnya. Mental sudah rusak lebih dulu. Namun itulah
ironi kehidupan, biasanya upaya-upaya semacam itu sangat digemari, serba instan, melupakan yang sejati.
Perlu ditegaskan lagi
perbedaan antara "kesejatian" dengan
"konsekuensi logis" ini. Kesejatian
wajib dikejar lebih dulu, dan "konsekuensi logis" - apapun bentuknya -
akan datang mengiringi. Jangan
dibalik, konsekuensi logis dikejar lebih dulu. Jika ini yang terjadi, maka
berlakulah tuah "jemari menunjuk bulan" - bukan bulan yang kita pandang,
melainkan jari jemari kita sendiri. Kita tak pernah melihat dan sampai ke
bulan, sungguh sebuah kehilangan besar dalam sebuah kehidupan.
Kerancuan menentukan "mana
lebih dulu" :
kesejatian atau konsekuensi logis - hanya akan
menimbulkan banyak "penderitaan,
kekecewaan, keberhasilan sesaat,
demotivated dan pecahnya kepribadian". Inilah yang dimaksud dengan membalik "proses kehidupan". Dan biasanya, di
sinilah kita sering terjebak. Kita, sadar atau tidak lebih suka mengejar lebih dulu berbagai konsekuensi logis.
Baiklah, jatuhkan segera
pilihan Anda untuk : 1) sukses, 2) sukses, dan 3) sukses ! Selanjutnya,
change your mindset : kejar dulu "kesejatian" hidup Anda, tak
peduli siapa dan sebagai apa pun Anda saat ini. Jadilah lebih dulu manusia
sejati,
XO person ! Uang, kekayaan,
nama besar, dan seterusnya hanyalah konsekuensi logis - yang akan datang dengan sendirinya. Jangan semua konsekuensi logis itu dulu yang
dikejar. Ketika Anda sudah mampu merubah
mindset,
kehidupan Anda akan berubah drastis.
So, be XO first and then you get rich !
Itu sudah pasti ! Pada kesempatan mendatang, saya akan berbagai tentang metode,
kiat serta teknik-teknik lebih konkret
untuk menjadi
XO person !
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Herry Tjahjono - Corporate Culture Therapist, Penulis buku
|
 |
Be Xo First (then You Get Rich) !
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Fokus Pada Tujuan Yang Pasti
(Artikel Tetap) -
Senin, 17 Maret 2008
|
 |
Suatu Malam Ketika Hatiku Sedih Sekali
(Artikel Tetap) -
Senin, 17 Maret 2008
|
 |
Tidur Di Atas Kayu Bakar Dan Mencicipi Empedu
(Artikel Tetap) -
Senin, 17 Maret 2008
|
 |
Work-life Balance
(Artikel Tetap) -
Senin, 17 Maret 2008
|
 |
Nilainya Melebihi Satu Milyar Rupiah
(Artikel Tetap) -
Rabu, 19 Maret 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Sudah Saatnya
(Artikel Tetap) -
Jumat, 14 Maret 2008
|
 |
Selimut Dalam Tidurku
(Artikel Tetap) -
Kamis, 13 Maret 2008
|
 |
Begini Seharusnya Pelayanan Call Center (bagian 2 - Tamat)
(Artikel Tetap) -
Rabu, 12 Maret 2008
|
 |
Faktor Luck Dalam Kesuksesan
(Artikel Tetap) -
Rabu, 12 Maret 2008
|
 |
Buah Kelapa Yang Mematikan!
(Artikel Tetap) -
Selasa, 11 Maret 2008
|
|
|