Dini hari ketika udara dingin
sekali. Sudah saatnya bangun pagi, tetapi tidur masih enak sekali. Jangankan
memaksa bangun, untuk bergerak saja rasanya sayang sekali. Khawatir kualitas
tidur yang sedang enak-enaknya rusak seketika. Sebenarnya aku tidak benar-benar
tidur karena kesadaran sudah separoh
jaga. Tetapi juga bukan benar-benar terbangun karena kantuk masih begitu
hebatnya. Inilah yang menjengkelkan dari tidur, kenyenyakannya justru suka datang
di jam-jam ketika kita harus bangun dan bekerja.
Begitulah pagiku saat itu. Sudah saatnya bangun mestinya tetapi
kantuk masih menggoda. Sekali lagi; jangankan bangun, bahkan untuk menarik
selimut pun, butuh kemauan ekstra. Sekali waktu untuk sekali tarikan tak apa-apa, tetapi jika telah
berkali-kali ditarik, selimut ini belum rapat juga, kacau jadinya. Lebih baik
menyerah pada kantuk, walau masih ada sisa tubuh yang terbuka daripada seluruh
tidur rusak semua. Sisa tubuh itu bisa cuma ujung dengkul, bisa cuma ujung
kaki, atau sekadar tengkuk, tetapi astaga, itulah lubang-lubang angin , yang membuat
tidur dahsyat ini tak berjalan sempurna. Lubang angin itu terasa seperti teror yang mengejek
senantiasa, tetapi entah kenapa aku tak berdaya mencegahnya. Apalagi aku amat gemar berselimit sarung. Dan
inilah watak sarung itu; ditarik di sini merosot di sana. Nutup di sana bolong di sini. Menjengkelkan sekali.
Tidur
yang begini kemudian menjadi penuh paradoks: ia terlalu nyenyak untuk dibuat
bangun, tetapi terlalu terganggu untuk dibuat nyenyak. Sebetulnya butuh langkah sederhana untuk mengatasinya, tinggal bangun,
menata diri, lalu tidur lagi. Tetapi siapa bilang langkah ini sederhana. Karena
jika aku sudah mampu terbangun, tidur
nyenyak itu pasti sudah tak ada. Itulah misteri
tidur, ia tak bisa bangun di tengah jalan. Itulah kenapa seorang yang
dibangunkan paksa bisa marah sekali. Jika pun ia bis menahan marah, tubuhnya suka
gagal menahan gelisah. Itulah kenapa Rockefeller meminta siapa saja tak
menganggu tidurnya meskipun ia presiden
Amerika.
Maka
kuteruskan tidur konyolku itu. Tidur nyenyak sambil jengkel karena lubang angin masih menyembur di kakiku. Tetapi pada saat
itulah berkah Tuhan datang, istriku yang telah terbangun tampaknya melihat posisi
tubuh suaminya yang payah. Centang perenang sedemikian rupa sehinga sang selimut itu tak memadai. Ditatanya selimut itu
pelan sekali khawatir aku terjaga, hingga kehangatanku merata. Ia menyangka aku sedang amat terlena. Padahal
ia salah sangka. Aku mengerti seluruh ekspresinya, gerakan tangannya, sikap
hati-hatinya. Ia hendak menjaga suaminya seperti tengah melindungi seorang anak-anaknya. Amboi, betapa aku tega
menipunya!
Sebetulnya
sambil sok terlena, aku sudah sangat ingin tertawa. Istriku sedang terpedaya dengan kenyenyakanku yang semu
itu. Bahkan sambil nyenyak begitu, diam-diam aku tegang dan berdoa, agar ia mau
menata selimutku. Kenapa tegang? Karena
doa semacam ini tidak mudah dikalbulkan.
Alasannya objektif saja. Pertama hari memang sudah pagi. Tidak pantas jika orang tua tidak mendahului anak-anaknya
bangun pagi. Tidak pantas membiarkan istri sendirian berkutat dengan tumpukan tugas pagi,
sementara aku pura-pura tidak mengerti. Istri yang cerdas, pasti akan pura-pura
menarik selimut itu tanpa sengaja sehingga kedinginan akan menghajar sekujur
tubuh suaminya. Dengan begitu ia akan gagal melanjutkan tidur salah waktunya
dan bisa membantu kerepotannya. Tetapi tidak. Doaku ternyata dikabulkan. Istriku
merapatkan selimut itu ke seluruh tubuhku.
Sejak itu kualitas kemalasanku menjadi amat sempurna.
Cuma
satu tarikan selimut, aku merasa amat menikmati kemanjaan yang belum kurasa
sebelumnya. Memang cuma satu tarikan. Tetapi di dalam garis penarik itu memuat sekali
titik-titik yang lengkap isinya. Ada
pemberian tanpa butuh balasan, ada tindakan saling melindungi dan memanjakan,
ada kerelaan membiarkan pihak lain
menikmati rezeki walau itu cuma berupa kenyenyakan. Sejak saat itu, aku bergairah sekali mencari orang-orang yang
tertidur di sebelahku untuk kubenahi selimutnya. Walau mungkin orang-orang itu
tidak sedang benar-benar tertidur,
sehingga mengerti perbuatanku. Tapi apa peduliku, kami bisa pura-pura untuk tidak saling tahu.
Tak apa saling berpura pura jika hasilnya,
adalah kebahagiaan bersama yang begitu jelasnya.
Prie GS
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
|
 |
Kita Adalah Orang-orang Yang Menunggu
|
 |
Persainganku Dengan Bae Young Jun
|
 |
Lidah Simon Cowell
|
 |
Sandal Buruk Rupa (2)
|
 |
Buah Sengsara
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Sudah Saatnya
(Artikel Tetap) -
Jumat, 14 Maret 2008
|
 |
Be Xo First (then You Get Rich) !
(Artikel Tetap) -
Jumat, 14 Maret 2008
|
 |
Fokus Pada Tujuan Yang Pasti
(Artikel Tetap) -
Senin, 17 Maret 2008
|
 |
Suatu Malam Ketika Hatiku Sedih Sekali
(Artikel Tetap) -
Senin, 17 Maret 2008
|
 |
Tidur Di Atas Kayu Bakar Dan Mencicipi Empedu
(Artikel Tetap) -
Senin, 17 Maret 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Begini Seharusnya Pelayanan Call Center (bagian 2 - Tamat)
(Artikel Tetap) -
Rabu, 12 Maret 2008
|
 |
Faktor Luck Dalam Kesuksesan
(Artikel Tetap) -
Rabu, 12 Maret 2008
|
 |
Buah Kelapa Yang Mematikan!
(Artikel Tetap) -
Selasa, 11 Maret 2008
|
 |
Kembangkan Jiwa Sukses Anda!
(Artikel Tetap) -
Senin, 10 Maret 2008
|
 |
Model Kepemimpinan Menurut Fisika (bagian 4 Tamat)
(Artikel Tetap) -
Selasa, 04 Maret 2008
|
|
|