Dari kaget lama-lama menjadi
takjub, itulah perasaan saya setiap melihat Simon Cowell bicara. Dunia tahu
siapa orang ini, terutama penonton
American
Idol. Ia adalah salah seorang juri yang paling dibenci peserta karena
kata-katanya. Jika rem, mulut Simon adalah rem blong. Ia akan menyambar apa
saja yang ada di depannya meskipun taruhannya harus mati bersama. Itulah watak
rem jika sudah blong. Tetapi bahwa Simon
masih hidup sampai sekarang dan ia tidak dikeroyok massa, adalah fakta yang menakjubkan. Kesimpulannya, rem
orang ini memang blong, tetapi ia pasti pengemudi yang hebat karena hingga kini
masih selamat. Ia bukan cuma masih hidup,
tapi juga kaya raya.
Pertama kali melihat gaya Simon bicara, bulu kuduk saya meremang. Bagaimana bisa ia demikian telengas memaki
siapapun yang ada di depannya. Para peserta kontes Idol itu, adalah anak-anak muda yang
masih rapuh. Kalah kontes saja sudah kesakitan
luar biasa, apalagi kalah sambil dihina.
Mereka akan habis dalam sekejab dilumat agresi dan destruksi Simon. Dan seluruh dari gaya Simon adalah kumpulan dari keduanya: ia tidak cuma
mengagresi, tetapi juga mendestruksi. Bagaimana mungkin manusia setega itu dibiarkan hidup dan malah
jadi juri, batin saya ngeri.
Tapi untunglah, dari ngeri saya berbalik geli. Eh, Tuhan
pasti sedang menyodorkan teka-teki
dengan menciptakan orang-orang seperti
Simon ini. Pertama, sulit membayangkan American Idol tanpa kehadirannya. Maka
Simon ini sesungguhnya pasti tidak jahat, melainkan sekadar terbiasa mengatakan
kebenaran. Indonesia Idol menjadi kontes yang memukau, pasti karena dibangun
dengan etos kebenaran semacam ini. Mencari yang benar itulah formulanya. Orde
Baru, menjadi Orde yang tragis, pasti karena sedikit saja waktu itu dari kita
yang berani mengatakan kebenaran. Karena betapa tidak mudah memang, mengatakan
yang benar kepada pemimpin, karena ia tidak selalu enak di pendengaran.
Simon menempuh cara sebaliknya. Ia tidak menjilat kepada
penonton. Ia bukan tidak mengerti tips untuk ditepuki. Jika mau mudah saja
baginya memancing tepukan. Tetapi hal itu tak ia lakukan, karena selalu ada
jenis tepuk tangan yang bersilang jalan dengan
kejujuran. Tepuk tangan fans terutama, pasti lebih bermodal perasaan katimbang kejujuran. Maka
membayangkan Simon Cowell sebagai pihak yang jujur, pihak yang mau menjadikan dirinya
sebagai korban demi kejujuran, membuat saya berubah pendirian. Orang ini, dikirim
ke dunia pasti bukan untuk menyakiti sesama, melainkan untuk mengajari kita
kuat sakit di hadapan kenyataan.
Karena kepada yang benar, Simon adalah seorang penyayang
yang nyata. Adegan ini buktinya: ketika seorang peserta audisi ada yang begitu buruk nyanyiannya. Semua
juri hendak meledak oleh tawa saat peserta perempuan ini membuka suaranya. Benar-benar
lebih mirip ringkik kuda. Tetapi apa keputusan Simon? Ia tidak menjatuhkan
vonis seperti biasa. Ia malah menyuruh peserta ini menata kembali diri. Ia tahu
suara peserta ini tidak jelek. Ia sejatinya unik. Ia hanya salah baca terhadap dirinya
sendiri. Ia memaksa dirinya menjadi
orang lain. Ia salah melakukan identifikasi dan mencari peta pada idola yang
keliru. ‘'Cari dan dengar lagu Dolly Parton, pelajari dan kembali ke sini,'' perintah Simon.
Dan
benar, setelah diingatkan akan Dolly Parton, peserta ini kembali ke medan audisi sebagai
pribadi yang sama sekali berbeda. Ada nyawa terpendam dalam dirinya, dan nama Dolly parton
membuat peta keunikan itu muncul nyata. Jelas, pekerjaan Simon adalah
menunjukkan jalan, meskipun caranya bisa saja menyakitkan. Di sekitar kita, ada
pribadi seperti Simon ini. Mungkin ia tidak hangat sebagai teman, tidak artistik sebagai partner diskusi,
terlalu ketus dan mudah menyakti, memuakkan
sebagai pemimpin... tapi kuatlah menerima seluruh kesakitannya. Ia diam-diam sedang
membimbing kita menemukan jalan.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
|
 |
Teman Masa Kecilku
|
 |
Suatu Malam Ketika Hatiku Sedih Sekali
|
 |
Bahu Membahu Membela Yang Keliru
|
 |
Ada Langit Di Rumahku
|
 |
Turangga Titihan Sekaring Bawana
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Model Kepemimpinan Menurut Fisika (bagian 2)
(Artikel Tetap) -
Selasa, 19Februari 2008
|
 |
The Power Of Positive Attitude
(Artikel Tetap) -
Selasa, 19Februari 2008
|
 |
Your Life Is Important
(Artikel Tetap) -
Rabu, 20 Februari 2008
|
 |
Evaluasi
(Artikel Tetap) -
Kamis, 21 Februari 2008
|
 |
Model Kepemimpinan Menurut Fisika (bagian 3)
(Artikel Tetap) -
Jumat, 22 Februari 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Janin Mengetahui
(Artikel Tetap) -
Jumat, 15 Februari 2008
|
 |
Menulis Buku Dengan Memanfaatkan Momentum
(Artikel Tetap) -
Kamis, 14 Februari 2008
|
 |
Car And Brain Maintenance
(Artikel Tetap) -
Rabu, 13 Februari 2008
|
 |
Salah Tempat
(Artikel Tetap) -
Selasa, 12Februari 2008
|
 |
Model Kepemimpinan Menurut Fisika (bagian 1)
(Artikel Tetap) -
Senin, 11 Februari 2008
|
|
|