Walaumerangkak
tersendat mungkin banyak di antara kita yang pada akhirnya berhasil
sampai pada titik pemahaman tentang kekuatan diri sendiri. Mengingat
kembali kelebihan-kelebihandan kisah sukses pribadi
memang menjadikan hidup kita lebih berwarna. Tiba-tiba saja kita bisa
merasa lebih besar dan lebih nyaman berdiri di atas pijakan yang
mungkin tak kokoh sekalipun.Lalu pemahaman akan nilai-nilai dan keyakinan pribadi bisa memberi kitainformasitentang apayang penting buat kita dan pada akhirnya membantu kita mengarahkan energi untuk sebuah prioritas yang hendak kita perjuangkan.
Namun apakah semua itu sudah cukup membuat kita mau berkomitmen memperbaiki diri, mengejar apa yang tertinggaldi hari lalu ? Apakah pemahaman diri yang makin baik sudah cukup menjadi bekal agar kita punya dayajuang lebihuntuk
mengoptimalkan apa yang ada ? Bahkan ketika informasi tentang
keseimbangan hidup kita sudah diurai, apakah semua sungguh bisa kita
manfaatkan sebagai momentum penting untuk memperbaiki komitmen kita ?Atau jangan-jangan ada yang masih meragukan peran komitmen.Anda sendiri yang tahu jawabannya.
Yang saya tahu, komitmen adalah salah satu kata kunci saat kita bicara usaha manusia memperbaiki diri.Bahkan pada apapun gerak dan usaha manusia, komitmen menjadinyala api berkobar yang mengarahkan kita pada impian-impian dalam gelap.Komitmen untuk berubah adalah wajah lain dari keping logam bernamaperubahan. Nyaris tak ada perubahantanpa komitmen untukberubah. Hanya ada isapan jempol jika Anda membiarkan impian tanpa dilambari jiwa bernama komitmen itu.
Mempersoalkan komitmenpribadi adalah langkah lain yang
akan mengantar kita untuk makin jelas mendapatkan gambaran akan peta
hidup kita ke depan. Sudah ada banyak sumber daya dan data, namun tanpa
komitmen semua bisa berhenti tak bergerak. Modal yang kita punya tak
bisamembawa perubahan tanpa penggerak bernama komitmen. Komitmen bertindaklah yang akan mulai memutar roda perubahan itu. Mencoba terus memutar roda kehidupan dan penasaran saya terhadap konsep komitmen mengantar saya pada penemuanmenarik berikut ini.
Dari sebuah tulisan saya membaca penggalan sebagai berikut "The achievement of your goal is assured the moment you commit yourself to it." -- Mack R. Douglas Saat
kaki mulai melangkah dan komitmen untuk itu bisa terus dijaga, maka
hanya soal waktu saja kita akan sampai pada tujuan yang kita angankan,
begitu kira-kira pesanyang saya pahami dari kutipan di atas.
Ketika
saya coba menggunakan pernyataan di atas sebagai cermin , maka tetap
saja soal komitmen bukanlah perkara sederhana. Saat mempersoalkan
konsepsi komitmen maka barisan pertanyaan besar lain
yang menyentak saya terkait pada bagaimana cara saya memastikan bahwa
saya mampu terus menyalakan api komitmen dalam diri ?Bukankah
ada banyak impian saya yang terbengkalai, hingga akhirnya saya terlupa
sendiri ? Bukankah ada banyak rencana yang kacau balau, tertimpa banyak
agenda lain yang sayangnya tak juga bisa saya selesaikan ? Bukankah ada
banyak waktu yang akhirnya seakan terbuang sia-sia ?"How do I keep the commitment alive?", adalah pertanyaan besar buat saya.
Maka
saya sedikit terhibur ketika membaca nasehat beberapa guru seputar
menjaga nyala api komitmen itu. Ada beberapa masukan yang layak kita
timbang dan renungkan. Arus utama yang ditawarkan menuntun saya untuk
coba mengkaji dan melihat ke dalam lalu secara perlahan coba
mengarahkan semua tingkatan dan dimensi diri berjalan dan berfungsi
dengan selaras. Benar,
membicarakan komitmen juga menyentuh soal selaras tidaknya pikiran dan
emosi kita dengan apa yang sungguh ingin kita kejar. Dalam hal ini John
Robsonpernah berujar:It's
essential that all aspects of our being align with what we want to do.
If our head affirms that something is important but our body and our
emotions feel no desire to get involved, we will never succeed in our
aims.Tak cukup hanya mengerakan kepala Anda.
Tangan dan emosi Anda perludiselaraskan.
Ini soal "head", "hand" dan juga "heart". Kalau apa yang kita pikirkan
tak selaras dengan emosi kita maka akan makin sulit kita mencapai apa yang
dimaui. Percaya bahwa Anda mampu tidaklah cukup. Juga kesadaran akan
arti penting tujuan Anda belum mengantar Anda kemana-mana, jika pada
kenyataannya kita tak melakukan apa-apasebagai ekspresi pemahaman dan keyakinan itu. Saya
tak hendak mengkritisi anjuran untuk berpikir besar atau berpikir
positif.
Semua tentu punya alasan dan manfaat. Hanya saja, jika kita
hendak merealisasikan impian yang ada, maka menyelaraskan usaha dengan
keyakinan menjadi hal yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Saya
beruntung menemukan anjuran tentang penyelarasan di atas. Saya juga
tercengang saat tahu bahwa ada banyak isu yang perlu dikaji saat bicara
komitmen. Ada banyak dimensi komitmen yang perlu kita dalami, agar apa
yang kita upayakan sungguh bisa membuahkan hasil. Memperjuangkan
apa yang kita mau, ternyata juga mensyaratkan kita untuk memperlihatkan
komitmen di tingkat spiritual. Mengenali motivasi terdalam kita adalah
salah satu langkahnya. Bukankah tak sedikit yang pernah mengingatkan
kita akan pentingnya pemahaman akan motivasi ini ?
Sejalan dengan ini
pengenalan kita akan makna dari tindakan dan tujuan kita juga menjadi
sumber energiyang akan terus menggerakkankita. Menyadari gambaran besar dari apa yang hendak kita kejar akanmemotivasi
kita untuk bergerak dan terus bergerak. Sementara minimnya pemahaman
yang utuh akan tujuan-tujuan kita kadang justru mengantarkan orang pada
kebingungan dan kehampaan. Karenanya banyak guru mengingatkan kita
untuk berpikir jauh ke depan, membuat rencana hari ini untukpersiapanhari akan datang. Tak saja hari 20 atau 50 tahun ke depan, kita juga perlu menghitung kesiapan kitamenujumasa
setelah kehidupan dunia terhenti. Memahami makna penciptaan kita semoga
juga memperkokoh komitmen kita pada tingkat spiritualKomitmen pada tingkatan pikiran dan kesadaran terkekspresikanke dalam bentuk yang beragam.Ada yang sekedarmulai dengan memikirkannya secara mendalam, dan tak sedikit yangmelakukan
visualisasi.
Semakin jelas tujuan Anda, makin kita diharapkan akan
memiliki komitmen untuk meraihnya. Melakukan dialog internal dengan
diri sendiri atau meditasi adalah jalan yang bisa dijadikan alternatif
untuk menancapkan komitmen di tingkat kesadaran dan pikiran kita. Maka,
ada banyak kawan yang aktif mendalami journal writing, mengekspresikan
buah diskusi dengan diri sendiri dan merekampemaknaan terhadap apa yang terjadi di sekeliling merekaSecara
emosi, komitmen dibangkitkan dengan membangun perasaan gembira dan puas
atas apa yang sudah kita dapat. Bersyukur adalah kata sederhana yang
kadang kita lupa melakukannya dalam keseharian.
Bukankah sikap negatif,
sinisme adalah gambaran dari kurangnya rasa syukur. Kita mudah melihat
dengan kaca mata gelap, yang sayangnya kita juga lupa bahwa dengan cara
itu berarti kitatengah membuang energi, yang akhirnya
membuat kita lelah secara mental. Menikmati apa yang ada dan mensyukuri
yang di depan mata mungkin adalah pekerjaan sederhana yang perlu saya
latih kembali. Saya bersyukur tengah diyakinkan bahwa bersyukur adalah
tali yang akan menguatkan komitmen saya secara emosiSebagaimana sudah diulas sedikit di atas, pada akhirnya geraklah yang sungguh mengantar kitapada apa yang kita mau. "Action and Wisdom" kata Andrie Wongso. Bergeraklah yang akan memutar roda kehidupan Anda.
Tak
sekedar bergerak dengan jurus dewa mabuk, kita perlu menghitung gerak
agar lebih efektif dalam mencapai sasaran kita. "Apakah tindakan kita
mengarahkan kita pada tujuan ?", itu adalah salah satu pertanyaan dasar
yang perlu terus kita lontarkan pada diri sendiri, untuk memastikan
bahwa kita terus berada di jalur yang benar. Kalau satu tindakan tak
memberi hasil, maka menjadi fleksibel adalah anjuran banyak pakar. "Act
differently" adalah semboyannya.Tak hanya sibuk bergerak,kita
butuh waktu untuk memonitor sejauh mana progress dari usaha kita.
Mencari umpan balik dan mempertimbangkan alternatif lain adalah
pilihan-pilihan yang selarasa dengan siklusPlan - Do - Check - Action . Inilah wajahkomitmen di tingkat fisik. Merenungkan, mempertimbangkan dan mengekspresikankomitmen dalam berbagai wajahnya semoga akan meningkatkan kemungkinan kita meraih apa yang kita mau."Tahu yang Anda Mau" adalah hal positif.Namun
itu tak cukup. Punya "Plan" juga baik, tapi tetap tak mengantar Anda
kemana-mana. Juga jika Anda hanya "Do - Check" dan "Do - Check", maka
bisa salah arah. Tak ada satu resep manjur yang tepat dan cocok buat
semua situasi.
Walaubanyak orang menyebut
bahwa sukses adalah soal yang sederhana, namun perlu seni sendiri untuk
meramu semua resep yang ada, lalu mengolahnya sedemikian rupa.Mudah-mudahan
ini jadi momentum tambahan yang menggerakan saya, yang menguatkan
komitmen saya, dan tak hanya membuat saya berhenti pada tingkatan
komat-kamit !
Adjie
adalah praktisi bidang pengembangan SDM. Lebih dari 10 tahun
berkesempatan memfasilitasi banyak program pelatihan. Beberapa
coretannya juga pernah dimuat di www.pembelajar.com.Kumpulan karyanya yang lain dapat dilihat di www.ResilientIndonesia.com
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Adjie - Praktisi Bidang Pengembangan SDM
|
 |
Check Our Commitment
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
PR Liburan
(Artikel Anda) -
Selasa, 22 Januari 2008
|
 |
Mari Kita Bermimpi
(Artikel Anda) -
Kamis, 24 Januari 2008
|
 |
Penyu Atau Ayam ?
(Artikel Anda) -
Jumat, 25 Januari 2008
|
 |
Kisah Sekelompok Serigala
(Artikel Anda) -
Sabtu, 26 Januari 2008
|
 |
Kerja Keras Vs Kerja Cerdas - 2
(Artikel Anda) -
Minggu, 27 Januari 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Strategi Baru Di Tahun Yang Baru
(Artikel Anda) -
Jumat, 18 Januari 2008
|
 |
Live Your Life With Passion
(Artikel Anda) -
Rabu, 16 Januari 2008
|
 |
Tentang Pelecehan Dan Dilecehkan
(Artikel Anda) -
Senin, 14 Januari 2008
|
 |
Amati Seksama Dan Petik Sebuah Makna
(Artikel Anda) -
Sabtu, 12 Januari 2008
|
 |
Nilai Dan Prioritas Kita
(Artikel Anda) -
Senin, 07 Januari 2008
|
|
|