Apa sesungguhnya anugerah, bakat-bakat dan kekuatan kita ?Pernah
memikirkan pertanyaan di atas ? Syukurlah kalau sudah. Kalaupun belum
pernah, maka paling tidak saat membaca coretan ini, maka Anda sedang
diingatkankembali untuk memikirkan pertanyaan di atas.
Tentu
tak saja, pertanyaan di atas diangkat tak semata untuk jadi bahan
pemikiran, lalu berhenti di dalam pikiran. Ada harapan lebih jauh agar
pertanyaan di atasbisa tak hanya membuat Anda diam sejenak. Harapan lebih jauhnya adalah membuatAnda terusik, menjadi tak nyaman, seperti merasakan tak nyamannya selilit di sela gigi usai makan malam Anda.
Usaimembuat
Anda tak nyaman, maka semoga pertanyaan di atas juga menggerakkan Anda
untuk melakukan sesuatu, apapun itu. Ketika ini bisa terwujud, maka
pesan penting pertanyaan di atas sungguh sudah sampai.Jenis pertanyaan yang menggerakkan inilah yang saya suka. Saya sering menyebutnya sebagai empowering questions atau resilient question !
Tapi memang tak penting sekedar memberi sebutanatas
jenis pertanyaan di atas. Jauh lebih penting adalah sungguh mendapatkan
manfaat darinya. Ia baru sungguh menjadi pertanyaan yang memberdayakan
kalau jelas dengannya kita sungguh bergerak untuk makin memberdaya
diri. Jenis tanya di atas akan sungguh menjadi pertanyaan yang
membangkitkan kalau Anda sungguh bangkit dari diam Anda dan bergerak
melakukan sesuatu. Sayangnya, itu memang tak mudah dilakukan.
Walau
tampak sederhana, saat membacanya kembali saya sempat terdiam dan malu
sendiri. Saya terdiam, karena tiba-tiba saja berlintasan banyak hal
seputar pertanyaan itu.Saya juga tertawa sendiri, karena
tiba-tiba ingatan saya melayang pada sejumlah gambar saat saya
memfasilitasi banyak pelatihan.
Tentu
saya tertawa kecut. Betapa tidak, pada banyak kesempatan menjadi
fasilitator pelatihan maka sudah tak terhitung saya berulang kali
mengingatkan banyak kawan-kawan peserta pelatihan untuk menggali dan
mengenali kekuatan dan kelebihan kita. Juga dalam posisi sebagai
praktisi bidang rekrutmen, saya sering bertanya pada banyak kandidat
tentang bagaimana mereka melihat kelebihan dan kekuatan mereka.
Terutamapada
peserta pelatihan, saya mengingatkan arti penting pemahaman diri yang
lebih komprehensif itu. Dengan mengenali kekuatan dan kelemahan diri,
maka kita akan makin mudah mengarahkan sumber daya yang ada,
menjadikannya alat untuk mengejar apa yang kita mau. Mengenali
kelebihan diri akan membantu kita untuk memikirkan cara terbaik
memanfaatkan kelebihan yang ada untuk menggapai cita-cita.
Mengenali
kekurangan tentu juga ada manfaatnya. Paling tidak kita jadi tersadar
apa saja pekerjaan rumah yang harus segera digarap agar kita berkembang
makin optimal. Mengetahui kekurangan tak harus menjebak kita menjadi
lupa pada apa yang jadi kelebihan. Justru dengan menyeimbangkan
pemahaman tentang kelebihan dan kekurangan yang ada, maka kita menjadi
lebih adil dalam melihat dan menilai diri sendiri. Anda bisa percaya
diri sekaligus mengembangkan sikap rendah hati. Anda percaya diri
dengan segala kekuatan dan kelebihan. Namun tetap rendah hati demi
menyadari bahwa pada akhirnya toh kita masih punya sisi gelap yang jadi
kekurangan
Wacana akhir-akhir ini memang banyak mengulas isu di atas, terutama terkait denganke arah mana fokus perhatian hendak di arahkan. Yangutama tentu munculnya pandangan ahli yang coba mengedepankan gagasan tentang berfokus pada kelebihan. Inigagasan luar biasa, sebagaimana dikembangkan dengan pendekatan appreciative inquiry.Namun
saya memang tak hendak membuat dikotomi mendukung satu pandangan
tertentu. Yang hendak saya angkat lebih pada kepentingan praktis
tentang bagaimana kita menjawab tanya di atas, yang lalu dengannya kita
memiliki landasan yang kuat untuk terus bergerak mengejar yang kita
mau.
Terhadap
pertanyaan di atas, sedikit banyak dari kita tentu sudah tahu
jawabannya. Sayapun merasa sudah tahu kelebihan dan kekurangan saya,
walau tak sedikit kawan-kawan yang sering bingung ketika ditanya dengan
tanya di atas.
Persoalannya
adalah apakah saya SUNGGUH tahu apa kelebihan dan kekuatan yang ada ?
Repot, kalau saya hanya merasa sudah tahu, namun tak sungguh tahu.
Walau pada saat yang sama kita juga bisa mempertanyakan apakah kita
sungguh sudah tahu terhadap apa-apayang kita sudah tahu
itu. Mengkritisi pandangan dan pemahaman kita adalah salah satu cara
agar kita sungguh sadar akan apa yang kita pahami dan yakini.
Mungkin karena selama ini saya hanya merasatahu, maka kemudian saya belum berhasil menggerakkan segalayang
ada untuk kepentingan pengembangan diri saya. Mungkin karena saya lebih
sering sudah merasa tahu, maka saya belum bertumbuh menjadi sebagaimana
saya bisa bertumbuh. Pendek kata, pemahaman yang minim membuat saya
belum berkembang optimal.
Karenanya,
membaca kembali pertanyaan di atas membuat saya tersadar, dan
menyediakan diri untuk membuat catatan refleksi macam ini.
Kepentingannya menjadi jelas, bahwa saya ingin tahu lebih banyak. Saya
ingin menggali lebih dalam apa yang sesungguhnya saya punya. Dengan
begitu, jelas pula bahwa coretan ini memang lebih banyak untuk
kepentingan saya pribadi. Coretan ini adalah karya SUBYEKTIF untuk
EGOISME diri.Dengan begitu saya tak hendak melambungkan harapan bahwa orang lain akan belajar banyak dari sini.
Mungkin
itu memang tak terlalu penting, karena yang utama buat saya adalah
merubah diri saya. Toh memang atas diri sendirilah saya punya kendali.
Saya tentu tak bisa mengendalikan orang di luar saya.Andalah
yang punya kontrol atas ke mana Anda akan bergerak. Lihat betapa dunia
kita adalah dunia masing-masing. Dalam sendirilah Anda mengendalikan
kehidupan Anda masing-masing.
Masuk
ke soal untuk sungguh menjawab pertanyaan di atas, nyatanya memang tak
mudah bagi saya melakukannya. Ternyata itu bukan pertanyaan kelas teri
yang bisa sembarang dijawab sambil lalu, terutama kalau Anda memang
sungguh ingin mendapat manfaat. Lain jika Anda memang hanya iseng.
Kesulitan dalam menjawab tanya di atasantara lain memang
berhubungan dengan tradisi sebagian dari kita yang tak terbiasa
berpikir mendalam, melakukan refleksi dan introspeksi. Akhirnya ya
seperti sekarang, kita tak banyak tahu kekayaan kita. Karena tak banyak
tahu, maka sering kali kita terkejut ketika orang lain yang justru
banyak sibukmemanfaatkan apa yang kita punya. Itu palingtidak yang terjadi di tingkatmakro. Karenanya jangan sampai ini menimpa pada soal-soal mikro personal kita.
Kesulitan
lain juga berakar pada soal di mana kita mencampur adukan antara apa
yang sungguh kita punya dengan apa yang ingin kita punya. Kita
mencampur adukkan antara keinginan menjadi sosok tertentu dengan
realita tentang siapa kita sesungguhnya hari ini.Saya juga terjebak dalam kerangkeng macam ini.Saat
memikirkan apa kekuatan saya, mudah sekali saya tergoda untuk justru
membuat daftar tentang hal-hal yang saya ingin saya menjadi seperti
itu.
Contohnya ya seperti berikut ini.Saya tergoda dengan kata-kata sebagai berikut
- To Create - mencipta, membuat
- To Design - merancang
- To Develop - mengembangkan
- To Empower - memberdaya
- To Lead - memimpin
- To Serve - melayani
- To Write - menulis
Ketika
melihat detil, tampaknya yang saya tulis di atas lebih menggambarkan
sosok ideal yang ingin saya kejar. Kenyataan hari ini,hal di atas belum menjadi kekuatan saya. Kekuatan adalah sesuatu yang ada pada diri kita sekarang.
Namun, saya coba melihat dari kaca mata positif. Walau masih campur aduk antara realita dengan harapan,gambaran di atas tampaknya tetap bisa menjadi informasi yang bermanfaatbuat saya. Kalaupun tidak seluruhnya menggambarkan realita tentang siapa saya hari ini,namun paling tidak ia bisa menjadi gambaran tentang tokoh ideal yang saya ingin menjadi.Ia memang tidak menggambarkan posisi hari ini, namun memberi saya informasi tentang arah tujuan saya esok hari.
Menyadari kendala seperti di atas, maka sesungguhnya ini menegaskan bahwa kita membutuhkanalat
bantu dan bantuan orang lain untuk memberi informasi lebih mendalam.
Keterlibatan orang lain dibutuhkan, agar kita bisa memperoleh umpan
balik yang seimbang. Masukan orang lainkadang terasa menyakitkan, namun itu tetap diperlukan agar kita punya wawasan lebih kaya. Informasibahwa kita memiliki kekurangan memangtak enak didengar, namun itu penting sebagai bekal kita melangkah kelak.
Orang lain bisa sekaligus menjadi evaluator yang memvalidasi atau memberi second opinión tentang siapa kita. Bisa jadi orang lain justru lebih obyektif dalam memberikan penilaian.
"
Bukankah sulit buat kita untuk melihat mata sendiri", begitu kata
seorang kawan yang coba memberi pesan tentang peran orang lain dalam
pemberianfeedback.
Bicaradengan orang-orang terdekat mungkin akan sangat membantu kita. Mereka yang lama mengenal kita bisajadi sumber informasi yangbermakna.
Cara dan alat lain yang bisa membantumisalnya dengan mengikutipsychological assessment, berisi rangkaian tes (psikologis) atau wawancarayang kesemuanya akan memberi informasi mengenai aspek kepribadian kita.
Begitulah, ada sejumlah cara dan pilihan yang bisa dipertimbangkan akan membantu kita untuk lebih mengenal diri sendiri.
Setelah
mengenali dan menemukan aspek yang kita anggap kekuatan dan kekurangan
kita, maka tahap berikutnya adalah mengkaji lebih dalam setiap aspek
tersebut. Saya memahaminya sebagai usaha untuk lebih menanamkan
kesadaran tentang kekuatan tersebut. Anda bisa melihat ke belakang,
mengumpulkan informasi yang sudah membantu Anda untuk menyimpulkan
bahwa apa yang Anda tulis sungguh adalah kekuatan Anda. Intinya kita
diminta untuk mendalami dan menjawab pertanyaan lain : apa dasarnya
jika kita mengaku bahwa kekuatan kita adalah X ? Mungkin ada bukti
pengalaman yang menggambarkan itu. Barangkali ada bukti portofolio yang
jadi panduan.Proses menggali dan mengevaluasi di atas
akan membantu kita mengonfirmasi tentang seberapa akurat pemahaman kita
terhadap apa yang jadi kekuatan kita
Jika
sukses sampai di langkah ini, maka selamat buat Anda. Tapi jangan puas
dan langsung berhenti dulu. Masih ada beberapa tahapan penting sebagai
tindak lanjut langkah ini. Namun lebih dari sekedar mengejar target
untuk cepat selesai, menikmati prosesnya sendiri tentu akan jadi
pengalaman yang lebih bermakna.Dan buat saya, saat kita mulai memberanikan diri menjawabtanya di atas, maka sesungguhnya kita sudah mulai membuat langkah yang penuh makna.
Ingat prosesbelum selesai. Setelah inimasih ada tahapan penting lainnya
Cimanggis - December 2007
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari adjie
|
 |
Life Challenges
|
 |
Check Our Commitment
|
 |
Nilai Dan Prioritas Kita
|
 |
LifePurpose By Adjie
|
 |
Kenali "aku" - Mu
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Tahun Baru, Selalu Ada Harapan Baru
(Artikel Anda) -
Rabu, 02 Januari 2008
|
 |
Memaknai Kompetisi Sebagai Sebuah Pusaran Sinergi
(Artikel Anda) -
Rabu, 02 Januari 2008
|
 |
Menemukan Surga
(Artikel Anda) -
Kamis, 03 Januari 2008
|
 |
Menghadapi Persaingan Di Tempat Kerja
(Artikel Anda) -
Jumat, 04 Januari 2008
|
 |
Jadilah Diri Anda Seutuhnya
(Artikel Anda) -
Sabtu, 05 Januari 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Pengusaha Berkualitas
(Artikel Anda) -
Jumat, 28 Desember 2007
|
 |
Seni Membangun Hubungan
(Artikel Anda) -
Kamis, 27 Desember 2007
|
 |
Kenali "aku" - Mu
(Artikel Anda) -
Rabu, 26 Desember 2007
|
 |
LifePurpose By Adjie
(Artikel Anda) -
Sabtu, 22 Desember 2007
|
 |
Jenderal Kecil Merasa Jadi Raja
(Artikel Anda) -
Kamis, 20 Desember 2007
|
|
|