KENALI "AKU"-MU by ADJIE
"Why not spend some time determining what is worthwhile for us, and then go
after that?" -- William Ross
Menemukan apa yang kita mau sungguh
sebuah perjalanan panjang. Menemukan tempat kemana kita hendak pergi bahkan
bisa memakan waktu lebih lama dari perjalanan menuju tempat itu sendiri. Dan
ini bukan isapan jempol. Tidak banyak yang sadar dan kemudian mau menggerakkan
jiwa guna mencari tempat yang mereka idamkan. Sedikit orang yang mau sungguh
bergerak dan berpikir mencari dan menentukan apa tujuan hidup mereka.
Pengalaman sederhana saya bisa menjadi sedikit gambaran, betapa menemukan apa
yang sungguh kita mau adalah sebuah perjalanan melelahkan. Apalagi saat kita
tak terbiasa duduk diam, merenung dan mencari jawaban ke dalam diri. Bagi Anda
yang sudah sedemikian sibuknya, waktu kadang memang berlalu begitu cepat. Kita
bergerak ke sana ke mari,
mengejar sesuatu. Energi tercurah, usaha maksimal kita upayakan untuk mengejar
sesuatu yang kita anggap sebagai tujuan kita.
Sayangnya, di ujung hari Anda
baru tersadar bahwa apa yang Anda lalukan selama ini ternyata bukan dalam
rangka mengejar cita-cita yang Anda mau. Kita memang memiliki agenda harian.
Tak sedikit yang punya catatan lengkap tentang apa yang harus ia lakukan tiap harinya.
Namun rupanya yang ia tulis dan kerjakan bukan sesuatu yang sungguh datang dari
dalam jiwa.
Sementara pengejaran terhadap cita-cita adalah pengejaran ke dalam.
Ia adalah proses menemukan apa yang sejatinya kita inginkan. Ia juga adalah
perjalanan menuju diri sendiri. Mengenali yang kita mau lalu mengupayakannya
sungguh adalah perjalanan mengenali diri sendiri. Jadi yang sibuk tak keruan
sesungguhnya belum tentu dalam rangka mendapatkan yang dimaui. Kenyataannya,
lebih banyak di antara kita yang sibuk bergerak lebih karena tekanan, paksaan,
dan kewajiban-kewajiban dari luar sana. Benar, kita
tak bisa lari dari kewajiban dan tanggung jawab primordial maupun social.
Wajar
saja kalau ada waktu-waktu yang harus kita alokasikan untuk menjalankan
peran-peran macam itu. Dengan begitulah kita menjaga keseimbangan kemanusiaan
kita. Menjadi tetangga yang baik, bergaul dengan sesama adalah salah satu cara
menjaga keseimbangan itu. Namun itu semua tak cukup, bila hal-hal yang lebih
prinsipil nyatanya tak kita upayakan. Sekedar menjalani kewajiban tak cukup
untuk menyeimbangkan jiwa, jika ternyata hak-hak dasar diri kita juga tak kita
upayakan dengan sungguh-sungguh. Hak-hak dasar itu antara lain adalah mengejar
apa yang sungguh kita mau.
Tak hanya sibuk mengejar kemauan orang di luar sana, kita juga
harus mengupayakan apa yang sungguh kita inginkan dari dalam diri. Keberhasilan
mendapatkan apa yang secara internal kita kehendaki adalah jalan untuk sampai
pada pembebasan. Keberhasilan menjalankan kewajiban dari luar sana mungkin akan
membantu menguatkan otot mental kita. Namun sukses mendapatkan apa yang sungguh
kita maulah yang akan membebaskan potensi kita. Ia seperti proses bertumbuhnya
tanaman ke arah sinar matahari. Sementara menjalankan kewajiban-kewajiban
social mungkin membantu kita menguatkan akar-akar tempat kita berpijak. Dan
untuk ke sekian kali, kita akan merasakan bahwa menjejakan kaki di jalan
kesadaran macam ini bukanlah sesuatu yang menyenangkan.
Ketika kita terbiasa
dengan hal instant dan praktis, maka perjalanan macam ini akan menjadi
perjalanan membosankan. Seperti berjalan di atas padang tandus yang kering.
Seperti berjalan dalam ketidak tahuan tentang kota tujuan. Ketika perjalanan
hanya mengandalkan mata fisik maka apapun yang ada di depan mata akan cepat
membosankan. Seperti juga Anda harus terus menerus memakan makanan yang sungguh
Anda inginkan. Suatu saat, Anda akan sangat kehilangan selera atas makanan
tersebut. Lalu makanan yang tadinya sangat diinginkan itupun akan jadi amat
membosankan. Perjalanan menuju kesadaran adalah perjalanan yang mensyaratkan
pemanfaatan mata dan telinga jiwa. Dan kita memang tak sedang sekedar bicara
hal-hal kasat mata. Mengenali apa yang kita mau sungguh sebuah proses untuk
mencari sesuatu yang ada dibalik hal-hal fisik. Kita perlu menggali lebih
dalam. Persoalannya kadang tambah rumit, sekali lagi , karena kita tak
terbiasa. Kita cenderung lebih mudah mengenali dan menemukan hal-hal fisik.
Bahkan tak jarang kita sungguh mencampur adukan soal-soal fisik itu dengan soal-soal
psikis. Alhasil, ketika sesungguhnya yang kita mau adalah hal psikis, namun
yang kita ungkap dan kejar justru hal fisik. Ketika kita sejatinya menginginkan
kebahagiaan, lalu dengan cepat kita mendefinisikannya ke dalam bentuk harta.
Lalu kita mengejar harta, yang sayangnya tak mengantar kita pada kebahagiaan
yang sungguh kita mau pada awalnya. Guna membantu kita menggali lebih dalam dan
menemukan apa yang sungguh kita inginkan, kita memang perlu cara tertentu.
Salah satu tawaran sederhana adalah dengan mengajukan pertanyaan :
- What do you want out of life ? Apa
yang kita inginkan dari hidup kita ?
- Why do you want that ? Mengapa
menginginkan hal itu ?
Mengingat dua pertanyaan di atas, ingatan saya juga melayang,
menghampiri kisah sederhana masa kuliah dulu. Dalam diskusi tentang konsep
A-K-U , Ambisi - Kondisi - Usaha (gagasan menarik hasil perenungan Mas Budi
Matindas) - kami membahas tentang cita-cita. Terhadap siswa SLTA yang
berkeinginan menjadi tentara, ada sejumlah pertanyaan yang layak diangkat.
Siswa ini sudah tahu apa ambisinya (A).
Ia sudah menjawab pertanyaan awal
tentang apa yang ia mau. Ini juga sudah sebuah prestasi. Ingat tak semua orang
mudah dan bisa dengan cepat tahu apa yang mereka mau Bagaimana dengan pertanyaan
berikut : mengapa ingin menjadi tentara ? Bisa saja akan bermunculan banyak
alasan. Mungkin ada yang semata ingin pegang pistol. Bisa merasa gagah kalau
punya pistol tergantung di pinggang. Atau ada yang ingin punya jalur khusus
untuk jadi anggota DPR (waktu itu ABRI memiliki jalur khusus melalui Fraksi
ABRI). Atau bisa juga ada yang memang bercita-cita ingin jadi backing
para cukong dan tuan tanah (beberapa cukong mungkin memang butuh ‘support'
tentara).
Pertanyaan bisa terus dilanjutkan untuk sampai pada akar yang paling
dasar, untuk sampai pada alasan utama mengapa ia ingin jadi tentara. Pada
kesempatan lain, pertanyaan-pertanyaan sederhana di atas ternyata sungguh
membantu mencerahkan si siswa. Mereka jadi lebih paham apa yang sesungguhnya
mereka inginkan. Kesadaran tentang apa yang paling ingin mereka kejar itu
nyatanya membantu mereka untuk mulai mengenali cara-cara, teknik dan strategi
untuk sampai pada apa yang mereka kejar itu. Kalau ambisinya adalah menjadi
terkenal, maka ada banyak jalan untuk jadi terkenal. Kalau mimpinya menjadi
gagah, maka ada pilihan lain untuk bisa merasa gagah, selain dari menjadi
tentara. (soalnya tak sedikit yang masih memandang negative tentara, terutama
karena ada oknum yang nakal) Pertanyaan tentang alasan dibalik cita-cita itu
makin penting ketika kita dihadapkan pada realita kondisi yang ada (K). Bagaimana kalau ternyata untuk ikut pendidikan AKABRI mata harus bagus,
sementara saat itu kaca mata tebal sudah nyangkut di atas hidung ? Bisa
frustrasi bukan ? Benar bahkan tak sedikit orang yang bisa gila karena ada
jarak yang begitu lebar yang memisahkan ambisi (A) mereka dengan kondisi (K)
yang ada. Mengenali ambisi (A), lalu sadar alasan di baliknya, kemudian peka
terhadap kondisi (A) akan membantu kita untuk mengupayakan langkah dan usaha
(U) yang lebih realistis dan proporsional. Ada kisah seorang kawan yang
kebetulan bersekolah di jurusan IPS dan berkaca mata tebal. Nyatanya meski ia
kuliah di Fakultas Ilmu Sosial, kesempatan menjadi perwira ABRI tetap saja
terbuka.
Waktu itu, ia mengambil program bea siswa dan ikatan dinas.
Cita-citanya menjadi tentara tetap tercapai, bahkan mungkin lebih ringan
tekanan fisiknya jika dibandingkan harus masuk Akademi Militer di Magelang !
Kalau sekedar ingin pegang pistol, ia mungkin sudah berhasil mewujudkan
mimpinya. Begitulah, pertanyaan (walau sederhana) nyatanya bisa mengantar kita
pada kesadaran yang mahal harganya. Jawaban-jawaban jujur kita terhadap
pertanyaan macam itu pada akhirnya menjadi hal yang amat penting.
Jawaban-jawaban Anda terhadap pertanyaan jenis itu bisa mengantar Anda sampai
pada kesadaran tentang apa yang sungguh Anda inginkan dari hidup Anda. Saat
Anda tahu itu, maka sejak itu Anda bisa memikirkan sasaran-sasaran yang akan
membantu Anda mengejar impian di maksud. Ia akan jadi sumber energi dahsyat
yang akan menuntun Anda pada jenis sukses yang Anda mau
"Desire, like the atom, is explosive with creative force." Paul Vernon Buser
Cimanggis - December 2007 **
Adjie adalah praktisi pengembangan SDM. Pernah bekerja di perusahaan tambang
emas ternama dan kini bekerja di perusahaan bidang kimia berpusat di Jerman.
Lebih dari 10 tahun terakhir, ia juga memfasilitasi banyak program pelatihan.
Coretannya yang lain dapat dilihat di www.resiliency.wordpress.com
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari adjie
|
 |
Check Our Commitment
|
 |
BalancingOur Life By Adjie
|
 |
Life Challenges
|
 |
What Are My Talents And Strengths ?By Adjie
|
 |
Kenali "aku" - Mu
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Seni Membangun Hubungan
(Artikel Anda) -
Kamis, 27 Desember 2007
|
 |
Pengusaha Berkualitas
(Artikel Anda) -
Jumat, 28 Desember 2007
|
 |
What Are My Talents And Strengths ?By Adjie
(Artikel Anda) -
Minggu, 30 Desember 2007
|
 |
Tahun Baru, Selalu Ada Harapan Baru
(Artikel Anda) -
Rabu, 02 Januari 2008
|
 |
Memaknai Kompetisi Sebagai Sebuah Pusaran Sinergi
(Artikel Anda) -
Rabu, 02 Januari 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
LifePurpose By Adjie
(Artikel Anda) -
Sabtu, 22 Desember 2007
|
 |
Jenderal Kecil Merasa Jadi Raja
(Artikel Anda) -
Kamis, 20 Desember 2007
|
 |
Pentingnya Penghargaan Diri
(Artikel Anda) -
Rabu, 19 Desember 2007
|
 |
Perencanaan Untuk Meraih Sukses
(Artikel Anda) -
Selasa, 18 Desember 2007
|
 |
Rahasia Sukses Hidup
(Artikel Anda) -
Senin, 17 Desember 2007
|
|
|