Istilah "goal praying" (berdoa untuk kesuksesan) mungkin masih belum banyak disinggung dalam konsep pengembangan diri. Bandingkan dengan istilah "goal setting" yang saat ini nampak begitu mendominasi. Keduanya memang berangkat dari substansi yang berbeda.
Goal setting menekankan pada "possitive thinking" sementara goal praying menekankan pada "possive feeling" dan bekerja seputar Universal Law of Attraction (Hukum Ketertarikan Universal) yaitu sebuah hukum alam dimana "hasil" diyakini merupakan kombinasi dari usaha, niat dan doa dengan penekanan pada rasa syukur.
Syukur yang dimaksud di sini adalah rasa berterimakasih pada Sang Pencipta atas proses yang sedang dijalani dan atas hasil akhir yang AKAN diraih, meskipun saat ini MASIH dalam proses pencapaian. Hal ini berangkat dari rasa YAKIN bahwa Tuhan semesta alam PASTI selalu mengabulkan doa hamba-hamba Nya. Syukur memang menjadi seperti "down payment", yang sudah dibayarkan SEBELUM produknya (hasil akhirnya) diterima.
Cukup banyak pemikir yang sudah mengusung konsep ini. Sebut saja buku "The Secret" karya Rhonda Byrne. Di tanah air, seorang pemikir tassawuf modern, Agus Mustofa, juga menuangkan pikiran-pikirannya yang sejalan dengan hukum ini. Ceramah-ceramah dari Ustadz Yusuf Mansyur yang sarat konsep "sedekah untuk keberkahan" juga sangat selaras dengan hukum ini.
Hukum Ketertarikan Universal ini kemudian dijabarkan secara lebih mendalam oleh seorang trainer dari tanah air, Erbe Sentanu, dalam bukunya QuantumIkhlas. Beliau juga telah sukses dalam menerapkan pelatihan goal praying, tidak saja bagi individu namun juga bagi institusi korporat.
Hukum Ketertarikan Universal berdasarkan pada pemikiran bahwa semua manusia dan seluruh alam semesta "tenggelam" dalam Zat Tuhan, Sang Pencipta. Seluruh alam semesta ini bergerak bersama, berpusaran dalam keseimbangan yang sempurna. Karenanya, setiap komponen alam semesta harus selalu sinkron dengan gerakan makrokosmos ini. Inilah inti dari Hukum Ketertarikan Universal, yaitu KESELARASAN.
Seperti sudah diuraikan di atas, "hasil" merupakan kombinasi dari usaha, niat dan doa dengan penekanan pada rasa syukur. Komponen-komponen inilah yang akan menciptakan KESELARASAN. Ini merupakan jawaban, mengapa orang yang "ahli" mengeluh justru selalu akrab dengan masalah dan mengapa orang yang selalu merasa "cemas" justru menjadi orang yang paling sering mengalami nasib sial.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Tommy Setiawan ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Bukannya Besok, Bukan Pula Kemarin, Tapi Sekarang
|
 |
Mewujudkan Kesuksesan Tanpa Batas
|
 |
Pasangan Hidup Merupakan Guru Kita yang Sejati
|
 |
Kemuliaan Sifat Berbagi Dari Para Philanthropist
|
 |
MembuatAlamSemestaMelayaniAnda
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Kemauan Vs Kemampuan
(Artikel Anda) -
Senin, 01 Oktober 2007
|
 |
Penonton
(Artikel Anda) -
Kamis, 04 Oktober 2007
|
 |
Indahnya Memaafkan Di Hari Yang Fitri
(Artikel Anda) -
Sabtu, 13 Oktober 2007
|
 |
Nyanyian Sapi Bikin Kangen
(Artikel Anda) -
Jumat, 19 Oktober 2007
|
 |
Unconditional Love - Apakah Itu?
(Artikel Anda) -
Selasa, 23 Oktober 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Percaya Diri? Arogan? Minder ?
(Artikel Anda) -
Selasa, 25 September 2007
|
 |
My Spirit - Rumus S U K S E S
(Artikel Anda) -
Senin, 24 September 2007
|
 |
Rendah Hati, Bukan Rendah Diri Lho!
(Artikel Anda) -
Kamis, 20 September 2007
|
 |
Mengisi Kemerdekaan Dengan Kerja Keras
(Artikel Anda) -
Senin, 17 September 2007
|
 |
Saatnya Memerdekaan Dna Kesuksesan Anda
(Artikel Anda) -
Senin, 10 September 2007
|
|
|