Peta merupakan analogi dalam usaha mempermudah pengertian bagaimana kita mengartikan dunia luar. Namun ‘peta’ kita bukan dunia sesungguhnya atau realitas di luar sana. Peta kita adalah kekayaan pemikiran (dunia internal), hasil tabungan dari pengalaman khas, budaya, bahasa, nilai-nilai, keyakinan, dan asumsi-asumsi yang pernah kita alami sepanjang hidup. Kekayaan pemikiran ini menjadikan setiap orang memiliki peta yang “unik”.
Apa yang muncul di pikiran seringkali dikenal sebagai “kenyataan aktual” yang kita rasakan seperti di dunia. Padahal reaksi semacam ini berupa penafsiran terbaik yang kita berikan pada dunia. ‘Peta’ kita atas dunia luar. Dua orang bisa mengalami peristiwa yang sama, dan kemungkinan besar memberikan penafsiran yang berbeda. Perbedaan tafsiran ini muncul disebabkan masing-masing menggunakan ‘peta’ nya atas peristiwa tersebut, bukan kenyataannya.
Kita tidak mengetahui kenyataan sesungguhnya. Kita selalu melihat segala sesuatu bagian demi bagian sesuai dengan perhatian yang di berikan pada dunia. Bagian yang masuk ke dalam perhatian di-filter oleh sejumlah saringan. Maka kadang-kadang kita bukan lagi melihat ‘kenyataan aktual’ melainkan potongan realitas hasil penyaringan.
Saya tidak dapat ‘melihat’ Anda, tetapi hanya melihat gagasan tentang Anda yang ada dalam tafsiran saya. Atau saya melihat seorang Amerika, lalu saya merasa bangga pada dia. Namun, orang lain bisa melihatnya dalam bentuk lain. Apakah dia adalah insan manusia sebagaimana yang kami berdua lihat? Atau hanya pantulan citra. Tafsiran mana yang benar? Bayangan mana yang lebih jelas?
Manusia bereaksi menurut “Peta” internal
Peta kita adalah kekayaan pemikiran bagaimana kita mempersepsikan dunia. Apa yang kita lakukan di keseharian. Apakah itu berpikir, membuat pertimbangan, keputusan, bertindak, berbicara dan sebagainya adalah hasil reaksi kita menurut peta internal. Ketika kita membicarakan tentang sesuatu apa yang kita lihat, dengar dan rasakan dari dunia, sebenarnya kita sedang menjabarkan peta kita. Apabila kita menemukan orang lain bertentangan dan tidak setuju dengan apa yang kita bicarakan, biasanya kita akan mrmikirkan ada sesuatu yang terjadi pada diri mereka.
Kita selalu melakukan segala sesuatu dengan cara kita, kebiasaan kita, persepsi kita. Tindakan kita mencerminkan peta kita, pola-pola yang sudah tertanam dalam peta kita dan seberapa banyak pilihan dan cara-cara lain menentukan keluasan peta kita sendiri.
Dengan membuka kesadaran, dan mengetahui sejauh mana pengaruh peta ini pada kita, memeriksa dan mengujinya berdasarkan realitas serta bersikap membuka diri terhadap persepsi masing-masing, maka kesadaran ini akan menuntun kita untuk memperoleh pandangan yang lebih objektif.
Salam Inspirative!
_________________________________________
Y Dharmali Justin, MBA (trainer dan public speaker)
HP : 0812.6340.777
Email : dharmalijustin@gmail.com
Situs : www.metainspirative.com
Fbook : www.facebook.com/dharmalijustin
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Dharmali Justin
|
 |
Peta Bukan Wilayahnya
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Tiga Kesalahan Besar Yang Sering Dilakukan Terhadap Masalah Yang Terjadi
(Artikel Anda) -
Rabu, 24 Februari 2010
|
 |
Kucing Hoki
(Artikel Anda) -
Rabu, 24 Februari 2010
|
 |
Hati Dan Pikiran Manusia Ternyata ... Unik !!
(Artikel Anda) -
Minggu, 07 Maret 2010
|
 |
Mengubah Kebiasaan Dengan NAC
(Artikel Anda) -
Senin, 08 Maret 2010
|
 |
Orang Sukses Juga Perlu Role Model
(Artikel Anda) -
Rabu, 10 Maret 2010
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
10 Aturan Hidup Bahagia Dari Thomas Jefferson
(Artikel Anda) -
Senin, 22 Februari 2010
|
 |
"Bener" Dan "Pener"
(Artikel Anda) -
Senin, 08 Februari 2010
|
 |
Do Tomorrow's Job
(Artikel Anda) -
Rabu, 03 Februari 2010
|
 |
Hadapilah Masalah Dengan Ketenangan
(Artikel Anda) -
Jumat, 29 Januari 2010
|
 |
Bukan Sekadar Mimpi
(Artikel Anda) -
Selasa, 26 Januari 2010
|
|
|