Saudaraku, filsafat Jawa memang bagaikan sumber yang tak pernah kering. Banyak hal yang dapat digali, dimaknai, dan sekaligus diaplikasikan dalam kehidupan ini. Para
wiku tanah Jawa, dengan segala macam atribut yang melekat, selalu saja memiliki sejumlah idiom yang sungguh mengagumkan, untuk disejajarkan dan digunakan sebagai alat analisis atas sejumlah fenomena dan kondisi sosiokultural mutakhir.
Salah satu yang membuat saya tertarik untuk menulis topik ini adalah kecermatan orang Jawa dalam menempatkan diri, terutama yang berkaitan dengan cara mengelola variabel waktu, tempat, dan subjek di mana seseorang akan mentransmisikan ide-idenya.
Di Jawa, dikenal beberapa ungkapan yang mencerminkan betapa proses penyesuaian (adjustment) itu memerlukan kecermatan dan ketepatan dalam aplikasinya. Contoh yang paling populer misalnya ungkapan: bener lan pener (benar dan tepat), empan papan (sesuai dengan tempat), angon wektu (sesuai timing-nya), dan mulat ulat (sesuai dengan kondisi psikologis subjek).
Dalam setiap kuliah Teori Ekonomi yang paling mendasar, seorang mahasiswa selalu diajarkan tentang konsep nilai (value). Di mana dalam konsep nilai itu selalu terdiri dari: value of time, value of place, dan value of subject. Ketiga hal itulah yang menjadi jawaban mengapa segelas es sirup itu terasa begitu nikmat diminum di tengah suasana siang yang panas, dalam kondisi badan yang sehat.
Segelas es sirup tentunya akan diberikan nilai yang tinggi (dalam konsep Ilmu Ekonomi hal ini ditandai dengan ability to pay yang lebih mahal) jika diminum oleh orang sehat yang tengah kehausan. Sebaliknya, segelas es yang sama akan dinilai rendah - bahkan negatif - jika diminum di tengah udara dingin dalam kondisi badan seseorang yang sedang dilanda influenza.
Jika gabungan dari beberapa variabel tersebut (lezatnya es sirup, badan sehat dan haus) terjadi dalam saat yang tepat, maka kondisi seperti ini orang Jawa akan mendudukkan sebagai bener dan pener. Artinya, secara substansi hal itu benar dan sekaligus juga dibarengi dengan ketepatan-ketepatan lain yang menjadikannya bener dan pener.
Premis bener dan pener ini tidak selamanya bertemu dalam satu bingkai. Kadangkala terjadi kasus di mana sesuatu yang "benar" justru menimbulkan dampak negatif akibat implementasinya yang tidak tepat (waktu dan subjek). Sebaliknya, sesuatu yang sebenarnya "tidak benar" justru tidak/kurang menimbulkan reaksi berlebih, jika hal itu terjadi dalam waktu dan tempat yang tepat.
Memberikan sumbangan kepada seorang pencari derma, secara substantif tindakan itu mengandung nilai-nilai kebenaran. Tetapi, jika kemudian perilaku itu justru membuat si pencari derma itu menjadi malas bekerja, maka hal ini justru menimbulkan dampak negatif. Ya, perbuatan baik pun bisa menghasilkan sesuatu yang buruk jika tidak dilakukan dengan tepat sasaran dan tepat waktu.
Pesan yang dapat ditangkap dari tulisan ini adalah: semata-mata "berbuat benar" belumlah cukup. Kita juga dituntut untuk cermat dengan timing dan psikologi subjek. Gampangnya, janganlah Anda meminta sumbangan di tengah malam dalam kondisi sang dermawan sedang dilanda sakit gigi, saya yakin niat mulia itu pasti akan kandas. Percayalah!
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Hery Nugroho
|
 |
"Bener" dan "Pener"
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
10 Aturan Hidup Bahagia Dari Thomas Jefferson
(Artikel Anda) -
Senin, 22 Februari 2010
|
 |
Peta Bukan Wilayahnya
(Artikel Anda) -
Senin, 22 Februari 2010
|
 |
Tiga Kesalahan Besar Yang Sering Dilakukan Terhadap Masalah Yang Terjadi
(Artikel Anda) -
Rabu, 24 Februari 2010
|
 |
Kucing Hoki
(Artikel Anda) -
Rabu, 24 Februari 2010
|
 |
Hati Dan Pikiran Manusia Ternyata ... Unik !!
(Artikel Anda) -
Minggu, 07 Maret 2010
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Do Tomorrow's Job
(Artikel Anda) -
Rabu, 03 Februari 2010
|
 |
Hadapilah Masalah Dengan Ketenangan
(Artikel Anda) -
Jumat, 29 Januari 2010
|
 |
Bukan Sekadar Mimpi
(Artikel Anda) -
Selasa, 26 Januari 2010
|
 |
Dewa Ikan Asin
(Artikel Anda) -
Rabu, 20 Januari 2010
|
 |
Utamakan Kualitas
(Artikel Anda) -
Senin, 18 Januari 2010
|
|
|