Kesederhanaan seringkali diidentikkan dengan ketertinggalan, kenaifan, ketinggalan jaman bahkan kebodohan. Padahal kalau kita mau jeli, nampaknya memang sama tapi sesungguhnya sangat berbeda.
Kesederhanaan dalam Bahasa Inggris adalah simplicity yang menurut kamus Encarta mempunyai definisi, being simple (a lack of complexity, embellishment or difficulty) dan simple thing (a simple quality or thing). Secara umum dapat diartikan sebagai menjadikan sederhana, mengurangi kompleksitas dan kesulitan atau sesuatu yang sederhana.
Saya teringat kembali tentang kesederhanaan, ketika beberapa waktu yang lalu berbincang-bincang dengan ayah yang berasal dari sebuah desa di wilayah pesisir selatan Jawa Tengah, tepatnya di wilayah Kabupaten Cilacap.
Orang tua penulis dulunya adalah seorang petani penggarap yang miskin di kampung, walaupun konon dahulu adalah keturunan orang kaya karena merupakan anak dari seorang kepala desa, tetapi entah bagaimana ceritanya sehingga hidupnya pada masa-masa awal berumah tangga menjadi sengsara.
Sampai suatu saat ketika saya masih kanak-kanak, orang tua saya beralih profesi menjadi seorang pedagang di pasar. Mula-mula saya tidak mengerti bagaimana sejarahnya, bahkan sampai saya berkeluarga serta menjadi ayah dari dua orang anak. Saya baru tahu asal-muasalnya ketika saya berbincang-bincang dengan beliau tentang motivasi usaha.
Awal mula beliau termotivasi untuk menjadi seorang pedagang ternyata hanya karena mendengar cerita seorang tetangga yang kebetulan seorang pedagang di pasar. Si tetangga bercerita dengan bangga bahwa dia bisa makan tahu (makanan yang terbuat dari kedelai) sepuas-puasnya setiap hari dari hasilnya berdagang. Ayah yang kebetulan hidup susah bersama istri dan tiga orang anak kecil yang masing-masing hanya terpaut dua tahun, bisa makan sehari tiga kali asal ada nasinya saja sudah untung. Mendengar itu tergugahlah motivasinya untuk berwirausaha supaya bisa makan enak (tahu sudah dianggap sebagai makanan enak) setiap hari.
Sejak saat itu ayah bercita-cita (visi) menjadi pedagang supaya bisa makan tahu setiap hari sampai bosan. Dan dengan berbagai cara cita-cita itu beliau wujudkan mulai dari nol. Sedikit demi sedikit memupuk modal, dari tadinya pedagang kecil di pasar sampai mengontrak tanah untuk dibangun kios kecil. Sampai akhirnya membeli tanah tersebut dan membangun toko yang cukup besar untuk ukuran di kampung.
Sekarang saya baru mengerti mengapa dahulu setiap pagi di meja makan kami selalu terhidang “tahu” dengan berbagai versi, dari sekedar di goreng, di oseng, di masak dengan kuah atau bahkan di sambal. Dan setiap pagi saya dengan setia menunggu penjual tahu lewat di depan rumah, membelinya dan turut memakannya hingga saya sendiri menjadi keranjingan tahu.
Ternyata itu adalah visi ayah saya (walaupun beliau tidak tahu apa itu visi) yang sederhana tetapi terbukti berhasil dicapai. Memang benar bahwa ayah berpendidikan rendah, hidup di desa, miskin dan kurang pergaulan dengan kaum intelektual tetapi visi beliau yang sederhana ternyata memudahkan beliau untuk merealisasikannya.
Lain cerita jika pada saat itu ayah bercita-cita punya tanah luas, mobil, pendidikan anak yang tinggi, belum tentu mampu beliau capai. Bukan apa-apa, tetapi itu jelas sangat tidak sederhana untuk dicerna oleh pemikiran beliau yang sangat terbatas pada saat itu. Sekarang hal-hal tersebut diatas sudah beliau raih, tetapi melalui sebuah visi yang sederhana, yang mudah dipahami dan mudah pula di realisasikan.
Siapa bilang kesederhanaan identik dengan ketinggalan jaman? Bahkan seharusnya kesederhanaan (berfikir, berbicara dan bertindak) adalah ciri intelektualitas. Ada benarnya ungkapan dalam Bahasa Inggris (walaupun terdengar kasar) yang mengatakan Keep It Simple Stupid (KISS).
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Riyanto B Suwito
|
 |
Pelajaran Berharga Yang Sederhana
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Indahnya Konflik
(Artikel Anda) -
Senin, 11 Juni 2007
|
 |
5 Menit Dapat Mengubah Hidup Anda
(Artikel Anda) -
Selasa, 12 Juni 2007
|
 |
Juara Dunia Sejati
(Artikel Anda) -
Kamis, 14 Juni 2007
|
 |
Apa Adanya
(Artikel Anda) -
Jumat, 15 Juni 2007
|
 |
Arti Sebuah Pesta Pernikahan
(Artikel Anda) -
Selasa, 19 Juni 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Pencemooh Tidak Pernah Belajar
(Artikel Anda) -
Senin, 04 Juni 2007
|
 |
Badai Pasti Berlalu (2): Finding The Real Love
(Artikel Anda) -
Jumat, 01 Juni 2007
|
 |
Ambil Madunya, Tebar Sarinya
(Artikel Anda) -
Kamis, 31 Mei 2007
|
 |
Semangat Membuat Apapun Menjadi Mungkin
(Artikel Anda) -
Selasa, 29 Mei 2007
|
 |
Souvenir Cinta
(Artikel Anda) -
Kamis, 24 Mei 2007
|
|
|