”Apa yang terjadi dengan Anda saat ini?” Pertanyaan ini kulemparkan kepada Jimmy – kawan mudaku di tahun 2001 - yang menunjukkan wajah berseri-seri disuatu siang bolong. Ia memang selalu menunjukkan wajah riang setiap hari. Tetapi suka citanya hari itu sepertinya begitu istimewa.
Jimmy lalu memelukku dan berkata: ”Terimakasih, Bang, untuk doa-doamu. Aku baru saja menyelesaikan ujian pendadaran skripsi. Aku memperoleh nilai A sehingga usai sudah tugas studi sarjanaku.” Aku kaget dan terharu mendengar berita itu. Aku tahu bahwa Jimmy adalah pemuda istimewa. Ia sangat cerdas dan populer di kalangan mahasiswa di Jurusan Bahasa dan Sastra Perancis tempat ia menimba ilmu. Aku memeluknya erat dan mengacungkan kedua jempolku ke hadapan batang hidungnya.
Banyak orang cemburu pada prestasi Jimmy, yang kemudian kuketahui bahwa ia lulus dengan predikat cum laude di antara hampir 500 mahasiswa yang diwisuda. Tetapi aku tak begitu heran bahwa pemuda ini mendapatkan prestasi gemilang. Satu hal yang benar-benar kuketahui dari pemuda ini adalah bahwa ia telah terbiasa untuk berprestasi. Ya, kukatakan lagi bahwa ia telah terbiasa untuk berprestasi. Inilah yang membedakan Jimmy dengan para wisudawan lain yang lulus biasa-biasa saja. Para wisudawan yang biasa-biasa saja mayoritas disebabkan karena telah terbiasa untuk membuat prestasi yang biasa-biasa saja. Tentu saja ada mahasiswa yang super rajin tetapi tetap saja mendapatkan prestasi yang minimum. Ini adalah beberapa pengecualian yang jumlahnya relatif sedikit.
Kisah Jimmy membuktikan kebenaran pernyataan pujangga Romawi bernama Ovids: Tak ada yang lebih kuat dari kebiasaan. Nasib Anda pun dibentuk oleh kebiasaan. Mayoritas orang-orang gagal adalah orang-orang yang telah terbiasa melakukan tindakan-tindakan kegagalan. Mayoritas orang sakit adalah orang-orang yang terbiasa mengikuti pola hidup tak sehat. Itulah mengapa Stephen R. Covey menuliskan buku masyhur The Seven Habits of Highly Effective People. Covey dengan tajam langsung berpijak pada kata kebiasaan sebagai kerangka acuan efektivitas seseorang. Ketika aku belum menyadari kenyataan ini, aku pernah terperangkap dalam pola hidup yang penuh ketegangan. Aku sering dicekik oleh monster khayal berupa ketakutan terhadap masa depan karena pengaturan diri yang sangat lemah. Untuk keadaan ini banyak penulis buku menasehatkan supaya kita berfokus pada hari ini saja.
Memang, kepalaku tahu hal itu benar, tetapi kebenaran itu tidak juga membebaskan aku. Aku masih dililit oleh kebiasaan untuk mencemaskan masa depan dan menghamburkan energiku dengan mempersilakan sang monster datang lebih banyak untuk mencincang kebahagiaanku habis-habiasan. Komitmenku untuk berfokus pada hari ini saja begitu lemah. Aku diombang-ambingkan oleh ketakutan bagaimana besok harus hidup. Aku mencari ke sana kemari apa yang disebut sebagai resep hidup bahagia. Namun aku tidak menemukan resep yang mengguncang surga dan dunia sehingga aku menemukan ketentraman. Aku terperangkap dalam kondisi abulia, yakni kebingungan yang mengarah pada pesimisme berlebihan.
Hal ini berlangsung begitu lama hingga pemahaman bahwa kita adalah produk kebiasaan menyentuh diriku seperti percikan api surga. Maka aku membuat komitment harian untuk melakukan kebiasaan baru selama 21 hari saja. Aku menyebutnya Diet mental 21 hari. Mengapa 21 hari? Ini adalah nasihat DR. Maxwell Maltz tentang bagaimana pengulangan kegiatan secara kontinyu dalam waktu 21 hari akan merubah kebiasaan orang. Inilah metode pengubahan kebiasaan sedih menjadi kebiasaan bahagiaku.
| ASPEK PENTING HIDUPKU |
KEBIASAAN SEDIH |
KEBIASAAN GEMBIRA |
| Penyelesaian tugas |
Membiarkan gangguan-gangguan memecahkan perhatian sehingga tugas tak pernah terselesaikan |
Menyingkirkan semua pengganggu kerja dan menyelesaikan tugas yang telah dimulai hingga tuntas |
| Perencanaan |
Membuat rencana sambil lalu, tidak menuliskan di dalam buku khusus |
Menuliskan rencana terperinci untuk hari esok setiap pukul 19.00 dalam buku khusus |
| Informasi |
Tidak mengikuti berita-berita |
Mendengarkan radio pada stasion tertentu yang selalu menyiarkan berita terkini |
| Ilmu pengetahuan |
Tidak pernah membaca buku hingga tuntas |
Membaca buku hingga tuntas, minimal 1 judul setiap bulan serta membuat ringkasannya |
| Relasi |
Tidak meniliki kawan bermain yang cukup, bahkan tidak menemui mereka dengan frekuensi pertemuan yang sering |
· Mendapatkan 5 kenalan baru
setiap minggu di sekitar tempat
tinggal
· Mengunjungi 3 kawan
setiap minggu
· Hadir lebih sering dalam
organisasi keagamaan setempat |
| Spiritual |
Berdoa hanya seminggu sekali ketika kebaktian |
Setiap hari berdoa untuk kesejahteraan orang lain dan diri sendiri, cukup 10 menit pada pk. 21.00. |
| Mentoring |
Tidak memiliki mentor sukses |
Menemui Bapak Irawan setiap akhir pekan sekali untuk menerima nasihat. (Bapak Irawan adalah seorang pengusaha sukses yang kukenal di tempat kebaktian) |
| Waktu luang |
Melamun kosong |
Membuat tulisan isnpirasional untuk diedarkan di media massa |
Nah, aku berdiet dengan melakukan kegiatan-kegiatan baruku. Sulit memang, karena kegiatan-kegiatan itu di luar zona nyamanku. Tetapi aku memaksakan diri melakukannya toh cuma 21 hari diet saja. Ya, cuma 21 hari saja, setelah itu selesai sudah.... Tetapi apa yang terjadi? Setelah 21 hari diet, aku..... mulai merasa lebih nyaman dengan kegiatan-kegiatan baruku. Dan yang lebih penting... ternyata aku menjadi lebih bahagia, lebih percaya diri, lebih banyak kawan, lebih produktif, lebih sehat, lebih banyak memperoleh peluang bisnis.. Oh, aku tiba-tiba kepengin mengulang program Diet Mental 21 Hari ini. Anda mau sukses??
Programkan diri Anda dengan kebiasaan baru melalui sistem diet mental ini. Pilihlah area kehidupan yang menurut Anda perlu diperbaiki, lalu lakukan diet ini dengan konsisten.
Tiba-tiba Anda menjadi manusia baru.
(Octavian Elang Diawan)
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Octavian Elang Diawan
|
 |
Diet Mental 21 Hari
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Meraih Citra Diri Positif
(Artikel Anda) -
Jumat, 12 Juni 2009
|
 |
Life Is Challenge
(Artikel Anda) -
Senin, 15 Juni 2009
|
 |
Penuhi Hari Hari Dengan Bersyukur !
(Artikel Anda) -
Senin, 22 Juni 2009
|
 |
Bekicot...oh, Bekicot...!
(Artikel Anda) -
Selasa, 23 Juni 2009
|
 |
Pesawat Balik Lagi Setelah 30 Menit Di Udara
(Artikel Anda) -
Jumat, 26 Juni 2009
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Airmu Mengalir Sampai Jauh
(Artikel Anda) -
Sabtu, 30 Mei 2009
|
 |
Pemuda Yang Sabar
(Artikel Anda) -
Senin, 25 Mei 2009
|
 |
Siapa Bilang Kerja Ikhlas Bukan Investasi?
(Artikel Anda) -
Senin, 18 Mei 2009
|
 |
Membayar Harga Kesuksesan
(Artikel Anda) -
Jumat, 15 Mei 2009
|
 |
Selamat Tinggal Masa Lalu
(Artikel Anda) -
Senin, 11 Mei 2009
|
|
|