Tujuh
hari dalam kebijaksanaan bukanlah alat untuk menerima atau menolak,
karena isinya adalah kebenaran universal. Tujuh hari dalam
kebijaksanaan bukan bahan argumentasi, tetapi sebagai bahan
renungan dalam hati sendiri karena disanalah jawabannya berada. Hari
ini adalah hari ke tujuh dalam Tujuh hari Kebijaksanaan, selamat
membaca semoga bermanfaat bagi anda semua.
"Saya ini Gubernur Jendral" Semasa
pemerintahan Inggris di Sri Lanka, Gubernur Jendral dalam seragam
dinasnya mengunjungi sebuah rumah sakit jiwa. Seorang pasien
mendatanginya dan bertanya, "siapa kamu"? Sang VIP menjawab, :"Saya ini
Gubernur Jendral." Pasien tersebut mendekat dan berbisik ditelinganya,
"Sssstt.., jangan keras-keras. Aku juga bilang begitu lima tahun yang
lalu dan mereka membawa ku ke sini." Perlu
keseimbangan antara emosional dan Intelektual. Jika kita mengembangkan
aspek emosional dengan mengabaikan sisi intelektual, kita akan menjadi
si bodoh yang baik hati. Sedangkan mengembangkan sisi intelektual
dengan mengabaikan aspek emosional, akan membuat kita menjadi si pintar
yang berhati dingin, yang tidak memiliki tenggang rasa kepada orang
lain.
Pandai-pandailah menempatkan diri, menjadi intelektual sejati
yang rendah hati. Tentu akan ada orang yang memperhatikan seorang yang
agung dan bijak yang terbungkus oleh kerendahan hati. Spritual
Emotional mengajarkan perlu mengambil tempat yang tepat. Mencapai
tujuan tidak harus selalu brutal dan keras yang hanya membawa
permusuhan, cacian dan kebencian. Spritual Emotional lebih menyentuh
aspek nurani. Misalnya : orang memberi karena ia ingin memberi, orang
bekerja dengan sangat keras karena memang ia menginginkannya. Tidak ada
yang dipaksakan karena semua tindakan lahir dari AWARENESS (Kesadaran
hati).
Spritual
Emotional mengajarkan merendahkan hati, namun yang terpancar adalah
aura kebesaran dan keagungan. Beradaptasilah karena akan memudahkan anda untuk
mencapai tujuan yang anda inginkan. Menempatkan posisi diri secara
tepat sesuai dengan kebutuhan dan keadaan secara tidak kaku dan terlalu
formal.
Terkadang tidak pada tempatnya mengatakan, saya adalah
Gubernur Jendral sedangkan yang mendengar adalah orang gila, selain
tidak ada manfaatnya juga menjadi bahan tertawaan saja. Spritual Emotional mengajarkan hukum keseimbangan. Keseimbangan terhadap pikiran, suasana hati, tubuh serta tindakan.
"Kita
adalah apa yang kita pikirkan, Semua keberadaan kita muncul dari
pikiran kita sendiri, Dengan pikiran, kita menciptakan dunia."
Siap
untuk susah pikirkanlah setiap hal adalah kesusahan, mulai dari
makanpun harus disuapkan kedalam mulut kita. Sebaliknya bersiap untuk
bahagia karena kebahagiaan itu dapat ditemukan dalam hati kita. Bayangkan
tubuh kita adalah sebuah bus dan semua suasana hati adalah
penumpangnnya. Mereka berusaha menduduki tempat sopir untuk
mengendalikan kemudi. Apa yang menurut anda akan terjadi dalam suasana
seperti itu ? akan terjadi kecelakaan. Dan inilah yang sering terjadi
pada kebanyakan orang dalam hidup mereka, jika mereka tidak tahu
bagaimana menangani suasana hati yang membuat watak mereka agak tidak
stabil, marah yang meledak-ledak dan cenderung membuat pertentangan. Untuk
mengatasinya anda semestinya mengurangi jumlah penumpang. Turunkan
beberapa di perberhentian bus.
Turunkan yang suka membuat keributan.
Buanglah kemarahan, keserakahan, kecemasan, iri hati, niat buruk, dan
sebagainya yang mempengaruhi suasana hati mu. Dengan turunnya
gangguan-gangguan yang merusak seperti itu, tidak ada lagi yang berebut
tempat duduk supir dan anda bisa mengemudi dengan tenang dan anda
mengemudi dengan damai. Anda akan menguasai bus itu sepenuhnya. Tubuh
dan pikiranmu akan dibawah kendalimu dan anda bisa pergi kemana anda
kehendaki.
Anda akan menjadi tuan atas dirimu sendiri. Kalau
kita dapat mengontrol pikiran, suasana hati, tubuh dan tindakan. Maka
kita tidak perlu mencari kebahagiaan jauh diluar sana, karena adanya
didalam diri kita. Kata orang bijak : "Meskipun kita tidak bisa memilih kita lahir menjadi anak siapa, tetapi kita dapat memilih bagaimana menjalankan dan bagaimana mengakhiri hidup kita". Mulai dari sekarang anda memiliki hak memilih sepenuhnya. Memilih bahagia ataupun susah. Kalau demikian kesimpulannya : Mengapa kita tidak memilih bahagia ? Dan jangan lupa saya telah memutuskan dan memilih anda menjadi sahabat saya ? Salam Bersahabat,
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari SUTRISNO SH MKn
|
 |
Mengapa dan Mengapa - Renungan Untuk Sabahat Bagian 2
|
 |
Tujuh Hari Dalam Kebijaksanaan (hari Keempat)
|
 |
Tujuh Hari Dalam Kebijaksanaan (hari Kedua)
|
 |
Tujuh Hari Dalam Kebijaksanaan (hari Ketujuh)
|
 |
Amati Seksama Dan Petik Sebuah Makna
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Rubah Dan Anggur
(Artikel Anda) -
Rabu, 26 November 2008
|
 |
Landasan Beraktifitas
(Artikel Anda) -
Jumat, 28 November 2008
|
 |
Quantum Positif
(Artikel Anda) -
Sabtu, 29 November 2008
|
 |
Lukisan Hidup
(Artikel Anda) -
Senin, 01 Desember 2008
|
 |
Keberanian Luar Biasa
(Artikel Anda) -
Selasa, 02 Desember 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Berdikari Bangkitkan Negri
(Artikel Anda) -
Senin, 24 November 2008
|
 |
Mujizat Dalam Sukacita
(Artikel Anda) -
Minggu, 23 November 2008
|
 |
Jangan Pernah Makan Sendiri
(Artikel Anda) -
Sabtu, 22 November 2008
|
 |
Arti Sebuah Nama
(Artikel Anda) -
Kamis, 20 November 2008
|
 |
Berpikir Positif
(Artikel Anda) -
Rabu, 19 November 2008
|
|
|