Pada
saat ini tidak ada langkah yang lebih penting selain menyiasati
kekuatan globalisasi. Jika siasat itu gagal maka keterpurukan dan
kepahitan segera menghampiri segenap perikehidupan suatu negeri. Resep
jitu yang dikemukakan oleh Joseph E. Stiglitz penerima Nobel bidang
ekonomi untuk mengatasi dampak negatif globalisasi ternyata bisa kandas
begitu saja. Fenomena lonjakan dan penurunan harga komoditas dunia yang sangat tinggi akhir-akhir ini merupakan salah satu bukti bahwa pemimpin negara maju dan rezim ekonomi dunia masih mengabaikan resep Stiglitz. Padahal esensi dasar resep itu adalah menuju tata dunia yang lebih adil.
Untuk
mengatasi dampak negatif globalisasi yang semakin mengganas, pemimpin
negeri ini tidak cukup hanya berkirim surat berisi keluh kesah atau
mengiba kepada lembaga dunia. Jika resep Stiglitz mulai tenggelam,
masih ada resep warisan pendiri negeri ini yang bisa menjadi pegangan,
yakni Berdikari. Sayangnya, pemerintahan sekarang ini kurang memahami jiwa Berdikari yang ditanamkan oleh Bung Karno bersama dengan koleganya tokoh Asia Seperti Mahatma Gandhi dan Sun Yat Sen.
Pada saat itu ada kesamaan visi berdikari diantara para pemimpin
diatas. Sayangnya, jiwa berdikari bangsa Indonesia tidak pernah tuntas
sepeninggal Bung Karno. Sedangkan bangsa China dan India sudah tuntas
dan berbuah kebangkitkan negeri itu sehingga bisa mengejar
ketertinggalan dengan negara maju. Rintisan berdikari oleh Mahatma
Gandhi yang antara lain menggelorakan industri tradisional khadi atau
alat pintal benang untuk kain pada jaman itu pada hahekatnya adalah
untuk menyiasati kekuatan globalisasi gelombang pertama atau
imperialisme.
Dalam
konteks kekinian, jiwa berdikari bisa diwujudkan dengan cepat apabila
ada ekosistem yang baik untuk merekayasa budaya dan transformasi
teknologi yang kompatibel dengan portofolio kompetensi. Transformasi
itu menurut konsultan internasional AT Kearney yang pernah membantu
BJ.Habibie dalam mengimplementasikan strategi transformasi teknologi
dan industri disebut Competency to Achieve Global Competitive Excellence.
Yang pada prinsipnya mengkonsolidasikan dan mengoptimalkan kapasitas
terpasang SDM Teknologi di tanah air sehingga bisa terserap dalam
proses nilai tambah secara ideal. Tidak bisa dimungkiri lagi bahwa
portofolio SDM Teknologi di Indonesia dewasa ini mengalami proses
involusi yang sangat serius. Banyak lulusan perguruan tinggi teknik di
tanah air kesulitan mencari pekerjaan yang layak karena kebijakan impor
telah menjadi panglima. Begitu pula SDM Teknologi yang sudah eksis di
lembaga pemerintah dan BUMN telah mengalami brain drain akibat salah
urus dan minimnya anggaran negara. Pengalaman penulis dalam proyek
SIDINA (Sistem Digital Terintegrasi Nusantara) untuk proses
Re-Engineering berbasis Advanced CAD/CAM/CAE Technology dalam rancang
bangun Pesawat Jet N-2130 menunjukkan bahwa industri di Indonesia pada
prinsipnya mampu melakukan dramatical improvement proses rancang/bangun dalam menghasilkan produk. Sebagai gambaran by design proses rancang/bangun pesawat jet N-2130 dibangun
untuk tidak sekedar setara namun dibuat untuk lebih unggul dibanding
proses rancang/bangun 777 dan 737 Next Generation pada saat itu. Hal
itu dimungkinkan diantaranya karena kemampuan memadukan international
best practices dan perkembangan teknologi terkini, seperti kemajuan
teknologi solid modelling untuk mendukung digital mock-up berbasis
CATIA V4 (pada saat yang sama Boeing
masih menggunakan CATIA V3), intelligent computer aided design (I-CAD)
untuk otomasi desain, integrated product data management (berbasis
Optegra), direct numerical control (berbasis Vericut), ... dll.
Meskipun Program Pengembangan Jet N2130 terhenti, sebenarnya
apa yang tergambar dalam jagat mikro industri pesawat terbang diatas
memberikan hikmah dan pencerahan kepada negeri ini bahwa sangat
memungkinkan kita melakukan dramatical improvement dalam lingkup
nasional untuk mengejar ketertinggalan.
Kajian
AT Kearney dan gambaran jagat mikro industri pesawat terbang diatas
melahirkan arti pentingnya konsolidasi portofolio kompetensi dan produk
dalam negeri yang adaptif terhadap peluang dan tantangan Globalisasi
3.0. Dalam konteks itu pemerintah mestinya menstimulus produk
teknologi karya anak negeri yang sangat berguna untuk meningkatkan daya
saing bangsa dan mampu mengefektifkan pengelolaan negara. Produk teknologi itu antara lain berupa sistem layanan eletronik seperti e-Goverment, e-Business, e-Demokrasi, e-Broadcasting, e-Procurement, e-Education, e-Health,
dan lain-lain. Contoh adaptasi yang luar biasa dalam menghadapi
Globalisasi 3.0 adalah India. Kita bisa menyimak postur SDM teknologi
di India. Dimana setiap
tahunnya, institut dan universitas disana mencetak sekitar 350.000
lulusan teknik. Hebatnya, jumlah sebesar itu langsung terserap oleh
pasar tenaga kerja dengan gaji yang menggiurkan. Hal itu dimungkinkan
karena ekosistem berdikari disana telah mengadaptasi kekuatan
Globalisasi yang disertai dengan rekayasa budaya yang tiada henti.
Ekosistem itulah yang menyebabkan lapangan kerja di India semakin
meluas. Hal itu terlihat dari 50 persen dari software GE dikembangkan
di India. Perusahaan itu telah menggunakan dua puluh ribu orang di
sana. Hewlett-Packard juga mempekerjakan ribuan software engineer di
India. Siemens mempekerjakan sekitar tiga ribu software engineer di
India. Tak ketinggalan raksasa software aplikasi seperti Oracle juga
mempunyai lima ribu engineer disana. Panen lapangan kerja di India akan
terus terjadi karena adanya rekayasa budaya yang dilakukan oleh
pemerintahan disana. Berbagai nilai tradisi, kearifan lokal, karakter
unggul dan daya ungkit etos kerja terus ditransformasikan untuk
menyiasati Globalisasi 3.0. Tak pelak lagi, pekerjaan apa pun di
pasar-pasar seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia dapat
dikerjakan di India.
Pentingnya totalitas dari bangsa Indonesia untuk melakukan rekayasa budaya guna menumbuhkan karakter berlian dan etos kerja yang unggul. Jika rekayasa budaya bisa sinergi dengan transformasi teknologi yang berdaya saing, Insya Allah
kebangkitan negeri ini akan terwujud dalam waktu yang lebih singkat.
Menurut Schein kebudayaan yang akan direkayasa berupa tiga elemen.
Yakni : Artifact, Exposed values (nilai-nilai yang didukung) dan Underlying assumptions (asumsi yang mendasari). Tiga
elemen budaya itulah yang harus direkayasa agar negeri ini bisa
berdikari. Elemen Artifact menyentuh semua bidang dan segi kehidupan,
termasuk produk teknologi, jasa, dan tingkah laku sebuah komunitas.
Diperlukan rekayasa budaya yang melibatkan berbagai bidang keilmuwan
dan lintas profesi. Rekayasa itu bisa dimulai dari segmen budaya
korporasi. Apalagi pada saat ini banyak BUMN dan BUMD yang salah urus
dan selalu merugi sepanjang jaman karena buruknya budaya korporasi.
Begitupun etos kerja birokrasi juga masih jeblok karena pemahaman
terhadap budaya organisasi masih lemah. Partai politik juga tidak mampu
membangun budaya organisasi dengan benar sehingga kondisinya sangat
memprihatinkan. Padahal, fakta telah menunjukkan kepada kita bahwa
perusahaan multinasional yang tingkat kemajuannya melesat sangat jauh
juga telah membangun budaya korporasinya secara konsisten.
Kebudayaan
nasional yang dianalogikan seperti zamrud katulistiwa mestinya menjadi
leverage atau daya ungkit menuju kemandirian dan kemajuan. Masalah
kebudayaan menjadi sangat serius bagi perjalanan bangsa ini kedepan.
Kebudayaan nasional memerlukan sosok kreator dan motivator yang memiliki reputasi dan pemahaman tentang budaya kosmopolitan. Sosok itu seperti Andrie Wongso, Arry
Ginanjar, Gde Prama, Darmadi Darmawangsa, WS Rendra, dan lain-lain.
Selain itu kreator diatas bisa berlatar belakang profesi apapun.
Grup musik Slank yang menjadi duta KPK termasuk kreator budaya yang bisa mencerahkan dan mengobati penyakit budaya yang bernama korupsi.
Komunitas internasional pada saat ini menaruh perhatian besar terhadap
rekayasa budaya. Berbagai riset tentang kebudayaan menjadi sangat
penting. Salah
satu hasil riset kebudayaan yang sempat menyedot perhatian dunia
dilakukan oleh Geert Hofstede. Peneliti Belanda yang mempelajari
ratusan ribu orang yang bekerja dalam puluhan negara yang berbeda.
Riset tersebut mengkaji kecenderungan-kecenderungan dalam kebudayaan
sebagai sesuatu yang dinamis dan tidak absolut. Setiap budaya tertentu
masuk dalam kuadran atau dimensi yang bisa direkayasa agar adaptif
terhadap perkembangan jaman.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Hemat Dwi Nuryanto
|
 |
Berdikari Bangkitkan Negri
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Tujuh Hari Dalam Kebijaksanaan (hari Ketujuh)
(Artikel Anda) -
Selasa, 25 November 2008
|
 |
Rubah Dan Anggur
(Artikel Anda) -
Rabu, 26 November 2008
|
 |
Landasan Beraktifitas
(Artikel Anda) -
Jumat, 28 November 2008
|
 |
Quantum Positif
(Artikel Anda) -
Sabtu, 29 November 2008
|
 |
Lukisan Hidup
(Artikel Anda) -
Senin, 01 Desember 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Mujizat Dalam Sukacita
(Artikel Anda) -
Minggu, 23 November 2008
|
 |
Jangan Pernah Makan Sendiri
(Artikel Anda) -
Sabtu, 22 November 2008
|
 |
Arti Sebuah Nama
(Artikel Anda) -
Kamis, 20 November 2008
|
 |
Berpikir Positif
(Artikel Anda) -
Rabu, 19 November 2008
|
 |
Senjata
(Artikel Anda) -
Selasa, 18 November 2008
|
|
|