"Jangan menjadi budak kekakuan"
Dahulu
di Negeri Tiong-Kok ada seorang yang mendirikan sebuah perguruan tinggi
tertentu dan masyarakat menganggapnya sebagai orang yang terpelajar. Ia
memiliki pengikut yang mencatat segala petunjuknya dalam sebuah buku.
Dalam beberapa tahun buku itu menjadi banyak memuat semua petunjuk guru
tersebut. Para pelajar disarankan untuk tidak bertindak apapun tanpa
merujuk terlebih dahulu kepada buku suci itu. Ke mana pun mereka pergi
dan apa pun yang mereka lakukan, mereka akan kembali ke buku itu untuk
mencari petunjuk. Suatu hari ketika sedang melintasi sebuah jembatan
kayu, sang guru jatuh kedalam sungai. Para pengikut ada di sana, tapi
tak ada satupun yang tahu harus berbuat apa. Jadi mereka membuka buku
suci itu, halaman demi halaman. "Tolong! Tolong!" jerit sang guru, "aku tak bisa berenang."
"Tunggu sebentar Guru, janganlah tengelam dulu." Demikian pengikut-pengikutnya memohon padanya.
"Kami tidak berwenang guru".
Demikian mohon para pengikut-pengikutnya.
"Kami masih mencari dalam
buku kitap suci, pasti ada petunjuk apa yang harus dilakukan kalau guru
jatuh kedalam sungai."
Sementara mereka sibuk membolak-balik halaman buku suci itu, Sang guru lenyap ditelan air.
Betapa kita harus realistis dalam menghadapi
hidup agar hidup kita lebih baik dan bahagia. Ada fenomena yang
terkadang sulit dicerna : Seekor nyamuk dimakan oleh seekor katak,
kemudian katak itu dimakan oleh ular, sebentar kemudian si ular sudah
disambar seekor elang. Apa yang sebenarnya tersembunyi dari hukum alam
ini ?
Dunia ditandai dengan ketidak pastian, tidak ada rumus tetap tentang hidup, karena yang pasti hanyalah kematian. BERINISIATIF, PROAKTIF, BERTINDAK
CEPAT dalam memutuskan sebuah perkara sering kali adalah langkah
bijaksana untuk menyelamatkan banyak orang termaksud untuk diri kita.
Seringkali terdapat perbedaan yang sangat tipis, apakah seseorang itu
mendapat keberuntungan atau tertimpa kesialan, yaitu faktor waktu. "Tindakan lebih cepat menjadi keberuntungan, atau lambat menjadi kesialan". Karena itu, kita perlu menyelamatkan diri kita dari menjadi orang yang kaku, lambat pikir dan tidak berinisiatif. Karena ketika
sifat negatif ini terus dilatih, ia akan menjadi bagian dari pola pikir
kita, selanjutnya ia dapat membawa kita pada celaka, atau setidaknya
kehilangan keberuntungan yang seharusnya menjadi milik kita. Kenyataan
itu meminta kita lebih realistis dan tidak terlalu kaku dalam menjalani
hidup yang keselarasan dengan alam dan hidup berbahagia. Apabila
kebiasaan lebih realistis dan cepat bertindak membawa kemakmuran bagi
kita, Mengapa tidak kita kembangkan saja sifat positif ini ?
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari SUTRISNO SH MKn
|
 |
Tujuh Hari Dalam Kebijaksanaan (hari Ketiga)
|
 |
Tujuh Hari Dalam Kebijaksanaan (hari Kedua)
|
 |
Tujuh Hari Dalam Kebijaksanaan (hari Kelima)
|
 |
Tujuh Hari Dalam Kebijaksanaan (hari Ketujuh)
|
 |
Five Days Food For The Heart (hari - 3)
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Berdiri Pada Kaki Sendiri
(Artikel Anda) -
Minggu, 16 November 2008
|
 |
Krisis Ekonomi Global? Siapa Takut? Bagian I
(Artikel Anda) -
Senin, 17 November 2008
|
 |
Senjata
(Artikel Anda) -
Selasa, 18 November 2008
|
 |
Berpikir Positif
(Artikel Anda) -
Rabu, 19 November 2008
|
 |
Arti Sebuah Nama
(Artikel Anda) -
Kamis, 20 November 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Secarik Kertas Putih
(Artikel Anda) -
Rabu, 12 November 2008
|
 |
Berani Untuk Berkata Tidak
(Artikel Anda) -
Senin, 10 November 2008
|
 |
Pony Menyebrang Sungai
(Artikel Anda) -
Jumat, 07 November 2008
|
 |
Apa Yang Tidak Mungkin Dicapai?
(Artikel Anda) -
Kamis, 06 November 2008
|
 |
Lima Pembunuh Motivasi
(Artikel Anda) -
Rabu, 05 November 2008
|
|
|