Inilah yang terjadi pada tanggal 11 September 2001. Sedih, ketakutan, panik, tangisan dan teriakan - semua yang negatif tampak di New York, Amerika Serikat.
Saat itu saya memang berada di New York untuk bekerja di salah satu perusahaan media terkemuka sebagai Marketing Executive. Jam 7.30 seperti biasa, atasan saya, Sharon memberikan good morning call dan briefing para penjual. Dan saya mendapat tugas menggantikannya untuk bertemu dengan salah satu kliennya, kira-kira enam blok dari gedung WTC 2.
New York adalah kota yang sibuknya hampir sama dengan Jakarta. Bahkan lebih sibuk! Walaupun sibuk, tetapi New York kota yang menarik untuk dikunjungi. Gedung seperti Times Square, patung Liberty ataupun beberapa klub jazz yang menarik untuk dikunjungi sehabis jam kantor.
Saat saya berada di kantor klien pada pukul 8.15, saya masih menunggu sambil membaca koran di ruang tunggu. Tiba-tiba pada pukul 8.48, terdengar dentuman yang sangat kuat dari Gedung WTC 1. saya melihat dari jendela, kobaran api dari WTC 1. Sekretaris kantor mengatakan ada pesawat menabrak Gedung WTC 1.Saya masih berpikir itu hanya kecelakaan penerbangan biasa yang sering terjadi di New York. Tetapi..............pada pukul 9.06 terjadi hal yang sama pada WTC 2. Semua orang mulai panik dan turun melalui tangga darurat. Saya pun melepas sepatu supaya saya bisa lari.
Saya berusaha memasuki area WTC tetapi para tenaga pemadam kebakaran sudah memasang batasan dan tidak seorang pun diperkenan untuk memasuki area WTC. Saya hanya menangis dan menangis. Tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya hanya teringat bahwa senior manajer saya dan beberapa teman berada di lantai 25.
Saya melihat beberapa orang meloncat dari gedung WTC 2 setelah pesawat menabrak. Mungkin karena panik, dan tidak ada jalan keluar, beberapa orang mengambil langkah untuk sekalian bunuh diri.
Semua orang menangis dan berteriak ketika kedua menara runtuh. Hanya deburan abu yang tampak. Saya hanya terduduk pada anak tangga St.Paul Chapel sambil memandangi yang baru saja terjadi.
Akhirnya saya dibawa ke kantor polisi untuk mengetahui identitas. Di kantor polisi, saya menyaksikan James dan Ruth, orang tua Sharon, manajer saya, untuk mencari tahu keadaan anak mereka. Tapi tidak ada seorang pun yang selamat. Mereka menangis dan Matt, sang kakak pun menangis mengetahi adiknya menjadi korban insiden 9 September.
Siapa yang harus disalahkan?
Tidak ada!
Yang ada ini adalah wujud permintaan dunia untuk melakukan perubahan secara global. Memang, perubahaan yang ekstrim membutuhkan korban dari berbagai aspek. Tetapi mengapa harus orang yang baik selalu menjadi korban? Pertanyaan ini yang belum terjawab bagi saya.
Netter yang budiman,
Dari sini saya mengambil pelajaran, kita memang selalu disibukkan oleh berbagai hal dalam hidup ini. Hanya ingatlah pada orang-orang di sekitar kita bahwa mereka pun membutuhkan kesempatan yang sama. Maka motivasilah mereka untuk melakukan yang baik dalam hidup ini dan berguna untuk orang-orang di sekitar kita. Berhentilah untuk memikirkan nilai pamrih! Karena..... apa yang Anda pahami, belum tentu dipahami oleh orang lain. Maka lihatlah segala sesuatu dari pihak lain! Dan sabarlah selalu dalam menangani hal-hal sekecil apapun di hadapan kita. Untuk saat ini, saya hanya mau berdiam diri sejenak sambil berdoa untuk Sharon dan teman-teman saya yang menjadi korban 9/11.
Salam sukses luar biasa!
(This written for soul of my lovely manager, Sharon M-stay happily in Heaven!)
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Debbie Sianturi
|
 |
Menulis - Masih Perlukah Mengeluh?
|
 |
Tidak Perlu Analisa
|
 |
Kelemahan yang Harus Diatasi
|
 |
Jatuh Dalam Kesalahan Dan Bangkit Dengan Kebenaran
|
 |
Jauhi Makelar dan Tingkatkan Komunikasi
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Kacamatamu Adalah Keputusanku
(Artikel Anda) -
Minggu, 14 September 2008
|
 |
Terbaik Menurut KitaBelum Tentu Terbaik Untuk Kita
(Artikel Anda) -
Senin, 15 September 2008
|
 |
Tuhan Berilah Aku Sedikit Masalah
(Artikel Anda) -
Selasa, 16 September 2008
|
 |
Life Challenges
(Artikel Anda) -
Rabu, 17 September 2008
|
 |
Tujuh Fondasi Keseimbangan
(Artikel Anda) -
Kamis, 18 September 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Surat Dari Kakek
(Artikel Anda) -
Jumat, 12 September 2008
|
 |
Banyak Mendengar Dan Rendah Hati
(Artikel Anda) -
Kamis, 11 September 2008
|
 |
C U K U P
(Artikel Anda) -
Rabu, 10 September 2008
|
 |
Tujuh Hari Dalam Kebijaksanaan (hari Ketiga)
(Artikel Anda) -
Selasa, 09 September 2008
|
 |
Antara Puasa, Kepompong Dan Tujuan Hidup
(Artikel Anda) -
Senin, 08 September 2008
|
|
|