Empat
huruf yang sederhana dan ketika diucapkan SANGAT TIDAK MEREPOTKAN,
hanya memakan waktu 1 detik, tapi huruf-huruf ini sering tertahan di
ujung lidah kita, hanya karena EGO.
Lalu efeknya?Luar biasa!Ucapkan 1 detik itu akan meninggalkan bekas yang mendalam selama berjam-jam, berhari-hari, bertahun-tahun bahkan EVERLASTINGsepanjang hidup kita.
Apa itu?
"MAAF" Mari kita mulai dengan Meminta "MAAF"
Terlepas apakah maaf kita diterima atau tidak, untuk mengucapkannya saja dibutuhkan keberanian
Suatu hari di tahun 1990an, beberapa jam menjelang pesta pernikahan temanku.Tiba-tibasebuah
sepeda motor direm secara mendadak tepat di depan roda dua yang saya
kenderai, saya terkejut karena secara mendadak saya dikembalikan dari
lamunanku di jalan.
Sejenak
saya menatap ke arah pengendara sepeda motor tersebut, tak ada senyum
yang kulemparkan, hanya tatapan lurus tanpa ekspresi, lalu segera
kubawa roda duaku ke dalam lapangan parkir.Sejenak kupikir telah usai.
Ternyata
tidak, sang bapak pengendera sepeda motor itu mengejar sampai ke
lapangan parkir, dan segera digengamnya tanganku dengan keras sambil
berkata, "Kamu tak punya mata ya!Jalan khok tiba-tiba belok dan bla bla bla.."
Selanjutnya, yang saya lakukan adalah hal yang sederhana tersebut, saya katakan "Maaf!" lalu kusalami tangannya.Hanya itu, dan bapak itu pun berlalu.
Lalu setelahnya, saya berpikir apa yang terjadi jika saya tidak mengucapkan kata tersebut hanya untuk mempertahankan ego,ceritanya tentu akan lebih panjang dan lebih tidak mengenakkan.
Dan
kalau bisa selesai dalam waktu singkat dan memberikan efek yang begitu
positif mengapa kita tidak melakukannya dengan meredam keangkuhan kita.
BAPAK JUGA BOLEH MEMIJAK KAKI SAYA
Seorang
anak tampak berdiri dalam sebuah bis yang padat penumpangnya, tanpa
sengaja anak tersebut menginjak kaki seorang bapak dudukdi dekatnya.Sang bapak berdiri dengan marah, ia membentak anak tersebut.Sambil tertunduk anak itu meminta maaf, tapi ternyata kemarahan bapak itu masih tidak mereda, kembali dimakinya anak tersebut.Anak itu kembali mengatakan "MAAF", tapi lagi-lagi sang bapak tidak menanggapinya, malah marahnya makin menjadi-jadi.
Akhirnya
anak itu berkata "Pak, sekali lagi Maaf, saya tidak sengaja menginjak
kaki bapak, tapi kalau bapak tidak bisa memaafkan saya, bapak boleh
menginjak kaki saya juga khok"
Dan "Blink!" Bapak itu tercerahkan.
SALING MEMAAFKAN
Saya pernah membaca sebuah email yang dikirim oleh teman, email itu bercerita tentang kekuatan saling memaafkan di keluarga.
Diceritakan bahwa pada suatu harikarena
terburu-buru ke kantor, sang ayah meninggalkan begitu saja racun
serangga di meja, tapi terlebih dahulu ia memberitahukan sang istri
untuk menyimpannyasetelah tugas di dapurnya selesai.
Lalu apa yang terjadi kemudian?
Sang
anak yang baru bangun dari tidurnya, tanpa sengaja meminum cairan racun
tersebut sementara sang ibu masih sibuk dengan pekerjaannya di dapur.
Ketika
Sang ibu menyadarinya, si anak telah terkapar dengan mulut berbusa,
lalu dengan singgap anak itu dibawa ke rumah sakit terdekat dan Sang
ayah pun diberitahukan agar segera ke rumah sakit tersebut.
Singkat kata, Sang ayah akhirnya bertemu dengan sang ibu, sementara si anak di ruang ICU menjalani pengobatannya.
Jika kita diletakkan pada posisi ayah atau ibu, apa yang akan terjadi kemudian?
Di
awal saya membayangkan bahwa cerita itu akan menjadi sumber konflik
keluarga, ayah akan menyalahkan ibu karena tidak segera menyimpan racun
tersebut padahal bapak sudah memberitahukan kepadanya,lalu
ibu tak mau kalah garangnya menyalahkan bapak yang meninggalkan begitu
saja racun di meja yang bisa dijangkau anaknya yang kecil itu.
Ternyata,
cerita itu tidak mengalir seperti yang saya bayangkan, atau mungkin
anda bayangkan (atau yang mungkin akan kita lakukan jika hal ini
menimpa kita)
Sang
Ayah segera memeluk istrinya berkata, "Maafkan aku Ma, aku teledor
meletakkan racun itu di meja yang bisa dijangkau si kecil", lalu di
sela isak tangisnya, Sang ibu juga berkata "Maafkan aku juga Pa,aku tidak segera menyimpannya, aku tak menyangka si kecil bangun sepagi itu."
Lalu mereka berpelukan menunggu kesembuhan si kecil.
Sungguh indah bukan!
Indah
bukan karena peristiwa naas itu terjadi, tapi indah karena reaksi
mereka akan peristiwa itu, indah karena mereka dapat mengalahkan ego
mereka masing-masing, untuk tidak saling menyalahkan, untuk saling
memaafkan.
Peristiwa
itu telah terjadi, mereka hanya dapat memilih reaksi terhadap peristiwa
tersebut, Indahnya, ketika keduanya memilih untuk tidak menjadikannya
sumber konflik, tapi mereka memilih untuk saling menguatkan, saling
memaafkan.
Apakah Kita juga akan memiliki pilihan yang sama dengan mereka?
Salam Sukses Selalu
Seng Guan CPLHI
Regional Manager PT. Arthamas Konsulindo Medan
PSDM Siddhi Medan
sengguanjr@yahoo.com
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Seng Guan CPLHI ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Berapa Harga Secangkir Teh?
|
 |
Tranformasi Ke Alam Bawah Sadar
|
 |
DontAsk, Just Do It?
|
 |
Comfort Zone ?Why Not !
|
 |
Hanya Empat Huruf Dan Satu Detik
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Menjadi Seperti Apa Yang Anda Inginkan
(Artikel Anda) -
Kamis, 07 Agustus 2008
|
 |
Jaga Kesehatan Demi Kesuksesan Masa Tua
(Artikel Anda) -
Jumat, 08 Agustus 2008
|
 |
Tujuh Hari Dalam Kebijaksanaan (hari Pertama)
(Artikel Anda) -
Sabtu, 09 Agustus 2008
|
 |
Bakat Bukanlah Segalanya Tapi Kemauan Itulah Kunci Utama
(Artikel Anda) -
Minggu, 10 Agustus 2008
|
 |
Berani Berkata Tidak
(Artikel Anda) -
Senin, 11 Agustus 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Kiat Guru Di Tengah Siswa Yang Sudah Remaja
(Artikel Anda) -
Senin, 04 Agustus 2008
|
 |
Is The Price Too High ?
(Artikel Anda) -
Minggu, 03 Agustus 2008
|
 |
Siapapun Anda, Anda Sudah Sukses Detik Ini Juga
(Artikel Anda) -
Sabtu, 02 Agustus 2008
|
 |
Matematika Tuhan Berbeda Dengan Matematika Manusia
(Artikel Anda) -
Jumat, 01 Agustus 2008
|
 |
True Leader Starts On The Inside
(Artikel Anda) -
Kamis, 31 Juli 2008
|
|
|