"Nggak sekalian di-balancing Pak ?", tanya wanita yang menyapa sayadi pintu masuk bengkel langganan saya. Dengan buku catatan kecil, ia coba merekam apa yang sayaminta.
Kalau ada keluhan khusus, maka perhatiannya makin seksama. Ia tentu tak
ingin gagal menangkap mau pelanggannya, yang lalu menyebabkan keluhan
atas mobil saya jadi tak tertangani dengan baik. " Sekalian di-balancing aja Pak. Biar enak larinya, nggak goyang. Satu ban 30 ribu Pak", begitu petugas itucoba meyakinkan saya. Sayamemang jarang mem-balancing mobil tua yang saya punya.
Memang lebih sering saya melakukan tune-up untuk si kudahijau itu. Walau memang ada waktu-waktu dimana saya tak bisa lagi menghindar untuk tak membawamobil
ke bengkel untuk balancing. Ketika mobil sudah sering tak stabil,
balancing mungkin jadi solusi. Balancing memang dianggap bisa membantu
agar beban roda jadi lebih rata, sehingga lari kendaraan lebih nyaman Mengingat
kejadian sederhana seputar urusan bengkel mobil, sejenak saya terdiam,
terutama saat ingatan ini melayang dan singgah pada isu seputar
dinamika kehidupan secara umum. Khusus tentang isu keseimbangan hidup,
kisah di bengkel tadi menguatkan semangat saya untuk serius
mengelaborasigagasan life balancing ini.
Kalau
mobil saja butuh di-balancing, maka kehidupan kita pasti jauh lebih
mahal dan bermakna, sehingga tentu butuh perhatian yang juga lebih.
Hidup kita tentu juga sangat butuh untuk dibuat seimbang Perlahan
sejumlah pertanyaan dasar menyembul naik ke permukaan kesadaran, yang
semuanya terkait dengan isu keseimbangan itu. Pertanyaan-pertanyaanitu antaralain :1.Sungguhkan kitasudah merasa bahagia ? 2. Puaskah kita dengan cara kita membagi waktu selama ini ? 3. Apakah setiap aspek dalam kehidupan kita sudah diperlakukan secara adil ?4. Apa yang sesungguhnya benar-benarkita inginkan ?5. Area apa saja yang belum kita perhatikan secara seksama ?6. Apa saja yang bisa dilakukan dengan segeraguna mengejar yang sungguh kita mau ? Pertanyaan di atas menggelitik saya, sekaligus mengingatkan siapapun betapa keseimbangan adalah soal yangsungguh penting.Dalam tulisannya, Vadim Kotelnikov pernah berujar bahwa " Balance is about how you live your life and manage your business and people.
Finding the right balance in
your body, your mind, your life, and your business will help you refine
your goals and hasten you towards them. It will lead to on your journey
to improved health, spirit, and well-being". Benar adanya bahwa mungkin tak perlulahsaya mengutip pandangan Vadim di atas.
Banyak di antara kita, yang dengan common senseyang ada,pasti bisa memahamibahwa keseimbangan akanmembantu meningkatkan kesehatan mental kita. Pada kesempatan lain, Dalai Lama - peraih Nobel Perdamaian - juga menegaskan pernyataan di atas, dengan berujar bahwa ,'A balance d
and skillful approach to life, taking care to avoid extremes, becomes a
very important factor in conducting one's everyday existence".Jelas bahwa keseimbangan adalah factor pentingbagi keberadaan kita.Nah lalu bagaimana dengan Anda dan saya hari ini ?Tentu
saya butuh waktu khusus untuk sungguh mencari tahu dan mendapatkan
gambaran actual tentang sejauh mana hidup saya sekarang ini sudah
berada pada keseimbangan yang saya mau.
Yang
pasti, saat coba perlahan menganalisa hidup ini , saya pun teringat
pada sejumlah kawan yang menurut saya sempat kehilangan keseimbangan. Adakawan yang jadi demikian negatifnya sepanjang hari. Mungkin Anda juga biasaberhadapan dengan kawan dankolega yang jadi negativist. Bagi saya, ini salah satu tanda bahwa yang bersangkutan sedang berjuanguntuk
sampai pada keseimbangan. Ada kawan lain yang loyo tak berdaya. Diajak
bicara tak antusias dan terkesan pasrahan. Ini juga tanda lain bahwa
ada yang tidak seimbang.
Jenis lain adalah kawan yang seakan sudah
meraih segalanya, namunpada satu titikia
bertanya dengan emosional pada saya : " Apa lagi sekarang ?". Setelah
semua yang ia kejar sudah di tangan, ia bingung hendak ke mana dan
melakukan apaYa,
" Apalagi sekarang ?", adalah jenis pertanyaan yang juga pernah saya
lontarkan. Meski belum mendapat semua yang saya mau, tetap saja saya
pernah bingunghendak dikemanakan hidup saya. Kalaupertanyaan
jenis ini terjawab tuntas, maka akan ada energi yang terarah pada
tindakan produktif. Repotnya kalau pertanyaan macam ini tak tuntas
diselesaikan, maka akan ada energi terpendam yang bisa bermetamorfosis
ke dalam banyak bentuk lain yang belum tentu positif.
Kisah
di atas adalah sedikit telaah dan rekaman atas beberapa peristiwa dari
sudut pandang saya. Belum tentu semua benar dan akurat. Apalagi jika
dibandingkan dengan banyak teori dari para ahli. Yang saya ungkap lebih
banyak persepsi dan intepretasi saya pribadi. Yang jelas, memang ada
ahli yang menegaskan bahwa salah satu tanda hidup yang tak seimbang
adalah ketika seseorang mulai tampak sangat pasif dalam menjalani
hidup. Mereka seakan tak memiliki kendala, sementara potensi dan
kapasitas besar ada pada diri mereka.Ketika sikap pasif di atas mulai menyerang, ada baiknya kita mengingat bahwa ada kaitan antara pikiran dan tubuh kita. Ada "mind and body connection " kata kawan-kawan praktisi NLP.
Berpijak padagagasan ini maka kita perlu menaruh perhatian sungguh-sungguh pada kepercayaan kita, pada beliefs kita."
The behaviours that have led you to passive living happen because of
your beliefs. We all behave in accordance with our beliefs. Therefore
to change your way of life you must first change your mind.". Tingkah
laku kita yang pasif sesungguhnya dikarenakan keyakinan/kepercayaan
yang kita pegang. Karenanya untuk merubah perilaku kita, pertama kali
kita harus mengubah dulu pikiran-pikiran kita.Lalu apa yang harus dilakukan agar bisa lebih sistematis mengejar keseimbangan yang kita mau ? Ada
banyak tawaran para ahli. Namun mencermati beberapa pertanyaan di atas
saya pikir bisa mengantar kita pada proses penghayatan lebih dalam.
Saya juga suka cara lain yang juga sederhana untuk memulai memeriksa
keseimbangan hidup saya.
Saya sepakat dengan dan menggunakan analogi
lingkaran / roda untuk melihat keseimbangan itu. Di tengah lingkaran
kehidupan itu ada banyak aspek kehidupan yang kita perhatikan. Setiap
orang bisa beda, namun saya punya beberapa aspek yang harus muncul,
yakni :1.career - terkait dengan pekerjaan2. learning - terkait dengan pengembangan diri3. spiritual - terkait dengan hubungan saya dengan Pencipta4. communities - tentang kontribusi saya terhadap lingkungan5. phyisical - tentang kesehatan6. family- tentang kesejahteraan keluarga7. financial- seputar keuangan Berangkat
dari 7 aspek di atas, saya sering melakukan kajian sejauh mana
aspek-aspek itu sudah saya perhatikan dengan seksama.
Berapa banyak
waktu yang sudah saya alokasikan pada aspek yang ada ? Selain waktu,perhatian juga jadi tanda sebanyak apa energi kita tercurah pada aspektersebut. Mencoba jujur memberi penilaian - sebut saja dengan memberi rating 1 sampai 5 -,saya
terbantu mendapatkan gambaran aspek kehidupan mana yang masih kurang
saya perhatikan yang mungkin jadi sumber tidak stabilnya saya.
Ketidak-seimbangan, ketidak-stabilan saya bisa tergambar juga dari
bagaimana saya mengekspresikan emosi.
Jika saya makin tenang, mungkin
itu pertanda keseimbangan yang menguat Jelas,
apa yang seimbang di mata saya tidak selalu sama dengan pandangan Anda.
Dan kita memang sedang bicara pemaknaan yang subyektif sifatnya. Bahkan
tentang konsep keseimbangan itu sendiri, kita mungkin punya definisinya
sendiri-sendiri. Dan ketika balance adalahsoal
persepsi pribadi ; ketika keseimbangan menyangkut keyakinan kita, maka
pada akhirnya ia tak bisa lepas dari soal prioritas kita.
Dengan
begitu, makin jelas bahwa kita memang perlu menegaskan ulang prioritas
yang hendak kita kejar, yang akan mengisi setiap ruang dalam aspek
kehidupan kita. Saat bicara prioritas berarti kita bicara juga
nilai-nilaiyang hendak kita ke depankan,yang coba diekspresikan melalui rangkaian prioritas dan aktivitas.Aktivitas, prioritas adalah rangkaian langkah dalam sebuah rentang waktu kehidupan. Iaakan
mengarah pada satu titik yang semoga memang arah yang sungguh hendak
kita tuju.
Karenanya, sejak awal kita perlu sadar hendak dikemanakan
hidup dan perjalanan kehidupan kita. Menyadari hendak dikemanakan hidup
kita berartimenjawab pertanyaan hendak menjadi siapa kita pada akhirnya Sebagai
penutup, semoga ada tambahan gambaran tentang keterkaitan antara
aktivitas, prioritas dan keseimbangan yang kita harapkan. Hidup yang
seimbang bisa berarti hidup yang mempertimbangkan sebanyak mungkin
peran dan aspek kehidupan kita, yang kesemuanya direkatkan dalam sebuah
gambar besar tentang jenis akhir hidup yang kita damba.
Go balance ! #end
Cimanggis Des. 07 *adjie
adalah praktisi bidang pengembangan SDM. Lebih dari 10 tahun
berkesempatan memfasilitasi banyak program pelatihan. Beberapa
coretannya juga pernah dimuat di
www.pembelajar.com.Kumpulan karyanya yang lain dapat dilihat di
www.ResilientIndonesia.com
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari adjie
|
 |
BalancingOur Life By Adjie
|
 |
Nilai Dan Prioritas Kita
|
 |
LifePurpose By Adjie
|
 |
Check Our Commitment
|
 |
Kenali "aku" - Mu
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Inspirator Itu Seorang Anak Kecil
(Artikel Anda) -
Minggu, 27 April 2008
|
 |
Self - Positioning
(Artikel Anda) -
Senin, 28 April 2008
|
 |
Dana Sos, Uang Penyelamat (bagian 1)
(Artikel Anda) -
Senin, 28 April 2008
|
 |
Rantai Motivasi
(Artikel Anda) -
Selasa, 29 April 2008
|
 |
The Secret Of Self-concept
(Artikel Anda) -
Rabu, 30 April 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Comfort Zone ?Why Not !
(Artikel Anda) -
Jumat, 25 April 2008
|
 |
Get Success With Marriage
(Artikel Anda) -
Kamis, 24 April 2008
|
 |
Lepaskanlah
(Artikel Anda) -
Rabu, 23 April 2008
|
 |
Ketakutan Vs Keyakinan
(Artikel Anda) -
Selasa, 22 April 2008
|
 |
Lompati Tiga Batu Ujian Dalam Hidupmu
(Artikel Anda) -
Selasa, 22 April 2008
|
|
|