Mungkin
kita sudah terlalu sering mendengar cerita sedih dari seorang anak yang
dibesarkan oleh ibu tirinya. Sepertinya cerita ibu tiri selalu identik
dengan KESEDIHAN, KETIDAKADILAN dan air mata.
(Disadari atau tidak, sejak kecil benih-benih "CURIGA" telah ditanamkan pada sosok seorang "Ibu Tiri".Melalui
media cetak maupun media elektronik, benih disusupkan lewat
cerita-cerita, lewat sinetron, terlebih lewat berita penyiksaan "anak
tiri "yang diekspos bukan oleh satu media saja, tapi hampir oleh
seluruh media untuk satu kasus yang sama)
Lalu, cerita Ibu tiri sebagai seorang sosok Ibu yang Penyayang seakan lenyap oleh pemberitaan yang tak berimbang, lalu terciptalah sosok MONSTERatas restu bersama.
Lalu apa selanjutnya?
Apa
yang ada dibenak kita, ketika suatu saat kita diberitahukan bahwa kita
akan segera memiliki seorang Ibu Tiri? (Khususnya ketika kita masih
sangat hijau, masih jauh dari kata mandiri)
Suatu
Blokade ketat segera kita dirikan, segala macam perlindungan segera
kita kenakan, kita segera memproteksi diri kita, kalau-kalau kita akan
terluka nantinya oleh kemunculan seorang MONSTER.
Ketika
pikiran kita mengidentifikasikan Ibu itu sebagai seorang Monster, maka
sejak detik itu juga kita memperlakukannya seperti kehendak pikiran
kita.
Kita segera memutuskan hubungan diplomasibahkan
untuk suatu hubungan yang belum sempat dibangun, tidak ada kata
persahabatan, semua ucapannya harus ditantang dan ia tak lebih dari
seorang musuh. Sekalipun ia berusaha mencairkan kekakuan, itu hanyalah
trik untuk mengelabuhi kita. (Setidaknya itulah menurut kita dan
kebanyakan orang)
Inilah beban yang harus kita pikul atas nama "CURIGA"
Ketika kecurigaan yang berlebihan itu datang, kita telah dilukai (secara mental) sebelum semua ketakutan itu terbuktikebenarannya.Anehnya kita lebih senang melukai diri sendiri sebelum orang lain melakukannya terhadap kita.
Seorang teman pernah bercerita tentang kisah "Petani yang kehilangan cangkulnya"
Cerita itu dimulai ketika Pak Tani mendapat tetangga baru, seorang pemuda berkaus oblong dengan wajah sangar,yang
tidak pernah tersenyum dan selalu pulang larut malam. Pak Tani selalu
memperhatikan gerak-gerik tetangga barunya itu. (Jangan-jangan seorang
penjahat, pikirnya), ia selalu berkatapada istrinya "Lihat, tampang orang itu sangat mencurigakan"
Semua "TERBUKTI" ketika Pak Tani kehilangan cangkul barunya dan vonis segera dijatuhkan.
"Benar dugaanku, dialah yang telah mencuri cangkul baruku!"
Hari-hari berikutnya Pak Tani sibuk mengamati "si tertuduh", ia bertekad menangkap basah sang pencuri cangkulnya.Tapi hari yang ditungu-tunggu tak kunjung datang, ia malah tersandung dan terjatuh ketika sedang asyik menjadi seorang detektif.
Benda yang menjadi sandungannya akhirnya mampu memunculkan bukti baru, bukti yang menyatakan bahwa sang pemuda TIDAK BERSALAH.
Pak Tani baru teringat bahwa ia lupa menyimpan cangkulnya ketika sedang menanam ubi di belakang rumahnya.
Ketika benih curiga ditanamkan, detik itu juga kita telah memperlakukan sang Suspect
sebagai pelakunya, si pelaku yang telah dan akan terus melukai kita
(pikiran kita segera mendefinisikannya sebagai musuh) Ketika pikiran
itu telah menjatuhkan vonisnya, kita akan cenderung bertindak sesuai
dengan keputusannya, sang Suspect adalah musuh. (dan musuh akan saling melukai)
Sejak itu pula, disadari atau tidak, kita akan melukai "tersangka" itu,dan
ini akan memicu PERCEPATAN sang suspect menjadi musuh yang nyata atau
bahkan memunculkan musuh yang sebelumnya tak pernah muncul. (Pikiran
segera menarik apa yang kita pikirkan)
Cerita ini segera membungkam semua CURIGA yang ada pada temanku tadi, ia berhasil membangun kepercayaanku padanya.
Walau
akhirnya ia juga berhasil melukaiku setelah pintu CURIGA runtuh, ada
pelajaran yang menarik untuk direnungi dari kejadian tersebut.
Pertama, Setidaknya aku hanya perlu terluka sekali, yaitu pada saat ia melukaiku.(Daripada terluka dua kali :terluka pada saat curiga muncul dan terluka pada saat curiga menjadi kenyataan)
Kedua, setidaknya aku telah memberikan kesempatan pada sang suspect untuktetap menjadi temanku,dan kesempatan untuk berubah pikiran, untuk tidak saling melukai.
Saatnya
bagi kita untuk membuang rasa curiga di antara kita (ini yang sedang
terjadi pada negera kita, kehilangan rasa percaya atas sesama),
kita
ganti rasa CURIGA menjadi WASPADA, terutama waspada atas tindakan kita
terhadap orang lain, bukan orang lain terhadap kita.
Sebuah syair dari satu kitab kehidupan menjelaskan pada kita.
"Apabila seseorang tidak mempunyai luka di tangan, maka ia dapat menggenggam racun.Racun tidak akan mencelakakan orang yang tidak terluka. Tiada penderitaan bagi orang yang tidak berbuat jahat"
Syair itu kembali dipertegas
"Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri.Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya?Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh sukar dicari"
Mungkin setelah kita mulai menyadarinya, Ratapan Curiga anak tiri tidak perlu ada lagi.
Salam Sukses Selalu,
Seng Guan CPLHI
Regional Manager PT. Arthamas Konsulindo Medan
sengguanjr@yahoo.com
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Seng Guan CPLHI ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
DontAsk, Just Do It?
|
 |
Mukzizat Keikhlasan
|
 |
Comfort Zone ?Why Not !
|
 |
Six Direction Of Honour
|
 |
Hanya Empat Huruf Dan Satu Detik
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Belajar Dari Sebuah Pohon Tua
(Artikel Anda) -
Senin, 24 Maret 2008
|
 |
Temukan Asyiknya
(Artikel Anda) -
Selasa, 25 Maret 2008
|
 |
Tapi.......kenapa.......jangan
(Artikel Anda) -
Rabu, 26 Maret 2008
|
 |
Change !
(Artikel Anda) -
Kamis, 27 Maret 2008
|
 |
Bermesra Dengan Tanggal Tua
(Artikel Anda) -
Sabtu, 29 Maret 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Keutamaan Ego Dan Menjadi Egois
(Artikel Anda) -
Sabtu, 22 Maret 2008
|
 |
Menggeser Definisi
(Artikel Anda) -
Jumat, 21 Maret 2008
|
 |
Diet Mental
(Artikel Anda) -
Kamis, 20 Maret 2008
|
 |
Beranikah Anda Sukses?
(Artikel Anda) -
Rabu, 19 Maret 2008
|
 |
Take And GiveAtaukahGive And Receive ?
(Artikel Anda) -
Selasa, 18 Maret 2008
|
|
|