Dalam proses perekrutan tenaga
kerja, pelamar/pencari kerja selalu diminta mengisi sebuah formulir
aplikasi berisi pertanyaan mengenai biodata serta hal lain yang
berhubungan tentang diri si pelamar. Dari sejumlah pertanyaan, ada satu
pertanyaan yang sering dibiarkan tetap bersih atau tidak diisi oleh
pelamar, yaitu: "Sebutkan prestasi yang pernah Anda raih?"
Kalaupun ada yang mengisi, biasanya
sangat sedikit prestasi yang pernah diraih, dan kuantitas orang yang
mengisi terpaut sangat jauh dengan yang melewatkannya. Mengapa hal ini
bisa terjadi? Apakah jumlah orang yang berprestasi memang kenyataannya
sangat sedikit? Sungguh sulitkah memperoleh prestasi? Sehinggadalam
merekrut tenaga kerja, saya nyaris tidak menemukan calon karyawan yang
memiliki banyak prestasi. Ini adalah sebuah korelasi yang aneh,
mengingat data yang mereka kirim sebelumnya berupa
surat lamaran dengan
CV (curriculum vitae) atau
resume, berisi banyak prestasi (setidaknya menurut saya).
Setelah melakukan proses
interview/wawancara dan isnpeksi yang mendetil, faktanya mereka punya
segudang prestasi. Mulai dari keberhasilan mereka menempuh pendidikan
formil dengan nilai bagus, menguasai beberapa jenis olahraga, memiliki
keterampilan atau keahlian di bidangnya masing-masing, bahkan tidak
jarang seseorang memiliki beberapa keterampilan yang pantas
dibanggakan. Mereka juga berhasil dalam menjalin hubungan, menikah,
memiliki anak, punya rumah, kendaraan bermotor dan banyak lagi sukses
yang mereka raih. Lantas mengapa mereka tidak mengisi formulir aplikasi
tadi dengan prestasi tersebut? Hal apa yang membuat mereka seperti
mengalami krisis kepercayaan diri? Sehingga tidak dapat menghargai apa
yang telah diperolehnya. Bagaimana orang lain dapat menghargai mereka,
sedangkan mereka tidak dapat menghargai diri sendiri? Lebih-lebih lagi
mampu membuat orang lain bangga, jika mereka tidak memiliki rasa
kebanggaan akan diri sendiri.
Rupanya hal ini dapat terjadi hanya karena sebuah hal sepele yaitu definisi.
Definisi prestasi
Mereka mendefinisikan prestasi
sebagai suatu hasil luar biasa dahsyat yang telah dicapai, sebuah
keberhasilan berstandard tinggi yang citranya hanya diperoleh
segelintir orang. Dengan kemampuan berpikir dan menilai, prestasi
diasumsikan sebagai kesuksesan dengan ukuran yang dipetakannya sendiri
berdasar penilaian luar selingkungannya (eksternal), bahkan meyakini
persepsinya yang belum tentu obyektif. Mereka membuat nilai teramat
tinggi dengan memaknai prestasi sebagai barang mewah dimana sedikit
orang saja yang sanggup menyandangnya. Sehingga saat perjuangannya
tidak berhasil menyentuh ambang batas dari definisi tersebut, akan
terjadi agresi yang meluluhkan keyakinannya.
Dari sini dapat muncul beberapa
masalah seperti rasa rendah diri (inferior), kurang percaya diri,
senang mengkritik hingga terus menyalahkan diri sendiri. Padahal dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia
sekalipun, prestasi hanya diartikan sebagai "hasil yang telah dicapai".
Dengan kata lain, apapun yang pernah kita ingin raih, baik benda
situasi atau kondisi, dan itu berhasil diperoleh, maka dapat dipastikan
itu adalah sebuah prestasi.
Prestasi tidak mengandung konotasi
negatif, artinya keberhasilan memiliki benda, situasi atau kondisi yang
diharapkan adalah semata untuk kebaikan, mengingat semua orang
mengharapkan dan berambisi menggapai hal-hal yang baik, meski
sedikitnya untuk diri sendiri.
Penulis pernah mewawancarai seorang
pelamar yang hanya berpendidikan SLTA (padahal syarat minimal yang
dibutuhkan adalah D3/Diploma), Dia mengisi form aplikasi dengan
berderet prestasi, yang sekilas adalah hal biasa, seperti : Lulus SD,
SMP & SMA, bekerja, membiayai sekolah adik, membantu orang tua dan
banyak lagi yang nampaknya kecil tanpa arti. Tapi sungguh luar biasa
kepercayaan dirinya dengan melamar posisi jabatan yang notabene
mensyaratkan latar belakang pendidikan di atas pendidikan formil yang
dimilikinya. Ketika hal tersebut ditanyakan padanya, Ia menjawab:
"Saya memang hanya lulus SMA, tapi
saya bangga lulus dari sana. Saya juga bangga dengan pekerjaan
administrasi yang saat ini saya geluti, karena saya yakin pekerjaan
saya sangat berarti dalam mendukung pekerjaan lain yang ujungnya
membantu perusahaan dalam memenuhi tujuannya. Lagipula pekerjaan yang
saya jalani dengan sungguh-sungguh, membawa dampak yang sangat berarti
bagi perkembangan diri saya. Dengannya (bekerja) saya bisa banyak
belajar, saya banyak memperoleh pengetahuan. Dengan bekerja
saya dapat bersosialisasi, mengembangkan identitas diri, meningkatkan
ketrampilan dan mengabdikan diri. Bekerja saya yakini sebagai cara saya
beribadah kepada Tuhan atau ungkapan rasa syukur karena dipercaya
melaksanakan sebuah amanah. Dari bekerja saya dapat memenuhi kebutuhan
diri sendiri, membantu orangtua, bahkan saat ini saya dapat membiayai
sekolah adik saya. Jadi, karyawan seperti itulah yang akan Bapak
(pewawancara/penulis) dapatkan dengan merekrut saya. Namun jika memang
pendidikan menjadi syarat mutlak, saya akan menerima penolakan dengan
lapang dada. Tidak akan saya merasa rendah diri apalagi menyalahkan
orang lain. Bagaimana Pak? Kapan saya bisa bergabung untuk bekerja di
perusahaan ini?"
Bagaimana
jawaban yang diberikan si pelamar tersebut? Hebat? Meski semua yang
dikatakan bukan sekedar hiperbola, tapi menurut saya biasa saja. Yang
luar biasa adalah kepercayaan dirinya yang tinggi. Kebanggaannya atas
prestasi yang telah dicapai itulah yang membuat saya mengambil
keputusan memberinya kesempatan bekerja.
Bila kita cermati, hal pokok yang dimiliki oleh si pelamar adalah tindakan dalam menggeser definisinya terhadap kesuksesan.
Menggeser definisi
Dengan
motivasi diri, sikap mental yang sehat ditambah berpikir positif,
sah-sah saja bila seseorang menargetkan titik sasaran dengan harapan
yang tinggi. Penulis pernah juga melakukan hal tersebut ketika
memutuskan untuk menulis.
Bertumpu
pada kekaguman atas karya sastra yang dibuat seorang Pramoedya Ananta
Toer, maka penulis memutuskan untuk menjadi seorang yang mampu
melahirkan tulisan sekelas beliau. Bahwa definisi seorang penulis
sukses adalah yang mampu membuat tulisan seperti yang diciptakan Mas
Pram (panggilan akrab Pramoedya Ananta Toer).Setelah
membaca begitu banyak buku-buku karyanya, saya mulai berlatih menulis
dan terus menulis hingga berbilang tahun. Namun sejalan dengan itu, tak
satu-pun tulisan yang saya buat dapat mendekati keindahan warna yang
harmonis dari tulisan Mas Pram, apalagi menyamainya. Kegagalan yang
terus menerus saya alami, menimbulkan pertanyaan kepada diri sendiri;
Apakah saya tidak berbakat menulis? Sedangkan saya memiliki dukungan
referensi yang jauh lebih baik dari yang dimiliki Mas Pram. Saya juga
menggunakan teknologi dan ketenangan hidup yang jauh lebih baik
darinya, mengingat sebagian besar waktu Mas Pram banyak dihabiskan di
penjara.
Lantas, apa
yang salah? Evaluasi diri secara obyektif sudah saya lakukan, berpikir
positif, hingga self affirmation berupa kata-kata yang membangkitkan
rasa percaya diri seperti: "Saya pasti bisa!", "Saya pasti berhasil!"
dan banyak lagi. Tetap saja tak satu-pun tulisan berhasil saya
tetaskan. Puncaknya kegagalan demi kegagalan mampu menggerus
kepercayaan diri saya hingga saya mengalami krisis kepercayaan diri.
Ujung-ujungnya, saya tidak menghargai segala usaha yang pernah saya
lakukan, terlebih lagi, tidak ada kebanggaan.
Untungnya,
kegagalan di sini bukanlah kematian. Kegagalan adalah sebuah penemuan
dan pelajaran berharga untuk melangkah kemudian. Setelah gagal merunut
tali-temali proses yang telah dijalani, saya melihat kesalahan justru
terjadi pada judul skenario kehidupan yang saya citakan, yaitu definisi
penulis sukses. Maka saya menggeser definisi tersebut, bahwa penulis
sukses adalah seseorang yang tidak pernah berhenti menulis untuk terus
menyumbangkan ide dari pikirannya untuk kemaslahatan dan perbaikan
hidup orang lain.
Seseorang
tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Tulisan yang saya
buat, mungkin tidak berarti sama sekali untuk sekelompok orang, basi
buat komunitas lain, tapi untuk segelintir orang yang baru atau terus
belajar, tulisan ini memiliki pencerahan tersendiri. Bukankah ilmu itu
akan hilang kalau kita tidak mengikatnya dengan tulisan? Meski belum
banyak ide dan pemikiran yang saya sumbangkan dalam bentuk tulisan,
tapi dengan tulisan yang dibaca banyak orang, saya sudah merasa sukses
sebagai penulis dengan definisi yang saya buat, setidaknya membawa
ketentraman dan kebahagiaan dalam bathin saya sendiri.
Perasaan ini
mendatangkan kebanggaan yang terus memompa semangat untuk melakukan
lebih. Tentunya definisi penulis sukses yang saya buat tidaklah statis.
Artinya, setelah meraihnya, saya akan kembali menggeser definisi
tersebut ke tingkatan di atasnya. Misalnya: Penulis sukses adalah
seseorang yang tulisannya telah dibukukan dan didistribusikan ke
pembaca. Hal ini memacu saya untuk terus menembus ambang batas definisi.
Persoalan
menggeser definisi terhadap sesuatu, juga dapat kita lakukan untuk
berbagai hal. Bisa kita lakukan untuk tujuan yang kita kejar, kondisi
yang kita alami, suasana hati yang kita rasakan atau segala sesuatu
yang kita miliki. Bukankah kata-kata "Kegagalan adalah sukses yang
tertunda" adalah sebuah penggeseran definisi? Lihat saja dalam kamus
bahasa Indonesia, gagal diartikan sebagai tidak berhasil atau tidak
tercapai, yang untuk sebagian orang, gagal berarti kalah; tamat atau
akhir.
Ide tulisan
ini lahir saat saya ikut terjun dalam kemacetan lalu lintas saat menuju
ke kantor. Definisi macet buat saya adalah barisan antrian, dimana
dapat saya lalui setelah tiba giliran. Memang kondisi macet tidaklah
menyenangkan, tapi apa definisi kita untuk kata "Senang"?
Relatifitas definisi
Telah
disinggung pada paragraf di atas mengenai definisi yang sifatnya tidak
statis, tidak absolut. Dengan kata lain, definisi yang diberikan
seseorang dan didukung orang banyak, bahkan disepakati untuk ditorehkan
pada buku atau kamus, bukanlah kebenaran mutlak. Artinya definisi
seseorang terhadap sesuatu dapat berbeda dengan definisi orang lain.
Hal ini juga menyebabkan perbedaan atas tindakan yang dilakukan.
Oleh
karenanya, buatlah sendiri definisi terhadap sesuatu, jangan sekedar
menelan mentah-mentah definisi yang dibuat orang lain. Kita memang
tidak dapat membuat definisi sesuka hati, lebih-lebih definisi yang
kita buat menyalahi makna dari sesuatu yang diartikan. Namun geserlah
definisi tersebut. Dengan berpikir positif, kita dapat menggeser sebuah
definisi menjadi kata yang mengandung arti positif. Tindakan yang akan
dilakukan kemudian, juga adalah perbuatan positif sebagai efek langsung
dari positifnya definisi yang dibuat. Tingkatkan kadarnya untuk sebuah
keberhasilan yang ditempuh, dengan menggeser kembali definisi pada
level di atasnya.
Definisi
saya terhadap pembaca adalah: orang yang mau dan terus belajar
meningkatkan perkembangan dirinya, juga memberikan pencerahan kepada
penulis melalui saran atau kritikannya.
Mari kita
mulai memeriksa ketepatan dari definisi terhadap sesuatu. Sudah
tepatkah definisi yang ada dengan perasaan, pikiran dan kondisi kita
masing-masing.
Jakarta, 29 Februari 2008
Mugi Subagyo
"Penulis
adalah praktisi SDM di perusahaan multinasional, pengamat Teknologi
Informasi, Graphic Designer, Senior di dunia percetakan dan pemerhati
Bahasa & Sastra Indonesia. Mugi dapat dihubungi melalui email:
mugisby@yahoo.co.id"
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Mugi Subagyo
|
 |
Keutamaan Ego Dan Menjadi Egois
|
 |
Hidup Bukanlah Sandiwara
|
 |
Menggeser Definisi
|
 |
Manisnya Pembalasan
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Keutamaan Ego Dan Menjadi Egois
(Artikel Anda) -
Sabtu, 22 Maret 2008
|
 |
Ratapan (curiga) Anak Tiri
(Artikel Anda) -
Minggu, 23 Maret 2008
|
 |
Belajar Dari Sebuah Pohon Tua
(Artikel Anda) -
Senin, 24 Maret 2008
|
 |
Temukan Asyiknya
(Artikel Anda) -
Selasa, 25 Maret 2008
|
 |
Tapi.......kenapa.......jangan
(Artikel Anda) -
Rabu, 26 Maret 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Diet Mental
(Artikel Anda) -
Kamis, 20 Maret 2008
|
 |
Beranikah Anda Sukses?
(Artikel Anda) -
Rabu, 19 Maret 2008
|
 |
Take And GiveAtaukahGive And Receive ?
(Artikel Anda) -
Selasa, 18 Maret 2008
|
 |
Mengelola Gaji Menjadi Bisnis
(Artikel Anda) -
Selasa, 18 Maret 2008
|
 |
Memandangi Lubang
(Artikel Anda) -
Minggu, 16 Maret 2008
|
|
|