Suatu hari saya sedang duduk di dekat sebuah warung Indomie. Saya memperhatikan cara kerja pegawai warungtersebut. Perlu diketahui, warung ini melakukan franchise dibawah keuangan satu keluarga. Jadi, warung Indomie ini ada di beberapa lokasi dengan pemilik satu orang. Setiap warung yang dikelola oleh orang lain diwajibkan membagikan keuntungan kepada pemilik.
Ada yang menarik disini, bahwa karyawan yang bekerja di warung ini pekerjaan sehari-hari hanya duduk nongkrong dan menanti pembeli. Sementara, karyawan satu lagi, setiap pagi pergi berbelanja kebutuhan warung. Jika karyawan sudah pulang dari pasar, maka mereka berdua menghitung hasil belanja dan mengisikan barang belanja pada lemari. Setelah itu, ya nongkrong lagi, terkadang sampai tertidur di tengah siang bolong nan panas terik.
Berbeda dengan satu keadaan yang lain, saya memperhatikan ada seorang wanita eksekutif yang begitu berlalu lalang dengan sang ekspatriat.
Mereka masuk ke dalam satu kafe donat, menikmati secangkir kopi sambil berdiskusi.
Suatu saat, saya bertemu kembali dengan wanita eksekutif ini tanpa sang ekspatriat dan ia menawarkan kerjasama dengan saya.
Dengan cara presentasi yang sangat meyakinkan dan pembagian keuntungan yang menggiurkan, saya hampir saja menerima penawaran kerjasama tersebut. Berhubung tidak diijinkan untuk membawa berkas penawaran kerjasama dan diharuskan hari itu juga untuk memberikan keputusan, maka saya menatap pada proposal tersebut dengan seksama.
Akhirnya, saya memutuskan bahwa saya menolak tawaran kerjasama tersebut.
Netter yang berbahagia,
Begitu banyak di sekeliling kita, orang-orang yang berjuang untuk memiliki pekerjaan tetap danuntuk mendukung kebutuhan sehari-hari.
Ada yang menanti dan ada yang mengejar.
Anjuran saya adalah :
1.Jika kita telah memiliki kapasitas untuk menjalankan usaha sendiri, gunakan kapasitas tersebut dengan sebaik mungkin dengan tanggung jawab moral yang baik.
2.Bekerja dengan ekspatriat, perlu dipelajari dengan seksama tentanglatar belakang ekspatriat tersebut. Adakah alasan yang relevan untuk bekerja sama dengan ekspatriat? Seringkali wanita yang bekerja dengan ekspatriat disebabkan wanita tersebut kecewa dengan pria Indonesia dalam hal cinta tetapi mendapat cinta yang mendahsyatkan dari sang ekspatriat. Mengapa para ekspatriat tidak bekerja sama dengan pria Indonesia? Apakah pria Indonesia tidak bisa berbahasa Inggris dengan lancar?
3.Bantulah negeri tercinta kita Indonesia, sebelum kita membantu bangsa lain. Yang pasti, usaha membantu negeri kita tidaklah sia-sia.
Semoga bermanfaat untuk para readers.
Salam Sukses,
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Debbie Sianturi
|
 |
Jauhi Makelar dan Tingkatkan Komunikasi
|
 |
Indonesia Sedang Sakit
|
 |
Kelemahan yang Harus Diatasi
|
 |
Bersuara Dan Temukan Suara Bagi Yang Lain
|
 |
Unconditional Love - Apakah Itu?
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Marilah Berbagi Kepada Sesama
(Artikel Anda) -
Selasa, 12Februari 2008
|
 |
No Commitment, No Success
(Artikel Anda) -
Rabu, 13 Februari 2008
|
 |
Buah Pada Pohon Keberhasilan Anda
(Artikel Anda) -
Kamis, 14 Februari 2008
|
 |
Melacak Jejak Para Peak Performers
(Artikel Anda) -
Jumat, 15 Februari 2008
|
 |
Yang Muda Yang Dipercaya
(Artikel Anda) -
Sabtu, 16 Februari 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Garis Kehidupan
(Artikel Anda) -
Jumat, 08 Februari 2008
|
 |
Bertumbuh Atau Membusukkah Kita ?
(Artikel Anda) -
Kamis, 07 Februari 2008
|
 |
Katakan Saja Tidak !
(Artikel Anda) -
Rabu, 06 Februari 2008
|
 |
Pertumbuhan Vs Kesempurnaan
(Artikel Anda) -
Selasa, 05Februari 2008
|
 |
Sikap Produktif - Bagaimana?
(Artikel Anda) -
Senin, 04 Februari 2008
|
|
|