Beberapa hari lalu rumahku
seperti kapal pecah. Bukan karena kelakuan anak kecil yang sering
memberantakkan rumah dengan aneka jenis mainan. Bukan juga karena pertengkaran
hebat dengan istri yang acapkali justru berujung pada rasa makin cinta. Namun,
kali ini yang membuat berantakan adalah tamu tak diundang.
Seperti biasa, pergi pagi,
pulang malam, demi status agar tak dicap pengangguran, membuat aku jarang di
rumah. Interaksi dengan tetangga pun hanya terjadi selintasan saat berangkat dan
pulang. Paling-paling kalau ada kerja bakti dan obrolan ringan sabtu dan minggu
pagi. Rutinitas itu sudah berjalan setahun lebih sejak aku ngontrak di sebuah
rumah sederhana, agar tak jauh dari mengantarkan isteri bekerja.
Rutinitas yang nyaman dan
menyenangkan. Sampai satu hari, aku mendapati rumahku berantakan saat aku
membuka kunci depan rumah. Buku-buku ditumpahkan begitu saja di lantai.
Laci-laci keluar dari raknya. Bahkan foto keluarga pun berserakan ke mana-mana.
Mirip film American Gangster yang barusan kutonton, saat sang tokoh menggeledah
seisi rumah. Hampir tak ada sudut rumah rapi yang bersisa.
Lemari dalam kamar
apalagi. Laci-laci yang biasa kugunakan menyimpan benda-benda bersejarah dalam
hidup-cincin kawin, perhiasan warisan orang tua dan mertua-ludes digondol
maling. Uniknya, sang maling tahu persis jam kosong di rumahku. Bahkan, jam
kosong di tetanggaku. Saat itu, memang ada penimbangan bayi di posyandu,
sehingga ibu-ibu yang biasa selalu nongkrong di sekitar rumah pergi ke penimbangan
semuanya. Mungkin, sang maling terinspirasi dengan film Ocean Thirteen, yakni
kisah maling kelas atas yang bekerja ala James Bond. Rapi, teliti, dan cermat
mengamati.
Sejenak, mendapati rumah
dalam kondisi seperti itu membuat batin terhenyak. Kaget. Tak sepatah kata
sempat terucap, kecuali satu, Innalillah. Semua milik Allah. Aku cuma punya
status peminjam. Dan, kata itu rupanya cukup sakti untuk menyadarkan aku dan
isteri yang sedikit syok akibat kasus ini.
Semua milik Allah dan akan
kembali kapanpun sang Khalik berkehendak. Siang sebelum kejadian, memang aku
melihat tayangan mantan Presiden di negeri ini dikubur rapi. Kali ini, yang
dikubur mungkin sejumlah kenangan aku pada cincin kawin yang dibawa lari
pencuri. Padahal, untuk sebuah cincin itu aku dulu rela utang ke sana kemari.
Saat kusadari semua milik
Allah, hati ini memang terasa lebih plong. Meski kehilangan, keikhlasan
berserah pada Illahi membuat malam penuh ketegangan itu berubah jadi malam
penuh pembelajaran, bahkan keindahan. Interaksi dengan tetangga yang hanya
rutinitas, berubah jadi lebih akrab. Kepedulian sesama orang rantau membuat
malam itu justru penuh canda tawa. Meski duka, hadirnya mereka membuat
kami-saya dan isteri-lega. Bahwa sang maling telah membawa kami pada suasana
keakraban antartetangga.
Belum lagi aksi sang
polisi. Mereka begitu peduli. Datang cepat begitu dipanggil dan beraksi
layaknya detektif. Sebuah drama detektif yang biasa hanya kubaca di novel atau
komik, kini kualami sendiri. Polisi yang biasa kubenci-karena berbagai kisah
sogokan yang kudengar-kini bisa tampil heroik di depanku. Sirna sudah kebencian
tak beralasan yang kupendam selama ini.
Kejadian malam itu sungguh
berbuah makna. Dari kehilangan, aku justru mendapat banyak hal yang nilainya
jauh dari ukuran materi. Kupeluk isteriku dengan hangat. Ketentramkan dengan
sapuan sapu tangan pada air matanya. Malam itu, selepas semua tetangga kembali
ke rumah masing-masing untuk pergi istirahat, aku merasakan, inilah pelukan
paling hangat yang kurasakan selama ini.
Terima
kasih wahai maling. Kau telah sadarkan arti kebahagiaan sesungguhnya. Bagi Anda
sang pencuri, ingat juga satu hal ini. Semua milik Allah. Apapun yang berhasil
kau curi, mungkin suatu saat akan kembali jika sang Khalik menghendaki. Bahkan,
bisa jadi, jika tak hati-hati, nyawamu pun mungkin bisa diambil, saat sedang asyik
beraksi. Bertobatlah sebelum Allah yang bertindak...
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Agoeng Widyatmoko - Konsultan independen usaha kecil (UKM)
|
 |
Jangan Kebanyakan Mimpi
|
 |
Jangan Remehkan Peluang Sekecil Apapun
|
 |
Untung Besar Atau Untung Berlipat?
|
 |
Mendingan Terjun Ke Bisnis Apa Ya?
|
 |
Atur Doong Keuangan Kita...
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Belajar Dari Penjual Koran
(Artikel Anda) -
Jumat, 01 Februari 2008
|
 |
Miracle Of Love
(Artikel Anda) -
Minggu, 03 Februari 2008
|
 |
Sikap Produktif - Bagaimana?
(Artikel Anda) -
Senin, 04 Februari 2008
|
 |
Pertumbuhan Vs Kesempurnaan
(Artikel Anda) -
Selasa, 05Februari 2008
|
 |
Katakan Saja Tidak !
(Artikel Anda) -
Rabu, 06 Februari 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Ulang Tahun Yang Berkesan
(Artikel Anda) -
Kamis, 31 Januari 2008
|
 |
Menemukan Peluang Di Tengah Tantangan - 2
(Artikel Anda) -
Selasa, 29 Januari 2008
|
 |
Kerja Keras Vs Kerja Cerdas - 2
(Artikel Anda) -
Minggu, 27 Januari 2008
|
 |
Kisah Sekelompok Serigala
(Artikel Anda) -
Sabtu, 26 Januari 2008
|
 |
Penyu Atau Ayam ?
(Artikel Anda) -
Jumat, 25 Januari 2008
|
|
|