Cepat dan Radikal

Jumat, 7 Oktober 2011
Mereka yang masuk ke cracking zone harus cepat beradaptasi dan bergerak radikal agar tidak terjepit pada retakan yang terbuka hanya sebentar dan dinamis. (Rhenald Kasali)


Cepat dan Radikal merupakan dua kata yang relevan untuk dibahas terutama bila sudah menyangkut strategi, manajemen, inovasi, kepemimpianan, dan kewirausahawan.

 

Tanpa bermaksud mengeneralisasi semua keadaan, mengantisipasi setiap perubahan dengan Cepat dan Radikal merupakan suatu keniscayaan dalam dunia kita dewasa ini. Tingginya tingkat persaingan, teknologi yang berkembang sangat dahsyat, perubahan lingkungan, tuntutan pasar dan perubahan gaya hidup masyarakat yang serba digital merupakan beberapa contoh dari hal-hal yang perlu kita antisipasi dengan baik.


Kenapa harus CEPAT? Perubahan yang diantisipasi dengan perlahan bahkan sangat lambat akan menyebabkan kita kehilangan momentum. Ketika kita bergerak, maka pihak lain pun dapat melakukan hal yang sama dengan apa yang kita lakukan. Maka, kecepatan adalah salah satu competitive advantage yang perlu kita bangun.


Dulu, orangtua kita selalu mengajarkan "biar lambat asal selamat" atau "pelan-pelan saja, yang penting kualitas bagus". Paradigma sekarang sudah berubah. Saat ini, kita dituntut untuk cepat dan juga selamat, atau cepat dan kualitas juga baik.


Apa yang terjadi di XL dapat kita jadikan suatu contoh. Dalam waktu singkat sejak menempati posisi sebagai President Direktur, Hasnul Suhaimi berhasil menempatkan XL menjadi posisi nomor dua operator telekomunikasi di Indonesia. Dulu hal ini dianggapnya sebuah mission impossible karena di atas mereka telah bertengger operator papan atas yaitu Telkomsel dan Indosat dengan coverage dan kualitas jaringan yang jauh lebih unggul.


Salah satu kunci evaluasinya adalah mengenai SDM. SDM di XL selama ini dianggapnya terlalu fokus pada dirinya sendiri (inward looking) dan kurang berorientasi pada pelanggan (customer oriented). "Mereka terlalu intens bergaul ke dalam dan terbelenggu oleh bayang-bayang kebesaran dan keberhasilan di masa lalu. Apalagi kalau mereka sudah bicara \'dulu\', seakan akan masa depan atau hari ini tidak seindah waktu itu. Ini tentu membutakan semangat adaptasi. Dalam bahasa perubahan disebut blinded by own light." Demikian Hasnul menjelaskan kondisi pada masa itu.

 

Di samping itu, SDM di Excelcomindo pada saat itu juga banyak yang tidak memperhatikan gejala-gejala perubahan diluar, apa yang dilakukan operator lain, perubahan kebutuhan pelanggan, perubahan teknologi, dsb. Walaupun sebenarnya kualitas SDM di XL cukup baik, namun mereka dianggapnya terlalu "asyik" dengan masa lalu dan terjebak dalam comfort zone.

 

Contoh lain adalah perusahaan Apple. Dengan kecepatan inovasinya, Apple berhasil membangun product leadership dengan pertama kali melaunching komputer tablet iPad. Walaupun saat ini sudah banyak bermunculan merk lain yang mengeluarkan produk serupa, namun sampai saat ini market share komputer tablet masih didominasi oleh perusahaan yang dibidani oleh Sang Inovator Steve Jobs tersebut. Dengan kecepatan inovasinya, Apple berhasil meraih momentum sehingga produknya selalu dibanjiri pelanggan.


Lalu kenapa harus RADIKAL? Lingkungan kita, pelanggan kita, orang-orang di sekitar kita menunggu langkah yang nyata dan jelas. Perubahan yang dilakukan secara perlahan akan kurang dirasakan dampaknya oleh sasaran yang kita tuju. Akibatnya mereka mungkin akan mengalihkan dukungan kepada perusahaan/pihak lain yang dianggapnya lebih nyata tindakannya. Perubahan tidak akan berpihak pada kita. Oleh karena itu keberanian mengambil tindakan dan melakukan breakthrough (langkah-langkah terobosan) adalah dua hal yang sangat penting dalam kondisi di atas.


Contoh lain diperlukannya perubahan radikal adalah mengenai situasi kemacetan di Jakarta. Menurut data dari dinas perhubungan, jumlah kendaraan baru di Jabodetabek bertambah sekitar 2.027 unit per hari (mobil 320 unit dan motor 1.707). Dalam persentase, kenaikan jumlah kendaraan rata rata sekitar 9,5 persen per tahun. Sementara pertumbuhan jalan hanya 0,01 persen per tahun. Andaikata tidak ada langkah langkah radikal dari Pemda DKI untuk mengatasi masalah ini, maka diperkirakan Jakarta akan mengalami situasi stuck (macet total) di semua badan jalan mulai tahun 2014 karena jumlah luas kendaraan di jalan akan sama dengan luas jalan pada saat itu.


Namun demikian, perubahan secara cepat dan radikal ini memerlukan suatu perencanaan yang baik, formulasi strategi yang matang, serta perlu mempertimbangkan kalkulasi terhadap aspek risiko (risk management) yang ada. Di samping itu, komitmen yang kuat terhadap perubahan adalah faktor kunci yang harus muncul dari seorang leader.


Salam Perubahan!


Nasrul Chair
www.nasrulchair.com