Cangkir

Minggu, 8 April 2007

Seorang beralamat email gunawan mengirim ke sebuah milis, sebuah tulisan yang ringan tapi cukup dalam tentang seorang profesor yang dikunjungi oleh para mantan mahasiswanya:
Menawari tamunya kopi, dengan membawa poci besar berisi kopi dan cangkir berbagai jenis - dari porselin, plastik, gelas, kristal, gelas biasa, dan mengatakan pada para mantan mahasiswanya untuk menuang sendiri kopinya.

Setelah semua mahasiswanya mendapat secangkir kopi di tangan, professor itu mengatakan : "Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang indah dan mahal telah diambil, yang tertinggal hanyalah gelas biasa dan yang murah saja. Meskipun normal bagi kalian untuk mengingini hanya yang terbaik bagi diri kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber masalah dan stress yang kalian alami."

"Pastikan bahwa cangkir itu sendiri tidak mempengaruhi kualitas kopi. Dalam banyak kasus, itu hanya lebih mahal dan dalam beberapa kasus bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah kopi, bukanlah cangkirnya, namun kalian secara sadar mengambil cangkir terbaik dan kemudian mulai memperhatikan cangkir orang lain."

"Sekarang perhatikan hal ini : Kehidupan bagai kopi, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkirnya. Cangkir bagaikan alat untuk memegang dan mengisi kehidupan. Jenis cangkir yang kita miliki tidak mendefinisikan atau juga mengganti kualitas kehidupan yang kita hidupi. Seringkali, karena berkonsentrasi hanya pada cangkir, kita gagal untuk menikmati kopi yang di sediakan bagi kita."

Kita memasak dan membuat kopi, bukan cangkirnya. Jadi nikmatilah kopinya, jangan cangkirnya.

Selama ini saya selalu tahu bahwa sukses itu adalah karir, uang, harta, gengsi dan posisi. Mungkin begitu pula dengan Anda. Sehingga saya dan (mungkin) Anda tidak dapat menyelami makna terdalam dari hidup.

Begitulah cara beberapa orang memandang hidup. Hidup perlu dipandang dengan memperhatikan indikator. Tetapi indikator yang ada mungkin sedemikian banyak. Sebuah mobil saja menyediakan lebih dari 5 indikator yang perlu diperhatikan oleh orang yang mengemudikannya.

Hal yang paling sering dilupakan adalah bahwa ada indikator yang paling dalam dari sesuatu. Sementara indikator yang lain tidak begitu penting. Sama persis seperti kopi. Memang sangat menyenangkan minum kopi yang enak, harum dan diminum dengan cangkir yang indah dan cukup besar.

Ketika kita ingin memandang kehidupan kita, ada karir, uang dan posisi dalam masyarakat yang menjadi cangkir kopi kita. Tetapi bagaimana kita mendapatkan karir, uang dan posisi lah yang menjadi kopinya. Benarkah Anda mendapatkannya dengan cara yang halal? Apakah ada orang yang harus Anda jatuhkan ketika Anda berusaha mendapatkan tiga hal tadi?


Karena ketika ada orang yang secara sengaja Anda jelek-jelekkan atau Anda ungkap kejelekan mereka ketika Anda bersaing menduduki sebuah posisi, maka mereka akan menderita karena tindakan Anda.

Begitu pula ketika Anda mendapatkan uang. Katakanlah Anda mendapatkan uang dari sebuah transaksi dagang. Benarkah orang itu telah mendapatkan barang atau jasa dari Anda yang menurut standar umum memang senilai uang yang Anda minta dari dia? Atau benarkah jasa yang Anda lakukan kepada orang itu memang menurut standar umum pantas untuk diberi bayaran?

Termasuk posisi di masyarakat. Bila Anda merekayasa opini melalui berbagai media, termasuk ketika Anda sedang bertikai, dan menyebabkan posisi Anda di masyarakat menjadi naik, Anda perlu pertimbangkan kembali.
Maka ketika Anda minum kopi, pertimbangkanlah kopinya bukan cangkirnya.

Ketika Anda mendapatkan karir, uang atau posisi di masyarakat pertimbangkan apakah hidup Anda memang sudah dijalankan dengan baik, bukan dengan membuat orang lain menderita.

Benar bahwa mungkin Anda bangga dengan apa yang Anda dapatkan, tetapi benarkah hati Anda menjadi tenang? Benarkah Sang Pemilik Hidup senang dengan perbuatan Anda?

Pilihan hidup ada di tangan Anda.

Ardian Syam
Email: ardian.syam@gmail.com

Terbaru