Berita / Sport Corner

Dream Team

Senin, 27 November 2006

Suatu waktu, saya asyik menyimak sebuah buku karangan Captain Bob. Dalam waktu singkat, saya langsung terpikat dengan gagasan Captain Bob mengenai tim impian atau dream team. Konon seekor kuda mampu menarik beban seberat dua ton. Sekali lagi, hanya dua ton.

Saya uji Anda dengan pertanyaan, berapa ton yang mungkin diangkut oleh dua ekor kuda? Empat ton? Enam ton? Atau sepuluh ton? Anda salah! Percaya atau tidak, ternyata dua ekor kuda sanggup menyeret beban seberat 23 ton! Menurut saya, di situlah letak keampuhan dream team (Istilah yang sama juga melekat pada tim basket Amerika yang bertanding di Olimpiade).

Fenomena tersebut hendaknya diteladani oleh tim pemasaran di setiap perusahaan. Di mana sesama pemasar sejatinya menjunjung tinggi asas kebersamaan serta asas manfaat antara satu sama lain. Bukankah begitu? Tetapi sepengetahuan saya, kebanyakan tim pemasaran adalah kumpulan individu yang saling sikut, saling menelikung dan saling menjelek-jelekkan. Pokoknya, sangat tidak kompak!

Coba bayangkan yang sebaliknya! Salesman Andi berkomentar tentang rekannya di hadapan prospek, "Saya salut dengan Bobby, Pak! Setiap kali bertemu dengan pelanggan, ia senantiasa menunjukkan sikap empati." Sementara salesman Bobby berbicara soal Andi di depan prospek yang lain, "Wah, saya kagum pada Andi, Bu! Dia memiliki komitmen yang total terhadap pelanggan."

Lha, apa yang kemudian yang terjadi? Saya jamin catatan penjualan mereka berdua akan meroket melampaui kolega-kolega mereka yang saling menjelek-jelekkan. Kok bisa? Jawabannya, promosi silang yang mereka lakukan. Dalam MLM, inilah yang diistilahkan dengan edifikasi (endorsement). Yah, bukan rahasia lagi, penjualan dari satu grup sangat bergantung pada tingkat edifikasi sesama anggota di grup tersebut.

Memang, pelanggan sangat tertarik untuk mendengar gosip (Anda juga 'kan?). Itu sih lumrah. Tetapi percayalah, pelanggan sama sekali tidak tertarik untuk membeli dari salesman yang melontarkan kata-kata negatif tentang rekannya sendiri (Anda juga 'kan?).

Larry Lange dalam buku The Beatles Way menuturkan, kendati kepemimpinan Beatles beralih dari John Lennon ke Paul McCartney, toh Paul tidak merasa gengsi untuk mengakui, "Saya selalu mengidolakan John." Sedangkan personil Beatles yang lain -Ringo Starr- sempat berujar, "John seperti Elvis kecil bagi kami. Kami akan terus menghormatinya."

Thus, ucapan-ucapan seperti itulah yang kian mengharumkan nama Beatles. Sungguh, mereka adalah dream team. Sejarah pun merekam, secara internal mereka tak terpisahkan dan secara eksternal mereka tak terkalahkan, selama puluhan tahun! Fantastis 'kan?

Dalam membangun usaha, saya juga sangat mengandalkan dream team. Harap maklum, saya adalah jenis orang yang menganut, lebih baik mengantongi pendapatan 30% dari banyak bisnis, daripada meraup pendapatan 100% dari satu bisnis. Sedangkan untuk merambah berbagai bisnis, tak pelak lagi saya meniscayakan dream team. Tidak bisa single fighter.

Selain itu, dream team juga bisa dijadikan 'kavling' untuk saling curhat, menularkan motivasi, mengungkit potensi dan berbagi nasehat. Dan sosok-sosok yang tergabung dalam dream team Anda adalah orang-orang yang paling tepat untuk Anda ajak merayakan kemenangan Anda. Apa Anda mau merayakan kemenangan Anda sendiri? Lha, apa serunya? Akhirnya, Captain Bob kembali wanti-wanti, sudahkah Anda menggandeng dream team untuk bisnis atau karir Anda.

Ippho Santosa adalah pembicara seminar, produser Andalus, dan penulis Qalbu Marketing (Bersama Aa Gym)




Terbaru