Membangun kekayaan mental manusia Indonesia demi kehidupan yang lebih bernilai.

50 Tahun Salah Paham

Dikisahkan, di sebuah gedung pertemuan yang amat megah, seorang pejabat senior istana sedang menyelenggarakan pesta ulang tahun perkawinannya yang ke-50. Peringatan pernikahan emas itu ramai didatangi oleh tamu-tamu penting seperti para bangsawan, pejabat istana lainnya, para pedagang besar, serta seniman-seniman terpandang dari seluruh pelosok negeri itu. Bahkan kerabat serta koleganya dari kerajaan-kerajaan tetangga juga ikut hadir. Pesta ulang tahun perkawinan itu berlangsung begitu megahnya dan sangat meriah.

Setelah berbagai macam hiburan ditampilkan, sampailah pada puncak acara, yaitu jamuan makan malam. Sebelum menikmati jamuan makan malam, seluruh hadirin mengikuti upacara penyerahan hidangan istimewa dari sang pejabat istana kepada istri tercinta. Hidangan itu tak lain adalah sepotong ikan mas yang diletakkan di sebuah piring besar yang cantik.

”Hadirin sekalian, ikan mas bukanlah ikan yang mahal. Tetapi, inilah ikan kegemaran kami berdua, sejak kami menikah dan belum punya apa-apa, sampai pada usia perkawinan kami yang ke-50 dan dengan segala keberhasilan ini. Ikan mas ini merupakan simbol kedekatan, kemesraan, kehangatan, dan cinta kami yang abadi,” kata sang pejabat senior itu dalam pidato singkatnya.

Tibalah detik-detik yang istimewa itu. Para hadirin tampak dengan khidmat menyimak prosesi tersebut. Pejabat senior istana itu mengambil piring kecil, lalu memotong bagian kepala dan ekor ikan mas tadi. Lalu dengan senyum mesra dan penuh kelembutan, ia berikan piring berisi potongan kepala dan ekor ikan mas tadi kepada istrinya. Ketika tangan sang istri menerima piring kecil itu, serentak hadirin bertepuk tangan dengan meriah sekali selama beberapa saat. Mereka tampak ikut terbawa oleh suasana romantis, penuh kebahagiaan, sekaligus mengharukan tersebut.

Namun tiba-tiba suasana menjadi hening dan senyap. Hanya terdengar samar-samar isak tangis dari sang istri pejabat. Sesaat kemudian, isak tangis itu meledak dan memecah kesunyian gedung pesta. Para tamu yang semula ikut tersenyum bahagia mendadak terdiam menunggu apa gerangan yang akan terjadi. Sang pejabat tampak kikuk dan kebingungan. Lalu ia mendekati istrinya dan bertanya, “Mengapa engkau menangis seperti itu?”

Setelah reda menangis, sang istri pun menjelaskan. ”Sudah 50 tahun usia pernikahan kita. Selama itu aku telah dengan setia melayanimu dalam suka dan duka tanpa pernah mengeluh. Demi kasihku kepadamu, aku telah rela selalu makan kepala dan ekor ikan mas selama 50 tahun. Tapi sungguh tak kusangka, di hari istimewa ini engkau masih saja memberiku bagian yang sama. Ketahuilah, itulah bagian yang paling tidak aku sukai,” tutur sang istri.

Pejabat senior itu terpana sesaat. Lalu dengan mata yang berkaca-kaca pula, ia berkata kepada istrinya, ”Istriku tercinta, 50 tahun yang lalu saat aku masih belum mampu secara ekonomi, kamu bersedia menjadi istriku. Aku sungguh bahagia dan sangat mencintaimu. Sejak itu aku bersumpah pada diriku sendiri, bahwa seumur hidup aku akan bekerja keras, membahagiakanmu, membalas cinta kasih dan pengorbananmu.”

Sambil mengusap matanya, pejabat senior itu melanjutkan, “Setiap kali makan ikan mas, bagian yang paling aku sukai adalah kepala dan ekornya. Tapi sejak kita menikah, aku rela menyantap bagian tubuh ikan mas itu. Semua kulakukan demi komitmenku untuk memberikan yang paling berharga buatmu.”

Sang pejabat terdiam sejenak. Lalu ia melanjutkan lagi, “Walaupun telah hidup bersama selama 50 tahun dan selalu saling mencintai, ternyata kita tidak cukup saling memahami. Maafkan aku, hingga detik ini belum tahu bagaimana cara membuatmu bahagia.” Akhirnya, ia memeluk istrinya dengan erat. Tamu-tamu undangan pun tersentuh hatinya dan kemudian bersulang untuk menghormati sang tuan rumah.

Sahabat Luar Biasa,

Sepasang suami istri yang saling mencintai dan hidup serumah selama bertahun-tahun lamanya, tetapi tidak ada saling keterbukaan dalam komunikasi, maka apa yang kelihatan sebenarnya semu belaka. Mungkin karena khawatir bisa menyinggung atau menyakiti perasaan orang yang dekat dengan kita, maka yang dianggap ketidakpuasan biasanya tidak diungkapkan.

Sesungguhnya kebiasaan seperti ini cukup berisiko. Kalau perbedaan tetap disimpan sebagai ganjalan di hati, tidak pernah dibicarakan secara tulus dan terbuka, maka tumpukan perbedaan dan ketidakpuasan itu bisa tak tertahankan dan akhirnya meledak. Jika keadaan sudah seperti ini, tentulah luka yang ditimbulkan oleh konflik itu bisa lebih menyakitkan.

Melalui kisah ini, saya mengingatkan supaya kita selalu membangun pola komunikasi—baik dalam keluarga, bisnis, dan lainnya—yang terbuka. Landasi dengan kejujuran, kepercayaan, pengertian, dan kebiasaan berpikir positif. Setiap orang hendaknya menyadari pentingnya komunikasi, peran dan fungsinya dalam kehidupan sosial, kemudian bersama-sama berusaha mencapai tujuan.

Jika kita berhasil membangun kebiasaan komunikasi yang terbuka, akan banyak persoalan seperti ketidakpuasan, dendam, dan pertengkaran yang dapat dicairkan atau diselesaikan lebih dini. Dengan cara itu juga, banyak persoalan tidak akan melebar. Hasilnya adalah rasa nyaman, tenteram, dan bahagia.

Salam sukses luar biasa!

Spread the love

Leave a Comment