Membangun kekayaan mental manusia Indonesia demi kehidupan yang lebih bernilai.

Yongki Komaladi: Ada Doa di Tiap Pasang Sepatu

Berani menggebrak pasar dengan namanya sendiri, Yongki Komaladi kini menjadi salah satu merek sepatu dan sandal lokal yang mampu bersaing. Rahasianya, ternyata terletak pada doa.

Cobalah tengok di hampir semua mal yang ada di seluruh Indonesia. Saat masuk ke konter sepatu dan sandal, hampir bisa dipastikan ada merek Yongki Komaladi di sana. Bahkan, tak jarang merek asli Indonesia ini berdampingan dengan merek-merek luar yang sudah tak asing lagi. Namun, merek ini tetap mampu “percaya diri”. Dan hasilnya, memang bukan sekadar “mejeng” di toko. Produknya laris manis.

Padahal, bisa dikatakan, sang pemilik usaha—yang memiliki nama sama dengan mereknya—Yongki Komaladi ini, memulai semua dari nol, sekitar dua dekade lalu.

Ia mengawali berbisnis sepatu nyaris tanpa rencana. Kala itu, ia bekerja di sebuah Departement Store. Atasannya mengeluhkan kurangnya stok sepatu dan ia “ditantang” untuk memenuhi. “Mengetahui latar belakang saya yang 10 tahun jadi peragawan, saya ditawari mendesain sepatu dan sekaligus membuatnya. Saya pikir, kenapa tidak dicoba? Toh, saya juga senang menggambar dan mengikuti tren mode. Karena membutuhkan merek, atasan saya minta agar memakai nama saya saja,” kisahnya mengingat-ingat awal kiprahnya, saat wawancara dengan majalah motivasi LuarBiasa, yang pernah saya terbitkan.

“Awalnya saya tidak percaya diri, rasanya agak aneh. Nama Yongki mungkin saja masih oke. Tapi, tambah Komaladi? Panjang sekali. Tapi ada teman yang mengatakan, kenapa tidak dicoba. Lantas, saya kerjakan sungguh-sungguh, sembari berpromosi bahwa inilah produk Indonesia. Saya juga kerja sama dengan banyak rekan saya yang orang-orang fashion,” ujarnya berkisah.

Menurut pria kelahiran 8 Agustus ini, ia berhasil mendobrak dominasi produk asing karena selalu menjaga kualitas dan berani tampil beda. Dan, ada satu hal lagi yang barangkali tidak banyak orang tahu. Yakni, ia dan semua pekerjanya, saat mengerjakan sepatu dan sandal, selalu “diwajibkan” untuk mengawali dengan doa. Doa yang dipanjatkan pun tak main-main. Setiap orang yang membeli produknya, selalu didoakan agar selalu penuh berkah, dimudahkan jalannya, banyak rezeki, sehat, dan bahagia. “Doa itu, orang nggak perlu tahu, tapi biasanya kalau orang pakai itu pasti nyaman,” sebut pria yang selalu bersemangat saat menceritakan kisah hidupnya ini. “Dan, saya memang selalu menekankan, kalau tujuan kita baik, pasti Tuhan tidak akan menutup mata.”

Mungkin sedikit di luar kelaziman. Tapi, itulah sosok Yongki yang memang berani tampil beda. Dan, barangkali, itu jugalah yang menjadikan ia mampu mendobrak pasar. “Dengan desain yang dianggap ‘aneh’, beberapa kali UKM yang saya ajak kerja sama malah complain. Kata mereka, karena nggak lazim, pasti nggak laku. Tapi saya lihat, model-model yang seperti itu di Eropa banyak yang pakai. Jadi saya tetap coba aplikasikan,” sebutnya. “Sesuatu yang beda itu kemungkinannya hanya dua. Kalau tidak konyol, malah menarik. Dan surprise-nya, itu kebanyakan ‘jalan’ kok.”

Apalagi, dengan dilandasi oleh doa, ia yakin produknya bisa diterima pasar. Meski begitu, ada pula produknya yang kurang diterima oleh pasar. Biasanya setelah beberapa lama akan dijual dengan potongan harga.

Bicara soal pasar sepatu lokal, Yongki mengatakan bahwa semua itu sebenarnya tergantung pada pola pikir. Menurutnya, masyarakat Indonesia itu cukup konsumtif. Jadi, jika mau menggali segala potensi yang ada, banyak peluang yang bisa jadi jalan sukses untuk berbisnis. “Saya bisa katakan, kalau kreatif, pasti banyak hal yang bisa dilakukan”.

Namun, untuk mencapai itu semua, ia mengaku selalu belajar dari banyak hal. Misalnya, saat masih jadi seorang peragawan di tahun 1981 hingga 1992-an, ia mengawalinya juga dengan belajar. Selain memamerkan produk di area catwalk,  ia membantu para desainer tadi sebagai asisten, mulai dari mengadakan show, menjadi koreografer, sampai negosiasi harga. Kemudian ketika memutuskan mundur pelan-pelan dari dunia model, Yongki yang kemudian bekerja di Department Store, juga meneruskan pembelajarannya. “Di sana saya belajar men-display, mendesain, karena saya senang dan saya ingin belajar. Jadi, saya nggak ingin sekadar kerja, ini kesempatan saya untuk tahu banyak.”

Jiwa seni dan pola pikir kreatifnya, serta dibungkus oleh kemauan belajarnya itulah yang membuat Yongki mampu terus bertahan. Termasuk, belajar dari kegagalan dan kisah-kisah kurang menyenangkan yang pernah dialaminya. Sebagaimana tipikal orang berbisnis, selalu saja ada kendala yang dihadapi. Yongki mengenang, kala ia sudah mulai jualan sepatu, ia pernah membuat satu jenis sepatu berujung lancip yang sempat ditertawakan karena bentuknya dianggap tidak lazim. Tapi ternyata, saat dititipkan di salah satu butik terkenal, butik itu malah jualan sepatu dengan bentuk sangat mirip dan harga lebih murah. “Tapi, saya menghibur diri karena lima pasang sepatu akhirnya laku dibeli pengunjung. Menjelang Lebaran, sepatu yang lain laris manis terjual. Rasanya senang sekali, meski penghasilan saya menurun dibanding saat menjadi model,” kenangnya.

Kemudian, saat tahun 1997, saat krisis ekonomi mulai melanda, bayangan kesulitan menjual barang terjadi di mana-mana. Banyak pengusaha yang gulung tikar. Namun, di sinilah tantangan dihadapi oleh pria bernama asli Kwok Joen Sian ini. “Saya lantas mengajak kerja sama para perajin Usaha Kecil Menengah (UKM) yang ada di Bandung. Mereka mampu memproduksi 100 pasang dalam satu minggu dengan bahan baku impor dan lokal berkualitas, serta harga yang tetap terjangkau,” paparnya. “Karena saat itu saya terus produksi, orang punya pikiran sepatu yang lengkap, ya di Yongki. Itu yang membuat orang kembali lagi.”

Bukan sekali dua kali, Yongki mengalami berbagai kendala. Pernah pula, ia punya toko di Makassar yang saat hendak buka, malah kebakaran. Namun semua itu malah jadi pembelajaran untuk bersikap lebih berhati-hati.

Kini, dengan berbagai kesuksesan dan pembelajaran yang didapatnya, Yongki juga rajin berbagi ilmu, terutama untuk UKM yang jadi mitra binaannya. “Saya ajarkan pada mereka, bahwa sampai kapan pun kita tidak akan dikenal kalau kita tidak coba kenalkan diri kita. Tunjukkan diri kamu, banyak juga yang suka dengan kesederhanaan kok, maka, jadilah diri sendiri,” terangnya, “Hanya saja, banyak yang maunya instan. Karena itu, saya ajarkan mereka menikmati proses. Pelan-pelan, saya anjurkan untuk membangun image baru, tumbuhkan dengan kepercayaan diri sendiri, landasi dengan doa, pasti nanti jadi menarik. Bisa nggak bisanya tergantung, siap tahan mental atau nggak. Ini zaman globalisasi, jangan takut!”

Spread the love

Leave a Comment